Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 19 November 2016

Jadi Pusat Aktivitas Teroris, Masjid di Samarinda Akhirnya Diambil Alih Warga


1440073masjid780x390

islamindonesia.id –  Jadi Pusat Aktivitas Teroris, Masjid di Samarinda Akhirnya Diambil Alih Warga

 

Masjid yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas kelompok radikal, termasuk tersangka pelaku teroris Johanda alias Jo, di Samarinda diambil alih masyarakat. Masjid tersebut persis berhadapan dengan Gereja Oikumene Sengkotek, Samarinda, yang menjadi sasaran teror bom kelompok radikal pada Minggu (13/11) lalu.

Kemarin, Jumat (18/11), masyarakat memakai masjid yang sebelumnya tanpa nama itu untuk shalat Jumat perdana. Padahal, sebelumnya, tidak dibuka untuk umum dan hanya digunakan oleh kelompok radikal. Kini, masjid itu diberi nama oleh masyarakat dengan sebutan Al Islah.

Camat Loa Janan Ilir, Nofiansyah Indra Hakim, mengatakan, nama Al Islah diambil karena memiliki arti perdamaian. Warga sekitar masjid ingin suasana lingkungan tempat tinggal mereka selalu aman dan damai meski berdampingan dengan tempat ibadah agama lain.

“Kita mengembalikan fungsi seperti semula. Masjid ini mulanya kan untuk berbagai pihak juga untuk fardu kifayah jadi difungsikan seperti biasa. Kita ambil alih, ini masjid milik masyarakat,” ujarnya.

Buya Syafii: Akar Terorisme ada dalam Masalah Sosial Ekonomi

Menurut dia, dulunya masjid tersebut dipakai seperti biasa oleh masyarakat dan hanya berbentuk mushala. Tiba-tiba datanglah sekelompok orang, yang salah satunya adalah Jo, menempati masjid tersebut.

Jo bahkan tinggal di masjid tersebut dan sekaligus menjaganya. Ketika kelompok Jo datang ke masjid itu, nama mushala berubah menjadi masjid Mujahidin.

Namun, lama-kelamaan, masjid itu tidak boleh digunakan oleh masyarakat dan plang namanya dicabut.

“Sebelumnya, mushala ini milik masyarakat karena ditempati oleh tersangka, ya kita percayakan. Tiba-tiba dia ambil alih dengan kelompoknya itu, namanya diganti jadi masjid, dan lama-lama ditutup sama dia. Kelompok itu yang akhirnya menguasai masjid yang di dalamnya banyak ditemukan barang-barang milik teroris,” ungkapnya.

Masjid ini akan difungsikan kembali untuk ibadah dan aktivitas masyarakat lainnya, seperti belajar Al Quran.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kota Samarinda, Masdar Amin, mengatakan, masjid tersebut dibangun oleh masyarakat sekitar Sengkotek Loajanan.

“Masjid ini masyarakat yang bangun, artinya wajar saja kalau masyarakat kita yang pakai. Bukan mengambil alih karena ini punya masyarakat, ya kita kembalikan kepada masyarakat yang membangun masjid ini,” ujarnya.

Sebelum meledakkan bom di Gereja Oikumene, pelaku teror bom bernama Johanda alias Jo tinggal di kamar bagian belakang masjid.

“Pelaku tinggal di sini tanpa berinteraksi dengan masyarakat. Masjid pun selalu dikunci sama dia sehingga tidak ada masyarakat yang menggunakan masjid,” pungkasnya.

Sejak kelompok radikal menguasai masjid ini, warga memilih tak terlibat dalam kegiatan masjid. Terlebih lagi, warga merasa ada aktivitas berbeda dari pengguna masjid sebelumnya.[]

Di Lampung, 3 Eks Napi Teroris Bedah Buku “Bahayanya Mudah Mengkafirkan”

YS / islam indonesia / sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *