Satu Islam Untuk Semua

Monday, 04 April 2016

Said Agil Siradj: Ada Pihak Ketiga di balik Konflik Iran-Saudi


2016-04-04

Konflik antara Iran dan Arab Saudi beberapa tahun terakhir telah menimbulkan banyak konsekuensi serius bagi kawasan Timur Tengah secara khusus dan dunia Islam secara umum. Dampak paling mencolok dari konflik yang murni bersifat geopolitik itu adalah munculnya ketegangan antara pendukung dua kubu yang berasal dari dua mazhab yang berbeda.

Suasana ketegangan di antara kedua penganut mazhab Sunni dan Syiah di Indonesia juga merupakan bagian dari konsekuensi dari konflik nun jauh di sana. Publik luas dapat mencermatinya dari semaraknya saling tuding di dunia maya antara pendukung kedua negara Timur Tengah tersebut. Yang satu menyalahkan yang lain dan bahkan meremehkan dan mencela.

Namun demikian, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH Said Agil Siradj, dalam sebuah wawancara dengan TVOne beberapa waktu lalu menegaskan bahwa konflik kedua negara itu sebetulnya murni bersifat politik. Penegasan ini sebenarnya selaran dengan penegasan banyak sekali pengamat dan tokoh Timur Tengah yang menyatakan hal serupa.

Pergeseran konflik yang sejatinya politik menjadi konflik mazhab ini patut disesalkan. Bukan mustahil upaya ini datang dari salah satu pihak yang merasa lebih lemah untuk memobilisasi dukungan luas dalam rangka memperkuat posisinya di hadapan lawan politiknya. Sikap serupa sebenarnya cukup banyak kita saksikan di dalam negeri, yakni ketika salah satu seteru politik yang lebih lemah dari sisi modal politik dan sosial menarik masalah ke urusan agama atau mazhab dalam rangka menutupi kelemahan-kelemahannya di sisi yang semestinya menjadi fokus pertarungan.

Lebih lanjut, menurut pria yang akrab disapa Kang Said ini, jika konflik yang ada masih di sekitar urusan mazhab pemikiran dalam Islam, maka persoalannya lebih mudah untuk dicairkan. NU pernah berhasil meredakan konflik Sunni-Syiah di Irak dan mendapatkan hasil yang positif. Namun, jika benturannya sudah bersifat politk, maka persoalan akan lebih runyam.

2016-04-04 (1)

Menurut Kang Said, benturan Sunni-Syiah di beberapa negara yang muncul akibat konflik Iran-Saudi juga tak lepas dari provokasi pihak ketiga, yakni Amerika. Tujuannya adalah untuk mengalihkan energi dan perhatian umat Islam dunia yang semula terfokus menghadapi kekejaman Israel menjadi sibuk dengan konflik internal umat Islam.

Kyai Said lantas menekankan pentingnya soliditas Umat Islam Indonesia dalam melawan setiap upaya kelompok radikal yang ingin mengimpor konflik Timur Tengah ke tanah air. Dia malah mengharapkan agar model Islam Indonesia yang moderat dan toleran bisa diekspor dan disosialisasikan ke Timur Tengah. Islam Indonesia, menurut Kang Said, sudah berhasil mendamaikan dan menyatukan agama dengan nasionalisme sehingga siap menerima perbedaan-perbedaan yang ada dalam konteks berbangsa dan bernegara.

 

AJ/Islam Indonesia/Sumber: TVOne (Apa Kabar Indonesia, Pagi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *