Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 21 January 2018

Robi Sugara Tentang Perang Yaman: “Diamnya Muslim Dunia”


Robi Sugara, Photo: Instagaram @rsugara

islamindonesia.id — Robi Sugara Tentang Perang Yaman: “Diamnya Muslim Dunia”

 

 

Tidak seperti isu Palestina misalnya, ketika Amerika Serikat (AS) mengumumkan perpindahan Ibu Kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, negara-negara Islam dan juga bahkan mayoritas negara lainnya ramai-ramai mengecam dan menolak rencana AS tersebut. Padahal Yaman sendiri telah mengalami perang besar hampir selama tiga tahun, namun perhatian negara-negara Islam sangat kurang.

Lebih lengkap mengenai awal mula perang dan pihak yang terlibat, lihat: Perang Sipil Yaman: Apa dan Siapa?

Dilansir dari NU Online, direktur Indonesian Muslim Crisis Center, Robi Sugara menyampaikan tiga alasan kenapa masyarakat Muslim saat ini tidak bersuara. Pertama, isu perdamaian dan kemanusiaan belum populer di kalangan Muslim. Hal ini berdampak pada pandangan mereka yang melihat konflik hanya dari sisi Muslim dan non-Muslimnya. “Isu-isu perdamaian di masyarakat Muslim itu belum populer sehingga yang dilihat bukan dari sisi kemanusiaannya, tetapi dari sisi Muslim atau non-Muslimnya,” kata Robi.

Robi mencontohkan kasus Yerusalem dan Rohingya. Konflik Yerusalem begitu hebatnya menarik respon dunia, tak terkecuali Indonesia. Bahkan Organisasi Kerja sama Islam (OKI) membuat pertemuan khusus guna membahas kota suci tersebut. Menurutnya, hal tersebut dilatarbelakangi pandangan masyarakat Muslim yang melihat pelaku kekerasannya adalah non-Muslim.

Begitu pula dengan dengan Rohingya, Muslim dunia melihatnya sebagai konflik antara Muslim dan non-Muslim. “Kenapa di Myanmar berisik sekali karena pelaku kekerasannya non-Muslim. Kenapa di Palestina berisik karena aktornya non-Muslim,” ujarnya.

Kedua, konflik antar aliran dalam suatu agama dianggap sebagai perselisihan biasa. Oleh karena itu itulah Yaman tidak terlalu dipedulikan oleh dunia. Konflik yang terlihat di negara tersebut adalah konflik Sunni dan Syiah, konflik internal di dalam Islam. Hal ini tidak terlalu menarik mata dunia untuk melihatnya. “Ketika Muslim saling berantem gitu, saling bunuh-bunuhan misalkan, itu dianggap sebagai sebuah perselisihan,” kata Robi.

Ketiga, diamnya Muslim dunia atas konflik Yaman adalah karena posisi Sunni sebagai pihak yang menyerang Syiah atau posisi Syiah sebagai pihak yang tertekan. “Yaman seakan respons dari Suriah,” begitu kata Robi. “Di Suriah kenapa ramai, karena masyarakat Indonesia umumnya Muslim Sunni. Narasi yang dikembangkan adalah Sunni dibantai oleh Syiah. Itu yang dinarasikan sehingga timbul kepedulian,” ujarnya.

Robi kemudian menambahkan, menurutnya negara-negara Muslim belum banyak berkontribusi dalam pendanaan untuk perdamaian, begitu juga dengan orang-orang Muslim yang kaya. Tercatat, “10 terbesar penyumbang dana perdamaian di PBB tidak ada negara Muslim,” kata Robi.

Selain itu, Robi juga mengatakan negara-negara besar enggan terlibat dalam konflik Yaman karena khawatir transaksi perdagangan mereka di dunia jadi terganggu. Padahal, menurutnya, penyelesaian konflik Yaman harus melibatkan negara Islam. Alasan lainnya adalah negara Islam banyak yang khawatir dituduh sebagai pendukung Houthi dan Iran.

Untuk kasus Indonesia sendiri, negara tidak dapat berbuat banyak untuk membantu menyelesaikan konflik karena masih berkepentingan dengan Saudi, yakni dengan banyaknya warga Indonesia yang bekerja di Arab Saudi.

Robi mengatakan, yang paling memungkinkan adalah membuat Yaman kembali dibagi dua seperti dulu, yakni Yaman Utara dan Yaman Selatan, namun, “siapa yang mau jadi mediatornya?” tanyanya.

PH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *