Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 20 February 2018

Kunjungi Percetakan Al-Qur’an di Iran, Dosen UIN Jakarta: Mushaf Sunni-Syiah Tak Berbeda (Bagian 2)


Hasani 3

islamindonesia.id – Kunjungi Percetakan Al-Qur’an di Iran, Dosen UIN Jakarta: Mushaf Sunni-Syiah Tak Berbeda (Bagian 2)

 

 

Pada tulisan sebelumnya Dr. Hasani Ahmad Said, MA, dosen dari UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta, membahas bahwasanya banyak kesalahpahaman terhadap penganut Syiah. Selain itu, dalam kunjungannya ke Iran, dia juga menceritakan tentang keramahan para Ayatullah, pluralisme dan keharmonisan Sunni dan Syiah di Iran, perbedaan syariat yang tidak perlu dipersoalkan, dan semangat keagamaan warga Iran.

Sebelumnya: Dosen UIN Jakarta: Di Iran, Sunni-Syiah Hidup Berdampingan dengan Harmonis (Bagian 1)

Pada tulisan kali ini, akan dibahas pengamatan Dr. Hasani tentang tradisi al-Quran dan keilmuan di Iran, dan kampanye negatif terhadap Syiah dan Iran. Yang pertama, mengenai tradisi al-Quran di Iran, Dr. Hasani mengatakan bahwa dirinya terkagum-kagum akan penghargaan dan penghormatan pemerintah Iran kepada para Qari dan penghafal al-Quran. Dia juga mengatakan bahwa dirinya sudah lima belas tahun menaruh hati dan perhatian terhadap perkembangan dan penghormatan terhadap tradisi al-Quran di Iran.

“Tradisi tilawah al-Quran di Iran bisa dibilang sangat maju, dalam even-even musabaqah Internasional nama Iran masih menduduki rangking dunia. Dalam mengundang para qari-qari internasional, Iran termasuk yang sering mengadakan haflah haflah tilawatil Alquran. Telah banyak lahir qari-qari sekaliber internasional, misalnya Syekh Syakir Najd,” ujarnya.

Suatu waktu, Pusat Studi al-Quran pimpinan Prof. Dr. M. Quraish Shihab kedatangan tamu para qari dan hafidz-hafidz cilik dari Iran. Dr. Hasani adalah salah seorang yang ikut serta dalam penyambutan para tamu tersebut. Dalam perbincangan di acara tersebut, rombongan asal Iran membuka salah satu “rahasia” kesuksesan mereka dalam memelihara tradisi al-Quran. Rahasia tersebut adalah bahwa  para qari dan hafidz di Iran, sebelum belajar al-Quran, mereka selalu diajarkan pelajaran tentang akhlak selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

“Jadi sangat tidak beralasan ada tuduhan Syiah punya Alquran sendiri dan tuduhan-tuduhan lain. Dengan keberadaan saya di Iran selama dua minggu, anggapan-anggapan ini terus saya buktikan, dan akhirnya saya berkesimpulan tuduhan ini tidak benar,” ujarnya.

Dr. Hasani kemudian menambahkan, “paling tidak ada beberapa hal yang bisa menguatkan pandangan saya. Pertama,  saya membaca langsung mushaf cetakan Iran, dari hasil bacaan itu saya tidak menemukan ada kejanggalan dengan mushafnya. Kedua, saya datang langsung ke percetakan al-Quran di Iran, ternyata tidak saya temukan juga keganjilan sebagaimana sangkaan. Bahkan saya menemukan kertas yang dipakai untuk al-Quran di Iran harus berlabel halal, (dan) salah satunya yang digunakan adalah sertifikat halal MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan kertas impor dari Indonesia. Ketiga, ketika dalam forum diskusi juga sempat saya menanyakan langsung kepada orang Syiah di Iran, dan jawaban mereka tidak ada perbedaan dan tidak benar bahwa Syiah meyakini adanya tahrif (perubahan) dalam al-Quran.”

 

Tradisi Keilmuan di Iran

Dr. Hasani menaruh perhatian terhadap tradisi keilmuan di Iran. Menurutnya tradisi hauzah (pesantren) di Iran perlu dicontoh. “Seseorang dinilai alim dengan tingkatan derajat mujtahid, Ayatullah dengan penguasaan ratusan kitab dengan macam-macam keilmuannya dan dengan pakaian tersendiri yang mencirikan ustadz atau ulama. Sehingga, tidak ada muncul istilah ustadz karbitan, kiai gadungan, dan lain sebagainya. Karena proses keilmuan dan standarisasinya jelas. Jubah dan sorban tidak sembarang orang memakainya, kecuali orang alim yang telah diijazahkan. Yang mendakwahkan Islam melalui televisi, bukan orang yang asal bisa bicara, hapal hadis dan ayat sekadarnya. Di Indonesia, siapapun bisa mengenakan jubah ulama, bahkan bisa sampai tampil di televisi meskipun tanpa ilmu yang mumpuni. Ini jelas menipu diri sendiri dan juga masyarakat,” jelasnya.

Selain itu dia juga menyoroti tentang rasa percaya diri yang dimiliki oleh warga Iran, dia berkata, “hal positif lain yang bisa ditiru, adalah soal kemapanan dan kepercayaan diri bangsa. Kendati Iran di embargo, namun kemandirian dan ketaatannya pada ajaran Islam mampu menjadikan negara mereka digdaya dan mandiri.”

 

Kampanye Negatif Tentang Syiah

Tentang kampanye negatif terhadap Syiah dan Iran yang belakangan ini sering didengungkan di Indonesia, Dr. Hasani mempunyai penilaian sendiri, dia berkata, “tanggapan saya tentang kelompok yang mengkampanyekan permusuhan dan kebencian kepada Iran, lebih lagi isu Sunni-Syiah, lebih baik dihentikan atas dasar persatuan Islam. Memperseterukan Sunni-Syiah adalah politik pecah belah. Kalau tidak dihentikan, maka benih-benih kebencian akan berubah menjadi bara api dan suatu saat akan meledak. Maka, bersatulah umat Islam, maka akan menggetarkan musuh-musuh Islam.”

Menurutnya, perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah sebuah kepastian, namun baginya itu bukanlah suatu hal yang relevan untuk dijadikan perbenturan, persatuan adalah suatu hal yang lebih penting. “Kalau ada perbedaan itu pasti. Jangankan berbeda mazhab, satu mazhab pun kalau mau mencari titik seteru pasti ada. Namun bukan itu yang kita kedepankan. Ukhuwah islamiyah adalah sebuah keniscyaaan. Dan sekali lagi ini kekuatan terbesar Islam yang ditakuti musuh-musuh Islam,” ujarnya.

Terakhir dia menitip pesan kepada mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di Iran, dia berkata, “pesan saya untuk mahasiswa Indonesia yang di Iran, jadilah mahasiswa yang baik. Tidak perlu menjadi Syiah meski belajar di negara mayoritas Syiah. Bagi yang Syiah, teruslah menebar kasih sayang dan kemuliaan sebagaimana ajaran Islam dan Ahlulbait. Jangan gentar jika disebut Syiah. Sebagaimana pesan Imam Syafi’i, andai karena mencintai Ahlulbait kita dituduh Syiah, maka tuduhlah aku Syiah.”

Selesai.

Sumber: ABNA

PH/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *