Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 24 March 2016

ANALISIS – Belgia, ‘Inkubator’ Jihadis di Eropa


bom belgia

Aksi teror yang menewaskan puluhan orang di Belgia dua hari lalu membuka tabir lebih jauh tentang ibukota NATO dan Uni Eropa ini. Negeri yang bertetangga dengan Prancis, Jerman dan Belanda ini disinyalir telah menjadi salah satu episentrum—jika tidak mau disebut sebagai episentrum terbesar—gerakan-gerakan Islam ekstremis di Eropa.

Koran Inggris The Independent mengutip kata-kata walikota Vilvoorde, sebuah kota di pinggiran Brussels, yang menyatakan bahwa situasi keamanan Belgia merupakan ‘contoh sempurna dari suatu kekacauan yang terorganisir’. Ungkapan ini menunjukkan betapa negara ini sejak lama telah menjadi inkubator para ekstremis takfiri yang kemudian menyebar ke seantero dunia, terutama ke Timur Tengah.

Dan benar, sebelum peristiwa dua hari silam, Belgia lebih sebagai inkubator jihadisme ketimbang target aksi terorisme yang tumbuh subur dalam negerinya sendiri. Aksi penyerangan atas museum Yahudi di Brussels pada Mei 2014 lalu, yang menewaskan 4 orang, sebenarnya lebih didorong oleh sentimen anti-Yahudi ketimbang “anti-Belgia”. Tapi, kini, Belgia mulai menyadari persoalan laten yang lama mengintainya: terorisme yang berkembang dalam negerinya sendiri.

Foto bom Airport

Aksi teror 13 November tahun lalu di Paris, seperti telah dilaporkan sejumlah media, direncanakan dan dioperasikan dari Brussels. Pemimpinnya, Abdehamid Abaaoud, lahir di Belgia. Pelaku yang kabur dan kemudian ditangkap pekan lalu, Salah Abdeslam, adalah warga Prancis asal Maroko yang juga tinggal di Molenbeek, kota yang dipadati komunitas Muslim di sisi barat ibukota Belgia. Demikian pula banyak laporan yang menyebutkan bahwa jumlah remaja Belgia yang – sebagiannya mualaf– ikut bertempur dengan ISIS dan kelompok-kelompok ekstremis takfiri lain di Timur Tengah dua kali lipat lebih banyak dibanding negeri-negeri Eropa lain.

Dilihat dari sisi waktu, pemboman dua hari silam boleh jadi merupakan aksi pembalasan atas penangkapan Abdeslam. Tapi boleh jadi juga, sebagaimana kata The Independent, ada persoalan yang lebih kompleks dan pelik di balik aksi ini.

Still from Channel 4 News. Believed to be the moment Salah Abdeslam arrested after being wounded in a police shootout. The suspected Paris attack mastermind has been captured alive along with two others following shootout with Brussels police, according to French and Belgian authorities

Pelbagai fakta menunjukkan bahwa Brussels sedang menuai badai radikalisasi komunitas Muslim yang jauh lebih berbahaya dibanding negara-negara Eropa lain seperti Jerman, Prancis, Inggris dan Belanda. Ada beberapa faktor umum. Misalnya, tingginya pengagguran, diskriminasi, politik identitas yang menjelaskan keterasingan hampir seluruh remaja Muslim di negara-negara Eropa. Tapi, di Belgia, masalahnya lebih rumit dan ada faktor yang lebih khas.

Di sini fenomena keterbelahan identitas antara pengguna bahasa Belanda dan Prancis yang telah berlangsung selama dua dekade lalu dan memudarkan identitas kebangsaan di Belgia menambah disorientasi dan alienasi komunitas Muslim. Akibatnya, sebagian remaja Muslim merasa identitas Islam ala ISIS, suatu identitas trans-nasional yang begitu menggoda kaum remaja, lebih sesuai dan “masuk akal” bagi mereka.

Masalah lain yang patut menjadi perhatian terkait dengan meriapnya ekstremisme kalangan remaja Muslim di Eropa ialah kuatnya jaringan Islam wahabi di negeri ini. Seperti umumnya negeri Eropa lain yang dekat dengan elit Saudi dan mengukuhkannya sebagai otoritas Islam di negerinya, Belgia membiarkan puluhan organisasi, lembaga dan yayasan Wahabi berkembang pesat di wilayahnya. Di ruang-ruang pendidikan agama mereka, remaja Muslim Eropa ini diajarkan untuk “kembali ke masa hidup Nabi dan para sahabat”, dan menekankan suatu gaya hidup kuno itu sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya hidup Eropa dan Barat.

Hari-hari ini, pribahasa Inggris lama ini tentu terus mengiang di kepala para petinggi Uni Eropa, terutama Belgia: chickens come home to roost. Setelah lama mengabaikan protes sejumlah pemimpin Timur Tengah agar aparat Eropa lebih serius menghentikan gerakan kaum ekstremis menuju Suriah, kini mereka harus merasakan konsekuensi keteledoran tersebut. Paham Wahabi yang melahirkan terorisme ini tak bisa diperangi secara tebang pilih. Ia adalah ideologi yang tak bisa menerima pihak lain, siapa pun pihak lain itu. Ia tak bisa dikendalikan atau dijadikan alat penekan musuh-musuh politik tertentu, karena ia menular dan menyebar dengan cepat.

AJ/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *