Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 29 January 2017

“Mayoritas Muslim Indonesia Tak Dukung Pemicu Keributan yang Menggunakan Isu Agama”


yenny-wahid-_130416161758-936

islamindonesia.id – “Mayoritas Muslim Indonesia Tak Dukung Pemicu Keributan yang Menggunakan Isu Agama”

 

Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menegaskan, kelompok yang saat ini memancing keributan di publik menggunakan isu agama hanyalah minoritas dan bukan merupakan wakil dari umat Islam di Indonesia. Menurut Yenny, mayoritas Muslim di Indonesia sangat menyadari bahwa bangsa terdiri dari banyak orang yang memiliki latar belakang beragam.

“Mereka adalah kelompok kecil, kelompok minoritas. Tapi memang berisik, jadi kuatnya karena berisik saja. Tapi tidak didukung oleh kelompok mayoritas muslim,” kata Yenny dalam pidato singkat seperti dilansir kompas.com di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, (27/1).

[Baca juga- Abdillah Toha: Perbedaan Muslim Moderat dan Ekstrimis]

Seluruh komponen bangsa, kata Yenny, sama dan setara di mata hukum dan konstitusi. Janji kemeredekaan, janji kedaulatan, janji kemakmuran dan janji keadilan, ujarnya, tak hanya diberikan kepada satu mayoritas namun kepada seluruh bangsa Indonesia.

“Dan janji generasi kita adalah membawa keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Itu tidak bisa dicapai tanpa adanya persatuan,” kata putri Almarhum Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid itu.

Karena itu, kalau ada yang mengganggu, “Kami semua dari Nahdatul Ulama siap untuk tetap mengawal keutuhan negara kita. Membantu mereka-mereka yang didiskriminasi,” tegasnya.

Berbeda dengan mereka yang sebenarnya kelompok kecil, menurut Yenny, mayoritas umat Islam di Indonesia adalah umat yang memiliki tingkat toleransi tinggi dan memberikan ruang bagi sesama warga Indonesia untuk beribadah sesuai kepercayaan masing-masing.

Di Koran Sindo, Sekjen Muhammadiyah Abdul Mu’thi menulis, masyarakat merindukan dakwah yang teduh, tidak gaduh. Dalam benak mereka mengemuka pertanyaan bagaimana para ustaz yang selama ini identik dengan dakwah sufistik, bahkan altruistik, berubah garang.

“Diperlukan komunikasi yang lebih intensif dan saling memahami di antara pemimpin umat. Gerakan longitudinal di bidang pendidikan, ekonomi, politik, dan kebudayaan harus tetap diprioritaskan,” katanya.

Stamina umat harus tetap prima untuk lari maraton mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan dengan koordinasi dan kerja sama yang terjalin kuat. Umat tidak boleh setengah hati berjuang di kursi parlemen dan meja birokrasi.

Substansialisasi nilai-nilai dan ajaran Islam dalam konstitusi sangat penting untuk memastikan Indonesia tidak menyimpang dari tuntutan Ilahi. Umat mendambakan tampilnya birokrat yang merakyat, bersih dari korupsi, dan berbudi mulia. Umat Islam adalah komponen terbesar bangsa Indonesia. Wajah umat, wajah bangsa. []

[Baca juga: KOLOM – Umat yang (Tidak) Konfrontatif]

YS/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *