Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 13 November 2016

Buya Syafi’i: “Kekerasan Telah Menjadi Mata Pencaharian”


57706_620

IslamIndonesia.id – Buya Syafi’i: “Kekerasan Telah Menjadi Mata Pencaharian”

 

Di usianya yang cukup sepuh, tokoh senior Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif  masih memiliki obsesi yang ingin melihat sebuah Islam yang damai dan sejuk. Sedemikian sehingga, bagi pria yang akrab disapa Buya Syafi’i ini, kaum Atheis pun punya hak untuk hidup dalam Islam.

“Asal kita saling menjaga, saling menghormati. Tidak saling curiga. Menurut Al-Qur’an, iman itu adalah atas izin Allah. Gamblang sekali. Jadi, Al-Qur’an itu jauh lebih toleran daripada orang Islam sendiri. Ini sebetulnya berhubungan dengan bagaimana orang memahami Islam itu sendiri. Masalahnya memang pemahaman,” katanya ketika diwawancarai redaktur Majalah Madina, delapan tahun lalu.

Namun, benang merah ini tidak dilihat oleh orang-orang Islam yang tidak toleran. “Kalau saya, saya ingin meletakkan ’Islam sebagai rahmat bagi alam semesta’ sebagai payung besarnya. Semua pikiran mengalir di bawahnya,” kata pria kelahiran Minangkabau ini.

Sumanto Al-Qurtuby: Buya Syafii, Ulama Sejati

Untuk mencapai cita-cita ini, sebetulnya di mata Buya tidaklah susah. Tapi karena sebagian Muslim sudah tak terlalu akrab lagi dengan Al-Qur’an, jadilah apa yang sedang terjadi. Al-Qur’an ditafsirkan melalui para penafsir di abad lampau, yang terikat oleh zaman.

“Saya berharap bahwa mereka yang menafsir Al-Qur’an secara sempit itu harus membaca Al-Qur’an secara utuh. Jangan hanya melihat ayat Al-Qur’an yang ayat-ayat jihad saja. Lihat dulu konteksnya. Tapi payung besarnya harus dipahami dulu, yakni rahmatan lil ’alamin, rahmat bagi alam semesta,” kata pria yang kini berusia 81 tahun ini.

Buya menambahkan, pemahaman terhadap Al-Qur’an itu bisa seluas samudera, asal kita tulus. Asal otak kita sehat, hati kita sehat… “Al-Qur’an itu sangat bersahabat dengan kita. Asal pemahaman kita itu tidak ditumpangi oleh agenda-agenda yang duniawi,” katanya

Buya Syafi’i: Bukankah Gejala Ahok Tanda Gagalnya Partai Muslim Tampilkan Pemimpin?

Agenda duniawi yang ia maksud sebagaimana yang sudah dialami oleh manusia sejak ribuan tahun lalu.  “Syahwat politik, syahwat benda… yang semacam itulah. Itu saja, sebetulnya. Tapi, hal-hal itu didukung dengan dalil. Itu yang saya katakan sebagai pembajakan terhadap ayat-ayat suci.”

Kerena itu, Islam tidak sekadar inspirasi saja. Ada movement, gerakan juga. Bukankah Al-Qur’an adalah hudan linnas, petunjuk bagi manusia? Karena ia petunjuk bagi umat manusia, maka ia harus inspiratif.

“Dan kalau Anda lihat, konsep keadilan adalah sisi lain dari taufiq. Itu sebenarnya adalah sisi lain dari mata uang yang sama.”

Ditanya soal fenomena kekerasan berbaju agama, Buya berharap ini tidak berumur panjang. Dalam hal ini, ia memandang harus ada alternatif lain. Tak lupa Buya mengenang Mahatma Gandhi, seorang yang Hindu dan merupakan anti-kekerasan.  

“Masak orang Islam kalah dari orang Hindu? Sekarang ini banyak yang menggunakan ayat-ayat ‘keras’. Ayat-ayat ‘keras’ itu kan ada konteksnya. Dan jumlahnya sedikit sekali. Sebagian besar kan ayat yang menebarkan kasih sayang, yang menentang kemiskinan. Ayat-ayat itu harus dibaca. Para khatib Jumat ini harus mau belajar Islam lebih dalam. Lebih konprehensif.”

Di tengah gelombang kekerasan itu, Buya mengapresiasi sejumlah gerakan Islam Indonesia moderat seperti apa yang dilakukan Masdar F. Mas’udi di P3M, Wahid Institute, dan lain-lain. Mereka, walau gaungnya tak jarang tenggelam oleh fenomena intoleransi dan kekerasan, namun mereka tetap mengupayakan kaderisasi.

“Hanya saja, kaum moderat ini kan berpikirnya jangka panjang. Sementara yang mengusung kekerasan ini …begini, kekerasan itu sekarang sudah menjadi mata pencaharian,” ungkap Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini.

Meski demikian, Buya juga melihat gelombang besar intelektual muda yang moderat. Para intelektual muda yang menurutnya memiliki kualitas bagus. Mereka percaya umat Islam itu umatan wasathan, umat moderat.

“Tapi, kadang-kadang, bisa saja gelombang besar itu disusupi virus-virus pengerasan itu. Itu terkait latar belakang pendidikan mereka. Mereka tidak sempat melihat Al-Qur’an secara holistik. Kalau dilihat seluruhnya, sesungguhnya enak sekali. Kalau Anda paham Al-Qur’an, mendekati Al-Qur’an secara holistik, kita akan bisa bersahabat dengan siapa saja. Termasuk dengan orang tidak beriman.”

Sayangnya tidak sedikit orang menganggap pluralisme sebagai ajaran sesat dalam agama. Mereka, kata Buya, menafsirkan pluralisme sebagai “orang bebas pindah-pindah agama”.

“Itu dari mana? Bisa saja ada pendapat begitu, tapi bukan begitu pluralisme yang kita pahami. Pluralisme artinya kita mengakui adanya keberbagaian. Apa itu agama, ideologi, hukum, itu berbagai-bagai. Al-Qur’an menyatakan bahwa, Wahai manusia, Kami jadikan kalian bersuku-suku agar saling mengenal.”

Saling mengenal itu artinya bertukar unsur-unsur peradaban, jelas Buya. Kemudian dinyatakan bahwa yang paling mulia di antara manusia adalah yang paling bertakwa.

Nah, yang paling bertakwa di sini artinya adalah yang kualitas spiritualnya paling tinggi. Yang bisa begini siapa saja dalam Islam, termasuk yang buta huruf. Bukan hanya mereka yang sekolah tinggi-tinggi saja, tapi seorang nelayan pun bisa menjadi yang paling mulia.”

Sayangnya,  para ulama sekarang termasuk Majelis Ulama Indonesia, kata Buya, harus mendefinisikan ulang dirinya sendiri. Baik itu defenisi peran mereka dalam masyarakat, dengan Al-Qur’an sebagai rujukan yang pertama dan utama.

“Tapi Al-Qur’an itu harus dipahami secara jujur, otentik, tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek, rendah, duniawi,” katanya[]

Soal Ahok dan Penistaan Agama, Buya Syafi’i: Fatwa MUI Kurang Cermat

 

YS / islam indonesia / sumber: madinaonline.id / foto: tempo.co

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *