Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 28 January 2017

Peneliti: Nasionalisme Indonesia Jadi Gerakan di Lingkungan Tionghoa Sejak 1930


5529bf166ea8346d038b4567

islamindonesia.id – Peneliti: Nasionalisme Indonesia Jadi Gerakan di Lingkungan Tionghoa Sejak 1930 

Bagi peneliti sejarah, Prof. Dr. Kuntowijoyo, sebenarnya sulit bagi kita sekarang untuk menyatakan bahwa ada sebuah sub-kultur Tionghoa dan sub-masyarakat Tionghoa di Indonesia. Perjalanan sejarah yang panjang telah mengubah begitu banyak aspek sosial budaya keturunan Tionghoa, sehingga kita mengenal perbedaan mereka dengan orang Indonesia lainnya semata-mata dari penampilan luarnya.

“Ras, agama, dan etnisitas keturunan Tionghoa tidak lagi dapat dilihat dari kerangka rujukan masyarakat dan kebudayaan Cina klasik semata-mata,” kata Kunto dalam salah satu karya fenomenalnya “Paradigma Islam” (Mizan, 2008).

[Baca juga: Melacak Benang Merah Muslim Indonesia dan Tionghoa]

Dalam karyanya itu, Kuntowijoyo menyinggung penelitian Donald Earl Willmott (1960), melalui “The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia. Riset ini telah menunjukkan dengan jelas betapa pengaruh Indonesia dan Belanda telah mengubah komunitas keturunan Tionghoa itu.

Dalam bidang agama, keturunan Tionghoa juga tidak lagi dapat didefinisikan semata-mata sebagai penganut  Confusian, Taoisme, dan Buddhisme lagi. Agama-agama “besar” seperti Katolik, Islam dan Protestan, juga sudah mulai menduduki tempat penting.

“Pemelukan orang keturunan Tionghoa atas agama-agama ini dapat dianggap sebagai sebuah penyimpangan kultural yang penting, sebab dalam gambaran agama Confusian klasik perbedaan kultural antara agama-agama Samawi dan Confusianisme itu sangat besar,” kata pria yang juga dikenal sebagai budayawan ini.

Dalam proses perjalanan sejarahnya, selain faktor eksternal seperti politik kolonial Belanda dan Indonesia, gerakan budaya dalam masyarakat Tionghoa dinilai tak kalah pentingnya. Dalam penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi sehari-hari sudah tampak sejak mereka harus berhubungan dengan orang Indonesia dan pemerintahan Belanda.

“Orang sering lupa menyebutkan bahwa pemakai bahasa Melayu sebelum bahasa Indonesia secara resmi menjadi bahasa nasional adalah orang Tionghoa,” katanya.

Pria kelahiran Bantul ini menyebut, pers Melayu yang lebih dahulu adalah berasal dari orang Tionghoa di Surakarta yang menerbitkan surat-surat kabar, sebelum orang Jawa sendiri memakai bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Tionghoa juga merupakan varian yang patut dihargai dalam perkembangan bahasa Indonesia.

“Demikian juga di kalangan orang Tionghoa terdapat banyak yang bergerak di bidang budaya Indonesia, seperti Tan Koens Swie di Kediri yang banyak sekali menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa.”

Menurut Kuntowijoyo, nasionalisme Indonesia sudah mulai menjadi gerakan di lingkungan orang Tionghoa sejak 1930-an. Bahkan sebelum itu sudah ada wakil orang Tionghoa yang turut dalam penandatanganan Sumpah Pemuda, yang di antaranya juga terdapat nama Johan Muhammad Chai.

“(Dia) anggota “Jong Islamieten Bond” ini tercatat sebagai seorang Muslim keturunan Tionghoa yang turut menandatangani sumpah bersejarah pada 28 Oktober 1928 itu,” katanya.

Transformasi budaya ini terjadi semakin pesat setelah 1945, sekalipun juga mengalami berbagai ketegangan sejarah, sama seperti perjalanan integrasi nasional bagi golongan etnis lainnya di Indonesia.[]

[Baca juga: Awal Pengabdian Orang Tionghoa]

YS/ islam indonesia/ Foto ilustrasi: cihc.nl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *