Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 01 November 2016

Peneliti UGM: NU Seperti Pemain Tunggal dalam Menahan Derasnya Arus Radikalisasi


medium_18muktamar_nu

islamindonesia.id – Peneliti UGM: NU Seperti Pemain Tunggal dalam Menahan Derasnya Arus Radikalisasi

 

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada Muhadjir Darwin menilai saat ini ada kecenderungan baru yaitu redupnya politik Islam moderat. Demikian juga dengan maraknya politik Islam radikal di panggung politik Indonesia, seperti yang disinyalir oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj.

Muhadjir melihat NU seperti menjadi pemain tunggal dalam menahan derasnya arus radikalisasi, sebab tidak ada organisasi Islam lain yang seberani NU dalam mempertahankan politik Islam moderat, dan mengkritisi politik Islam radikal yang sekarang sedang marak dengan bahasa yang tegas dan lugas.

“Muhammadiyah sudah tidak lagi. Dan ini sangat disayangkan. Jika radikalisasi Islam dibiarkan, benar seperti yang dikhawatirkan oleh Said Aqil Sirodj bahwa Indonesia akan terjerembab ke dalam situasi seperti di Balkan atau Timur Tengah. Poso dan Maluku telah mengalaminya,” kata Muhadjir di kampus Program Doktor Studi Kebijakan UGM, Yogyakarta (30/10) seperti dikutip Kantor Berita Antara.

Ingatkan Gagalnya Negara Teluk, NU: Jaga Ukhuwah Sesama Manusia

“Tetapi skalanya masih daerah, belum nasional. Tapi jika itu dibiarkan terjadi di Jakarta, dampaknya akan sangat besar bagi perpolitikan nasional,” katanya menambahkan.

Karena itu, Muhadjir mengingatkan Indonesia tidak boleh dan jangan dibiarkan tercabik-cabik ke dalam konflik agama yang keras, yang dapat memecah belah anak-anak bangsa. “Kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia terlalu mahal untuk dikorbankan,” kata guru besar Fisipol UGM

Dan pada situasi seperti saat inilah, umat Islam yang cinta damai ini, untuk secara serius mencegah dan mengatasi radikalisme agama.

“Jadi inilah saatnya bagi umat Islam yang cinta damai, untuk secara serius mencegah dan mengatasi kecenderungan radikalisme Islam,” katanya.

NU: Di MUI, Ada Orang yang Paham Kebangsaannya Kacau

Menurut dia Islam moderat adalah satu-satunya pilihan untuk dijaga dan dikembangkan, jika masyarakat Indonesia masih menginginkan negara yang berkarakter multikultural seperti Indonesia ini tetap terjaga.

“Kita masih ingin negara yang berkarakter multikultural seperti Indonesia ini tetap terjaga,” katanya. []

 

Demo Ahok Kembali Digelar, NU: Kelompok Islam Radikal Temukan Momentumnya

 

YS / islam indonesia

22 responses to “Peneliti UGM: NU Seperti Pemain Tunggal dalam Menahan Derasnya Arus Radikalisasi”

  1. lamaholot flores says:

    bung peneliti yang profokator, NU itu adalah ormas islam yang sangat mulia, tapi setelah dipimpin oleh Said agil siraj, kerjaan NU berubah 180 derajat, tidak lagi menjadi pembela islam tapi menjadi satpam buat orang kafir. Orang islam yang ngomong keras itu karena sangat mencintai NKRI serta menghargai Kebhinekaan. Jadi Umat islam itu berani dan lebih berani mempertahankan NKRI dari rongrongan para kafir yang didukung konglomerat china untuk menghancurkan NKRI. Tidak ada sedikitkan niyat ummat islam menghancurkan NKRI, karena NKRI ini adalah karunia ALLAH bagi ummat Islam karena perjuangan para ulama, santri. Kalo jadi peneliti, jangan karena dibayar.

    • gagak jalak says:

      Ne orang pikirannya gak waras. Kalau ngomong tentang seseorang langsung memvonis negatif aja. Otaknya perlu di servis. Ganti otak kebo luu…
      Saya santet luu kalo berani sama kang said..

    • Anwar fuadi says:

      Lamaholot flores..ilmu msh Tk

  2. lamaholot flores says:

    bung peneliti yang profokator, NU itu adalah ormas islam yang sangat mulia, tapi setelah dipimpin oleh Said agil siraj, kerjaan NU berubah 180 derajat, tidak lagi menjadi pembela islam tapi menjadi satpam buat orang kafir. Orang islam yang ngomong keras itu karena sangat mencintai NKRI serta menghargai Kebhinekaan. Jadi Umat islam itu berani dan lebih berani mempertahankan NKRI dari rongrongan para kafir yang didukung konglomerat china untuk menghancurkan NKRI. Tidak ada sedikitkan niyat ummat islam menghancurkan NKRI, karena NKRI ini adalah karunia ALLAH bagi ummat Islam karena perjuangan para ulama, santri. Kalo jadi peneliti, jangan karena dibayar.

    • kowengapusi says:

      Ini orang goblok. Sotoy masalah NU. Sudah jadi rahasia umum Kyai Said AS lama menjadi target pembunuhan karakter oleh kelompok radikal. Siapapun menghalangi propaganda kelompok radikal, siap2 dibunuh karakternya. Kyai Said AS masuk list sdh lama. GOBLOK dipiara!!!

  3. baharudin says:

    Lamaholot flores itu saya pastikan bukan org nu, kalo komensnya asal ya pastilah. Wong gak kenal kyai.

    • Abdul Aziz says:

      Lamajolot kalau tidak paham belajar dulu….menghargai kebinekaan ya lentur Kolot …Toleransi dan menginginkan kedamaian bukan Islam Radikal , atau kristen Radikal..Tidak Tau NU…Kiyai Said meneruskan pemikiran Gus Dur . NU Dibawa Kiyai Said terus meroket dan pantas menjadi Ormas Islam di Indonesia…

  4. jonly says:

    Cobalah itu yg radikal berani nggak teriak2 kafir dan semena2 di bumi kalimantan?
    Cm di kalimantan toleransi antar umat beragama msh di junjung tinggi,bahkan penduduk lokal seperti suku dayak punya slogan anda sopan kami segan

  5. pedangkhaq says:

    ISLAM ITU RAHMATAN LIL ALAMIN. Adanya istilah ISLAM RADIKAL itu masih perlu di cari sumbernya dan motifnya. Setahu saya Islam itu TEGAS bukan RADIKAL

  6. Salam santun untuk semuanya,,,, Alhamdulillah warga Nahdliyin bisa kompak dan sepakat kalau Indonesia ini adalah negara Beragama, bukan nagara agama yg justru rawan konflik,,
    Berbeda itu indah, tapi jangan membeda bedakan…..
    Oh yaaa…. Buat admin situs ini, skalian dong kalau buat artikel g perlu menyinggung ormas lain… (y) heheheeeee…. Biar g trjadi ksalah fahaman
    By Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa

  7. Islam ala NU, adalah Islam ala Nusantara. Sederhananya begini, kita bukan orang Islam yg tinggal di Indonesia. Namun kita adalah orang Indonesia yg beragama Islam.

    • Darmawan says:

      Saya malu melihat sesama muslim saling menghujat, terkadang sangat mudah menuduh orang radikal. Tp melihat comentnya dengan kata2 kasar jauh dari kesantunan apa itu bukan bagian dari radikal yg anda maksud. Mungkin kita dan Bpk peneliti belum memahami apa maksud dari saudara2 kita yang kita anggap radikal. Mungkin kita perlu belajar memahami apa itu Radikal? Karena banyak presepsi tentang makna dari radikal itu sendiri, tergantung dari sudut pandangan dan penafsiran individu. Orang2 yang kita anggap radikal dengan presepsi negatif justru mungkin sj mereka punya cara tersendiri yang lebih baik untuk menjaga keutuhan NKRI dengan memperjuangkan hak2 umat Islam atau Negara. Jadi jgn mudah memvonis dan mengklaim bahwa saya/golongan sy yg paling benar dan berjasa. Yang ada kita seharusnya saling bahu membahu dan menghargai antar sesama umat Islam khususnya, dan umat beragama pd umumnya.

  8. Ady says:

    Tebarkanlah kedamaian hilangkan kebencian…… i Love you NU …

  9. al haq says:

    disayangkan sekarang Said Aqil Siradj banyak fatwa pembelaan terhadap Syiah,

  10. Muhammad Sholeh says:

    Menjelek2 an dan menghujat sesama anak bangsa,
    Menjelek2an mengultumatum Kapolri dan Polri.
    Menjelek2an ormas2 yg tdk mendukungnya.
    Bahkan presidenpun dijelek2kan dan dicaci- maki.
    Suudzon dikedepankan..
    Kalau sudah begitu apa ya namanya ???
    Padahal hukum sedang berjalan dan berproses.

  11. Khairi says:

    Yang keras perlu yang lembut pun perlu dalam ber dakwah, yang penting tidak saling menghujat, tidak saling mendukung tidak apa apa

  12. ahmed says:

    Kl koment buruk ya bukan nu

  13. apuy says:

    salut buat kang darmawan… sukses selalu..salam

  14. apuy says:

    salut buat kang darmawan… sukses selalu kang . aamiin…salam

  15. Fais says:

    Copast dari tetangga sblh:

    Salah satu Pesantren yg punya maqom untuk mengkritik PBNU adalah Tebuireng…dimana NU lahir dan dimatangkan,,,monggo diresapi mekanisme ngritiknya…

    *Sekedar copas kritik dari Jombang Untuk Para Pemimpin PBNU*

    DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51
    Oleh : KH Ahmad Musta’in Syafi’ie
    Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur
    Sekian lama kiai toleransi sengaja “menyembunyikan-mu”, wahai al-Maidah:51. Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik hikmahnya :
    1. Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendakNya tdk bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah trpaksa harus mengalah, pdhal sblumnya Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.
    Negara jg trpaksa mengeluarkan dana sangt besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan trpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam. Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita, agar slalu “putih” dlm mengemban amanat.
    2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh teriak “Allah Akbar” ketimbang “Haliluya”. Umat islam yg selama ini diam, kini sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya scra alamiah dan sangat militan. Inilah yg disebut “silent majority”. Maka jangan coba-coba mengusik “air tenang” jika tidak ingin hanyut.
    3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di samping ada batasan, wajib apa pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tk jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih” RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” tapi sejatinya “ADL’AFUL IMAN”.
    Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, memaaf. Jika agama dinista, beliau marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, ” asyidda’ ‘ala al-kuffar, ruhama’ bainahum” (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, “asyidda’ ‘ala al-mukminin, ruhama’ bain al-kuffar”. (?)
    4. Gus Mus yg membid’ahkan shalat jum’ah di jalan raya dan kiai Sa’id yg menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum’ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqih utk kepentingan politik.
    Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.
    Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid’ahkan, tapi sekarang ganti membid’ahkan sesama muslim, “bid’ah besar”. Ternyata, amunisi bid’ah yg ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid’ah yg ditembakkan nonnahdliyin.
    Skedar mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum’ah di jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum’ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang ‘alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat “bid’ah” sesaat.
    Mengagumkan, fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu’, filosufis dan sufistik sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi’i Ma’arif lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di Jogya dan sedikit tahu.
    Merendahkan ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma’ruf Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, “sekali dayung dua kepala kena pentung”. Penulis membatin, ” kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama ketua Syuriah. Ini fenomena apa?”. Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma’ruf Amin tdk merangkap jabatan. Mohon maaf kiai.

  16. afiq says:

    Mohon maaf sebelumnya.
    ini juga copast dari sebelah.

    Komplek Ponpes Tebu ireng memang terbaring setidaknya tiga jasad mulia pendiri NU Hadhratus Syaikh KH. Hasyim As’ari, Putra beliau KH. Wahid Hasyim dan Cucu beliau yakni KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dua diantaranya Tokoh Pendiri Bangsa dan Pahlawan Indonesia. Alhamdulillah saya sudah pernah kemakamnya.

    Sebenarnya tdk ada kritikan yg tdk ada motif dan tendensiusnya. Terkait gerakan 411 dan 212 adalah sangat kuat nuansa politiknya apalagi partai-partai yg berseberangan dgn pemerintahan jokowi, rakyat sdh banyak yg mengerti, bukankah ada keluarga tokoh NU tebu ireng yg menjadi kader pks ?! Terlebih lagi residu pasca muktamar 33 jombang menyisakan kekecewaan sebagian tokoh NU? Bahkan ada pernyataan tokoh NU yg tdk mengakui kepemimpinan PBNU sekarang?!

    Dari hal tsb, saya hanya memberikan tambahan info tentang kekecualian NU yg ditulis oleh DR. Burhanuddin Muhtadi yg kalo tdk salah isterinya juga kader pks. selamat membaca.

    Sekedar pembanding saja tentang copasan saudara Fais tentang kritikan untuk para pimpinan PBNU, Oleh: KH Ahmad Musta’in Syafi’ie, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur dengan judul:

    DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH: 51

    ~☆♡☆~

    Penjelasan DR. Burhanudin Muhtadi Soal Kekecualian Nahdlatul Ulama.

    BAGI yang tekun mengamati perilaku politik keagamaan Nahdlatul Ulama, dinamika yang terjadi selama Muktamar ke-33 di Jombang, yang dipicu oleh kontroversi sistem pemilihan rais am melalui ahlul halli wal aqdi (AHWA), bukanlah suatu drama yang mengejutkan. Alasannya sederhana: NU adalah “drama” itu sendiri. NU tanpa drama dan dinamika bukanlah NU yang kita kenal selama ini. Itu sebabnya, selalu ada element of surprise, baik kejutan kecil maupun besar, yang mewarnai perjalanan panjang NU.

    NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku, atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.

    Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “kekecualian” atau exceptionalism. Jejak ambiguitas NU terlihat dalam banyak hal. Relasi NU dengan negara, misalnya, tidak pernah ajek. Pada masa Orde Lama, NU begitu mesra dengan Sukarno dan menganugerahinya gelar “waliyul amri adh-dhoruri bissyaukah”.

    Sikap NU berubah drastis pada masa konsolidasi awal Orde Baru. Ia tampil sebagai pengkritik paling vokal kebijakan pemerintah. Nakamura (1981), dalam paper-nya yang berjudul The Radical Transformation of Nahdlatul Ulama in Indonesia, menyebut perilaku politik NU pada 1970-an melawan arus dari kecenderungan umum relasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemerintah. Demikian pula pada akhir Orde Baru. Saat Soeharto mendekati kelompok Islam (modernis), NU di bawah Gus Dur emoh menyambutnya.

    Dan NU selalu punya alasan yang dibungkus dalam doktrin keagamaan yang membenarkan manuver zigzagnya. Pengamat yang tidak paham NU gampang mengobral tuduhan bahwa NU memiliki karakter oportunistik dan terjangkit short-termism, sebuah perilaku yang memuliakan tujuan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Tapi bukan NU jika tak punya argumen teologis untuk menolak tudingan itu. Apa yang disebut pihak lain sebagai pendekatan akomodatif dan pragmatis khas NU sebenarnya punya akar dari tradisi Sunni yang disebut political quietism (pasif) yang biasanya diramu dalam kaidah ushul fiqh: dar’u al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (menghindarkan keburukan jauh lebih diutamakan daripada meraih kebaikan). Tertib sosial menempati posisi penting dalam pengambilan keputusan di NU.

    Karakter politik NU yang liat dan elastis ini berbeda 180 derajat dengan watak politik Islam modernis yang menekankan pada kepastian, konsistensi, dan tanpa kompromi ketika berkaitan dengan apa yang mereka pahami dari Al-Quran dan Hadis. Karena itu, sejarah Islam modernis di Indonesia selalu mudah ditebak, tidak sedinamis Islam tradisionalis. Gaya politik Masyumi, misalnya, terlalu mudah dibaca. Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti textbook. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu. NU bebas berinteraksi dengan negara tanpa harus membuat komitmen permanen yang justru membelenggu dirinya. Inilah mekanisme pertahanan (defense mechanism) ala NU yang membuat ormas ini bertahan hidup dan berkembang menjadi jemaah Islam dengan pengikut terbesar se-Indonesia, bahkan mungkin dunia.

    Bahkan, dalam metode penentuan awal dan akhir Ramadan, NU berpatokan pada metode yang “tak pasti”. Berbeda dengan Muhammadiyah yang mengunggulkan kepastian melalui metode hisab, NU setia pada rukyat. Melalui hisab, Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mematok kapan puasa dimulai dan kapan Idul Fitri. NU sebaliknya merayakan ketidakpastian melalui rukyat. Bagi NU, peristiwa agama selalu punya dimensi. Klimaks-antiklimaks dan momentum menjadi penting dalam dramaturgi politik keagamaan NU.

    Dalam dramaturgi NU, hasil akhir menjadi susah ditebak. Siapa yang menebak KH Mustofa Bisri yang terpilih sebagai rais am tiba-tiba menyatakan tak bersedia, kemudian digantikan KH Ma’ruf Amien. Menganalisis NU secara temporal bisa terperangkap dalam jebakan target yang selalu bergerak. Siapa yang membayangkan NU yang pada sidang-sidang Konstituante 1950-an menjadi pihak paling keras menyuarakan formalisasi syariah Islam dan menuntut pelembagaan ulama dalam negara justru sekarang menjadi penjaga gawang Islam tanpa campur tangan negara. Siapa pun pihak yang berupaya mengubah konstitusi Indonesia dengan memaksakan Piagam Jakarta, misalnya, harus melangkahi mayat NU lebih dulu.
    Metamorfosis NU membuat kebhinnekaan kita seperti mendapat jaminan. Inilah amal jariah terbesar NU bagi bangsa yang majemuk.

    Kekecualian NU yang sulit ditandingi ormas lain adalah secara statistik responden yang mengaku sebagai warga NU mencapai 45 persen dari seluruh populasi muslim di Indonesia. Hasil ini diperoleh berdasarkan data cross-sectional yang dihimpun dari survei-survei nasional Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Indikator Politik Indonesia sejak 2003 hingga 2015. Jumlahnya membengkak jika ditanyakan kedekatan secara kultural. Ada 60 persen responden yang mengaku dekat secara kultural keagamaan dengan NU. Proporsi besar warga nahdliyin ini akan selalu membuat NU punya data tarik elektoral di mata politikus.

    Survei juga menemukan bahwa warga yang mengaku secara kultural dan emosional dekat dengan tradisi NU tidak pernah berkurang. Berbeda dengan warga ormas lain yang banyak melepaskan identitas partikularnya sebagai bagian dari ormas tertentu seiring dengan maraknya new Islamic movement, seperti gerakan Tarbiyah atau Hizbut Tahrir sejak dekade 1980, jemaah NU tampak memiliki basis pertahanan kultural yang tangguh. Ritual NU, seperti tahlilan, barzanji, dan manaqiban, berhasil membentengi umat dari pengaruh gerakan Islam transnasional dan menjaga identitas kenahdliyinan mereka.

    Mujani (2003) menemukan bahwa ritual nahdliyin inilah yang menjadi modal sosial demokrasi di Indonesia karena ibadah jenis ini memiliki dimensi kolektivisme-sosial yang menjadi intisari demokrasi yang partisipatif. Sekali lagi inilah kekecualian NU. Warga NU yang aktif dalam ritual nahdliyin cenderung mendukung demokrasi dan terlibat dalam aktivitas sosial kemasyarakatan di PKK, karang taruna, dan sejenisnya. Meski bukan organisasi pluralis karena anggotanya terbatas bagi yang beragama muslim saja, NU tidak diciptakan untuk memusuhi agama lain. Tingkat toleransi warga NU yang relatif tinggi ini bisa bermata dua. Di satu sisi, warga NU menjadi eksemplar Islam yang ramah, tapi toleransi ini juga membuat mereka cenderung nrimo ing pandum atas ketidakmampuan pemerintah atau pengurus NU dalam meningkatkan kesejahteraan jemaah.

    Tugas utama NU sekarang adalah tidak sekadar mengandalkan keunggulan massa, tapi juga meningkatkan kualitas sumber daya jemaahnya. Dalam istilah KH Mustofa Bisri, NU jangan sekadar bertumpu pada “jamaah” (isi), tapi juga bisa menjadi “jam’iyyah” (sistem, wadah). Sejauh ini NU belum berhasil menjadikan dirinya sebagai “jam’iyyah”, atau meminjam istilah Cak Nur, “Muhammadiyah punya katalog tapi tidak punya kitab; NU punya banyak kitab tapi tidak punya katalog.”

    Dengan menjadi jam’iyyah yang kuat, NU tak lagi dilihat sebagai kerumunan, tapi barisan; bukan sekadar buih, tapi gelombang. Peran sosial NU dalam menyediakan jasa schooling (pendidikan), feeding (kesejahteraan sosial), dan healing (pengobatan, rumah sakit) harus ditingkatkan.

    Sebelum beranjak jauh, tentu saja residu pasca-Muktamar harus dihilangkan. Jangan sampai faksionalisasi dalam arena Muktamar berlarut-larut. Kalau itu yang terjadi, bukan hanya NU yang rugi, bangsa Indonesia juga ikut menangisi.

    *Burhanuddin Muhtadi*
    Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia. Kolom Majalah Tempo
    Senin, 10 AGUSTUS 2015.

    Semoga dgn copasan ini residu pasca muktamar jombang dapat dibersihkan.

    Wallahu alam bisshawab.
    Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith-tharıq wassalâmu alaikum wr wbr.

    (pengurus nu tingkat kecamatan aja).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *