Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 11 September 2016

Hindari ‘Tragedi Mina’ Terulang, Tenda Haji Indonesia Gunakan ‘Traffic Light’


2015_9largeimg28_sep_2015_161628047

IslamIndonesia.id – Hindari ‘Tragedi Mina’ Terulang, Tenda Haji Indonesia Gunakan ‘Traffic Light’

 

Tahun ini, tenda-tenda untuk jamaah haji Indonesia di Mina dilengkapi tiga lampu mirip ‘traffic light’. Jika lampu warna hijau menyala, jemaah diperbolehkan untuk melempar jumrah. Sementara itu, jika menyala lampu merah, artinya jemaah dilarang untuk melempar jumrah. Selanjutnya, jika warna kuning yang menyala, artinya area melempar jumrah cukup padat.

“Ini patut diapresiasi, karena merupakan inovasi baru mengenai kapan waktunya jemaah boleh melempar dan kapan dilarang,” kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyinggung teknologi karya ‘Muassasah Asia Tenggara’ itu, (6/9).

Seperti diketahui, musim haji 2015 lalu diwarnai tragedi Mina yang menelan 2.000 lebih korban jiwa, termasuk 125 jemaah haji Indonesia dan 5 warga negara Indonesia (WNI) yang sedang bekerja di Arab Saudi.

[Baca juga: Capai 2.400 Orang, Korban Tragedi Mina Tiga Kali Lebih Besar dari Klaim Arab Saudi: AP]

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku merasa gagap saat pertama kali mendengar peristiwa itu. Namun demikian, Menag mengatakan bahwa dalam waktu yang tidak lama, Pemerintah Indonesia dapat menerapkan manajemen krisis bagi penanganan peristiwa Mina sehingga dalam tiga jam setelah kejadian sudah bisa melakukan jumpa pers dan menjelaskan peristiwanya.

“Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang secara kontinue menyampaikan kepada publik melalui konferensi pers tentang apa yang terjadi di Mina dan apa yang dilakukan Pemerintah di tengah keterbatasan yang ada,” kata Menag seperti dikutip portal resmi Kementerian Agama, (3/2).

Selain itu, lanjut Menag, Indonesia adalah satu-satunya negara yang berhasil, tidak hanya mempublikasikan jumlah jamaah yang menjadi korban peristiwa Mina, tapi juga menyebutkan nama, alamat, dan identitasnya. Semua itu dilakukan ketika Saudi pun belum mengumumkan secara resmi, jumlah korban peristiwa Mina.

Lambatnya kinerja kerajaan Saudi dalam menyikapi tragedi berdarah itu menjadi sorotan negara-negara pengirim jama’ah haji se-dunia. Riyadh, – setelah terjadi sejumlah insiden serupa sebelumnya -, dinilai gagal menjaga keamanan umat Islam yang sedang beribadah di sana.

Salah satu yang disorot para ulama ialah pembangunan yang dilakukan ‘serampangan’  oleh Riyadh, khususnya di sekeliling Ka’bah. Sedemikian sehingga, KH. Musthafa ‘Gus Mus’ Bisri menilai kota suci itu tak berbeda dengan kota hiburan metropolitan di Amerika Serikat.

“Makkah itu udah kayak Las Vegas,” sindir Gus Mus tahun lalu di Bantul ketika menggambarkan fenomena menjamurnya hotel berbintang dan pusat perbelanjaan seperti mall di tanah yang disucikan umat Islam itu.

[Baca juga: Gus Mus: Makkah itu udah kayak Las Vegas]

Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj pun khawatir, pembangunan ala kerajaan itu kelak akan melahirkan masalah serius. “Puluhan bangunan megah didirikan bukan dalam rangka memperlancar proses ibadah haji, malah justru melahirkan sederet masalah,” kata Said, dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/10).

Jebolan Ummul Quro Makkah ini menganggap pembangunan gedung megah yang dilakukan pemerintah Saudi tidak sesuai dengan kesederhanaan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Ia mengungkapkan itu dengan mengutip sejarawan Arab Saudi, Ali Al-Jurjawi dalam Himatus Tasyri wa Falsafatuh, bahwa esensi dari ibadah haji adalah menapak tilas perilaku Nabi Muhammad SAW. []

[Baca juga: Cak Nun: Islam Tidak Selalu Sama Arab, Arab Tidak Selalu Sama Saudi]

 

YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *