Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 18 November 2018

Ketika Helal Melawan Larangan Hijab dalam Sepak Bola


5234ADBF-5354-4DCD-8DB2-35C6E83F75BF

Islamindonesia.id-Ketika Helal Melawan Larangan Hijab dalam Sepak Bola

 

 

Seorang perempuan belasteran Mesir dan Australia, Asmah  (Assmaah) Helal berjuang melawan larangan berjihab bagi wanita dalam aturan internasional sepak bola. Perempuan 32 tahun ini bilang, dirinya dan muslimah lainnya memperjuangkan hal ini supaya talenta olahraga perempuan dalam dunia Islam tidak dikecilkan di mata dunia internasional.

“Dalam industri olahraga, perempuan muslim dipandang terbelakang,” kata Helal kepada The National di Abu Dhabi, 12 November. Ia bilang, potret seperti inilah yang kerap tergambar di media.

Potret ini gagal menggambarkan keragaman perempuan, khususnya di dunia Islam. Karena itu, lembaga internasional yang melibatkan perempuan dalam sepakbola itu tidak autentik karena, di dunia ini, ada juga perempuan yang berjihab. 

Helal telah menghabiskan usianya satu dekade terakhir ini untuk mempromosikan perubahan sosial lewat olahraga. Ia melakukan ini melalui komunitas pengungsi dan kelompok marginal. 

Ia sendiri mencintai sepakbola sejak usia lima tahun. Ia main sepakbola sejak kecil bersama saudaranya, demikian juga ketika menonton sepakbola lewat televisi ketika malam hari.  

“Bagi ayah saya, olahraga itu penting bagi anak-anaknya, apapun jenis olahraga itu,” katanya.

Helal pun memilih berolahraga lewat sepak bola. Namun karena masa itu tidak menemukan tim perempuan, ia pun bermain dengan teman-teman yang pria. 

Pada awalnya oke, namun ia akhirnya merasa terasing seiring berjalannya waktu. Helal lalu mencoba beralih ke olahraga lain: karate, renang dan tenis. Namun kecintaanya pada sepakbola mengembalikan ia ke lapangan hijau pada usia 12 tahun. 

“Sepakbola adalah olahraga tim, bukan individual seperti olahraga lain yang pernah saya coba,” katanya. Di lapangan hijau, Helal mendapatkan level berbeda dalam hal interaksi sosial, inspirasi dan kepercayaan diri. 

Ia pribadi sempat khwatir dengan hijabnya menjadi penghalang dalam bermain sepak bola. Namun seiring tumbuh dewasa, ia tak pernah merasakan itu. 

Meski berhijab, ia diterima oleh rekan-rekan setimnya dengan baik. “Bermain dengan menggunakan hijab itu cool,” ujarnya.

Hanya saja ketika ia berinteraksi lebih jauh ke dalam komunitas muslim, ia menyadari perempuan lainnya memandang sepakbola bukan olahraga yang baik. Apalagi, aturan internasional soal pelarangan berhijab itu terbit pada 2007.

Federasi Sepak Bola dunia (FIFA) kemudian mengkaji ulang aturan ini setelah tim sepak bola Republik Islam Iran dilarang bermain di babak kulifikasi Olimpiade 2012. Akhirnya FIFA mengeluarkan surat ujicoba penggunaan pentutup kepala pada tahun yang sama.

Aturan ini, bagi Helal, memicu keadaan semakin buruk bagi perkembangan olahraga di kalangan perempuan.  “Dengan larangan hijab ini, Anda telah melarang ribuan pemudi muslimah mempromosikan bakatnya di gelanggang olahraga internasional,” katanya. 

Di Australia, ia memperkenalkan olahraga sebagai salah satu alat perubahan sosial. Ia mendapatkan dukungan oleh Pemerintah setempat untuk mengembangkan aktivitasnya dalam mengembangkan Women’s Football Leadership camp, termasuk bekerjasama dengan perempuan-perempuan di area terpencil di Indonesia.  

“Saya ingin memastikan kampanye ini dilakukan untuk masa depan kaum perempuan,” tegasnya. 

Duta Besar Australia untuk Uni Emirat Arab, Julie Shams mengatakan, sejarah Helal adalah bagian dari kebanggaan negaranya. Helal, bagi Julie, merupakan tokoh perempuan penting dalam olahraga.

Karena itu, Helal diundang oleh Kedutaan Austalia di UEA untuk berpartisipasi dalam festival nasional yang mempromosikan toleransi. Selama festival, Helal membuka klinik ‘football skill’  yang diselenggarakan di Taman Umm Al Emarat. 

 

[Baca juga: Hormati Muslim, Atlet Rusia Kenakan Kerudung pada Pertandingan di Iran]

 

 

YS/Islamindonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *