Satu Islam Untuk Semua

Friday, 30 December 2016

Laporan Akhir Tahun, Kapolri: Kasus Terorisme Naik 107 Persen pada 2016


Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjawab pertanyaan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/12). Dalam kesempatan itu Kapolri menyampaikan kinerja dan capaian prestasi Kepolisian sepanjang tahun 2016 serta rencana strategis yang akan dilakukan di tahun-tahun mendatang. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/16.

islamindonesia.id – Laporan Akhir Tahun, Kapolri: Kasus Terorisme Naik 107 Persen pada 2016

 

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut, penanganan kasus terorisme pada tahun 2016 ini naik menjadi 170 kasus dibanding 82 kasus pada 2015. Kenaikan ini sebanyak 88 kasus atau 107 persen.

Sepanjang 2016 ini juga ada 33 orang pelaku teror yang tewas. Jumlah ini naik dari hanya tujuh pelaku teror yang tewas pada 2015.

Kenaikan angka itu, lanjut Tito, disebabkan kondisi sosial politik di Suriah dan Irak yang tidak stabil akibat gangguan dari kelompok militan ekstrimis seperti ISIS.

“Penjelasannya, yang terjadi di ISIS, Suriah, tahun 2016 ini, semua negara menekan ISIS sehingga mereka di dalam negerinya tidak bergerak, jaringan di luar negerinya lalu disuruh bergerak,” kata Jenderal Tito di Mabes Polri, Jakarta, seperti dilaporkan beritasatu.com (28/12).

>> Kepala BNPT dan Kepala BPS Sebut Inti Persoalan Terorisme Belum Tersentuh dengan Baik

Makanya, terjadi serangan di Eropa, di Prancis, termasuk di Indonesia. Maka tak heran di Indonesia terjadi kasus teror dan penangkapan pelaku yang terkait ISIS sepanjang tahun ini.

“Soal yang meninggal, di antaranya, itu juga (terkait operasi Tinombala). Kita tak bisa generalisir, ini karena ada perintah untuk lebih ekspresif. Penindakan mematikan itu boleh ketika ada ancaman yang bisa mematikan petugas atau masyarakat. Kalau itu terjadi ya harus kita lakukan,” katanya.

Seperti diberitakan, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak memberi catatan kritis atas pemberantasan terorisme yang selama ini dinilai masih menggunakan cara-cara represif.

“Ada 33 terduga yang disebut teroris mati ditembak tanpa ada proses penegakan hukum. Masalah sisi penegakan hukum bagi saya ancaman terorisme baru,” ujar Dahnil usai diskusi ‘Catatan Akhir Tahun 2016: Membela Kaum Mustadh’afin’ di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, seperti dikutip okezone.com (29/12)

Dia menjelaskan, fakta penanganan terorisme oleh Densus 88 di Poso, Ambon, Klaten, serta daerah-daerah lainnya justru tidak meminimalisasi aktivitas terorisme.

“Justru muncul dendam dan ketidakadilan. Hal ini jadi trigger utama munculnya terorisme,” katanya.[]

>> Buya Syafii: Akar Terorisme ada dalam Masalah Sosial Ekonomi

YS / islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *