Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 06 November 2016

Prof. Sumanto Al Qurtuby: Demo 4 November Buah Demokrasi, Sulit Dibayangkan Terjadi di Saudi


19271009_403

islamindonesia.id – Prof. Sumanto Al Qurtuby: Demo 4 November Buah Demokrasi, Sulit Dibayangkan Terjadi di Saudi

 

Bagi peneliti antropologi budaya Prof. Sumanto Al Qurtuby, sebagai negara demokrasi, demonstrasi (massa) di Indonesia adalah hal yang biasa dan lumrah. Aksi seperti 4 November di Jakarta dalam demokrasi dianggap sebagai salah satu medium untuk menyampaikan aspirasi publik. Dengan kata lain, “pesta demonstrasi” ini hal wajar sebagai “buah” dari demokrasi.

“Demonstrasi adalah bagian dari “ritual demokrasi”,” kata pria kelahiran Batang Jawa Tengah ini di akun facebook pribadinya (4/10)

Alih-alih membenci ritual ini, Al-Qurtuby menyebut mestinya masyarakat Indonesia mensyukuri karunia ini karena mereka bisa dengan leluasa berekspresi. Bayangkan jika Indonesia bukan mengikuti sistem demokrasi atau berdasar pada sistem politik-pemerintahan otoriter.

“Apakah itu “berbasis” Komunisme, Republikanisme, “Islamisme”, dan lain sebagainya. Maka demonstrasi massa ini tidak akan pernah terjadi,” katanya.

Beredar Album HTI Soal Ahok, Prof. Al-Qurtuby: Ajaib, Anti Demokrasi Rajin Demo

Dalam sistem politik non-demokrasi, demonstrasi akan dianggap sebagai aksi yang membahayakan tatanan sosial-politik-ekonomi, dan karena itu massa yang berdemo akan ditindak tegas oleh aparat.

“Sulit membayangkan demonstrasi massa seperti ini terjadi di Korut, Kuba, Bahrain, Saudi, dan lain sebagainya,” kata pria yang mengajar di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi ini.

Hanya saja kadang-kadang yang sangat disayangkan banyak orang yang menyalahgunakan demokrasi melalui “lembaga demokrasi” dengan “cara yang seolah-olah demokratis sehingga demokrasi yang awalnya sebagai “berkah” dan “nikmat” itu bisa berubah menjadi malapetaka.

“Hanya saja kadang-kadang, ada sejumlah tokoh–baik kelompok politik maupun agama–yang karena sudah mengalami semacam penyakit “ereksi kekuasaan” permanen sehingga rela melakukan berbagai daya-upaya untuk “menyelewengkan” missi positif demonstrasi untuk tujuan-tujuan pragmatis tertentu. Sangat disayangkan,” katanya.

Penulis buku “Religious Violence and Conciliaion in Indonesia” ini menyebut ada pula sejumlah oknum yang memanfaatkan momen demonstrasi massa untuk “fundraising” atau penggalian dana ini dan itu dengan alasan untuk “mendukung” ini-itu.

“Apalagi masyarakat Indonesia itu adalah “masyarakat sinetron” yang gampang tersentuh emosinya sehingga gampang dimobilisasi dan digiring oleh opini tertentu, untuk donasi ini itu,” kata jebolan IAIN Semarang ini.

Jadi, lanjut Al Qurtuby, demokrasi dan demonstrasi telah memberi berkah dan “rejeki” ke banyak orang.  “Mari kita hormati yang berdemo, mari kita hargai yang tidak berdemo. Salam damai, damailah negeriku!”

Seperti diketahui, meski sempat rusuh di depan istana, demo 4 November sejak awal hingga menjelang magrib berlangsung tertib. Karena itu, dalam jumpa persnya, Presiden Joko Widodo mengucapkan terima kasih kepada para ulama dan kyai yang sudah memimpin aksi hingga maghrib dengan tertib. Adapun peristiwa setelah shalat Isya, menurut aparat, sedikitnya 3 mobil dibakar, 18 mobil rusak akibat lemparan batu dan 8 aparatluka berat.

“Ada 3 kendaraan yang dibakar, 18 rusak dilempar batu. Ini kendaraan dinas, milik negara yang dibeli dari uang negara bukan pribadi. Ini uang rakyat Indonesia untuk membekali petugas, untuk dinas,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (5/11/2016).[]

 

Prof. Sumanto Al Qurtubi: Antara “Ajaran Islam” dan “Budaya Arab”

 

 

YS / islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *