Satu Islam Untuk Semua

Friday, 27 January 2017

Eks TKW di Aleppo: “ISIS Teriak Suruh Shalat, Mereka Sendiri Ngga Shalat”


sri-rahayu-tkw-yang-bekerja-di-suriah-asal-sumbawa

islamindonesia.id -Eks TKW di Aleppo: “ISIS Teriak Suruh Shalat, Mereka Sendiri Ngga Shalat”

 

Sejak Desember 2016, Aleppo di Suriah telah dibebaskan dari kelompok teroris seperti ISIS dan Jabhat An Nusra. Dengan terbebasnya Aleppo, maka tinggal bagian terbatas dari Provinsi Deir El Zour di timur dan Raqqa di utara Suriah yang masih diduduki para teroris.

Meski demikian, kota yang terkenal indah seperti Aleppo kini tinggal kenangan. Kerusakan parah akibat perang selama lima tahun mewarnai wajah kota ini. Tak hanya bagi warga setempat, warga Indonesia yang pernah bekerja di sana pun memiliki kenangan termasuk di Raqqa, kota yang kini masih belum aman.

Adalah Sri Rahayu, seorang  yang pernah menjadi tenaga kerja di Aleppo dan Raqqa. Wanita 46 tahun ini kembali dari Suriah dengan selamat, setelah bekerja selama lima tahun di negara itu.

[Baca juga- Apa yang Terjadi di Aleppo: Pembebasan atau Pembantaian?]

Seperti dilaporkan BBC Indonesia, awalnya Sri bekerja di Aleppo selama 2,5 tahun, meski kontraknya telah habis, Sri bukannya dipulangkan tapi ‘dijual’ oleh agen untuk bekerja di Raqqah. Kemudian dia bekerja selama tiga tahun terakhir di Kota Raqqah, yang pernah diklaim sebagai ibukota oleh kelompok yang menamakan diri “ISIS”.

Ketika di Raqqah, Sri berkisah bahwa ia sering mendengar ledakan bom dan suara tembakan beberapa bulan setelah ISIS menguasai kota itu. Rumah majikan Sri pernah terkena bom dalam sebuah serangan udara.

“Saya dengar itu pesawatnya, ketika itu saya sedang di dapur memasak, pancinya terbang ke mana-mana. Dagingnya juga. Saya (terhempas) ke tembok, terus di situ saya duduk. Api (berkobar) di rumah majikan, mau teriak nggak bisa, mau bergerak sudah tidak bisa. Kaget saya,” tutunya.

Setelah serangan bom itu, Sri dan majikannya tinggal di sebuah lubang perlindungan di bagian bawah rumah untuk menghindari serangan lanjutan.

Sri masih mengingat ISIS memberlakukan aturan yang ketat; perempuan harus memakai burqa, dan tidak diperbolehkan untuk bepergian sendirian. Mereka juga melarang merokok dan minuman keras.

“Tapi mereka juga melanggar. Katanya dilarang merokok dan minum, mereka sendiri minum, merokok -kan saya sering liat kalau ke pasar itu. Terus kalau waktu salat, teriak-teriak orang suruh salat, dirinya nggak salat,” kata Sri Rahayu.

Selama tinggal di Raqqah, Sri menyaksikan kekejaman ISIS, yang sering menaruh beberapa penggalan kepala manusia di tengah kota.

“Waktu itu hari Jumat, saya minta uang sama majikan, saya mau belanja sayur-sayuran. Sudah ramai di situ. Saya penasaran ada orang memfoto, syuting-syuting di situ,” kisah Sri.

“Saya jalan ke sana. Pas saya nengok, ada tujuh atau delapan kepala itu dijejer, darahnya masih mengucur. Sayuran belanjaan saya lempar, dan langsung saya lari ke rumah majikan, pulang.”

[Baca juga- Terjepit di Suriah, 531 ‘Mujahidin’ ISIS Pulang ke Indonesia]

Pengalaman yang mengerikan itu, membuat Sri ingin kembali ke Indonesia. Berbekal telepon genggam pinjaman dari majikannya, dia mencari nomor kontak KBRI.

Meski berhasil mengontak KBRI, Sri harus menunggu selama satu tahun. Itu, menurut KBRI, karena sulitnya ‘menyelamatkan’ orang dari Raqqah yang dikuasai ISIS.

Sri kemudian dijemput supir taksi yang disewa KBRI, untuk menuju Damaskus melalui perjalanan selama enam hari dengan melewati pegunungan agar menghindari ISIS yang berjaga di perbatasan Raqqa.

Setelah kembali ke desanya, Sri mengaku tak ingin kembali bekerja lagi ke luar negeri dan memilih untuk bertani.

“Perasaan saya bebas. Alhamdulillah saya masih hidup, walaupun saya tidak bawa apa-apa, saya bisa ketemu lagi dengan keluarga: sama ibu, suami, anak. Alhamdulillah lega. Kalau rejeki di mana-mana dapat,” jelas Sri.

Kini, Sri telah berada di Desa Gontar, Alas Barat, Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini memang merupakan salah satu pengirim buruh migran yang terbesar di Indonesia.

Meski telah beberapa bulan kembali ke desanya, Sri mengaku masih sering merasa kaget dengan bunyi suara yang keras.

“Saya khawatir itu merupakan suara bom,” katanya.

Seperti diketahui, ribuan tenaga kerja Indonesia telah dipulangkan dari Suriah, sejak 2012 lalu. Beberapa bulan setelah perang di Suriah meletus, Indonesia menghentikan pengiriman tenaga kerja Indonesia TKI ke negara itu.

Meski demikian masih banyak TKI yang tetap dikirim secara ilegal ke sana dan tidak diketahui berapa banyak yang masih terjebak konflik.[]

[Baca juga: Eks Pejabat Kemenkeu beserta Keluarganya Tertangkap Saat Mau Bergabung dengan ISIS]

 

YS/ islam indonesia/ foto: detik.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *