Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 15 November 2018

Analisis – Trilogi Saudi-Wahhabi-Amerika di mata Buya Syafii Maarif (Bagian 2)


ahmad-syafii-maarif-_120506223112-870

islamindonesia.id – Trilogi Saudi-Wahhabi-Amerika di mata Buya Syafii Maarif (Bagian 2)

 

Pada artikel sebelumnya penulis telah menyebutkan bahwa ada tiga aktor utama yang diulas dalam artikel Buya Syafii, mereka adalah (1) Rezim Saudi, (2) Ulama Wahhabi, dan (3) Amerika Serikat. Artikel kali ini akan membahas bagaimana hubungan ketiga aktor tersebut.

Buya Syafii sangat menekankan (sampai dua kali beliau menyuruh) kepada para pembaca untuk membaca artikel dari Prof DR Abdullah Mohammad Sindi (warga Saudi kelahiran Mekkah, 1944) yang menurutnya telah memberikan kritik “yang sangat mendasar, tajam, dan argumentatif” terhadap Rezim Saudi. Artikel tersebut ditulis dalam bahasa Inggris dengan judul Britain, the Rise of Wahhabism and the House of Saud, dan isinya lumayan panjang!

Penulis akan berbaik hati kepada para pembaca dengan membuat rangkuman dari artikel tersebut dan tentunya dalam bahasa Indonesia. Ini penting, karena pemikiran Buya Syafii dalam artikelnya banyak dipengaruhi oleh tulisan yang dibuat oleh Prof DR Abdullah Mohammad Sindi tersebut. Perlu dicatat, ulasan penulis nanti sepenuhnya bersumber dari artikel yang ditulis oleh Sindi. Berikut ini adalah ulasannya:

 

Pengantar

Wahhabisme adalah sekte resmi dan paling dominan di Arab Saudi pada hari ini. Wahhabi dan Keluarga Saud saling bergantung satu sama lain dan keduanya tidak dapat bertahan hidup tanpa kehadiran salah satunya. Wahhabi mempromosikan keterbelakangan bagi warganya sendiri dengan menolak modernisasi. Selain itu, mereka juga mengharamkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ketika sekte Muslim manapun yang lainnnya justru melaksanakannya.

 

Kelahiran Wahhabisme

Wahhabi dilahirkan di Dir’iyyah (sekarang berada di dekat Riyadh, ibu kota Arab Saudi) dari pendirinya yang bernama Muhammad bin Abdul-Wahhab (1703-92) pada pertengahan abad ke-18. Muhammad bin Abdul-Wahhab (selanjutnya disebut Ibnu Abdul-Wahhab). Dia adalah seseorang yang dididik oleh intelijen Inggris untuk menghancurkan Islam dan Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman) dari dalam.

Dalam catatan intelijen Inggris, Abdul-Wahhab digambarkan sebagai seseorang yang sangat tidak stabil, sangat kasar, secara moral bejat, penggugup, arogan, dan abai. Meski demikian Inggris tetap mendidiknya dengan ide-ide tentang pemurnian agama Islam.  Juga ditanamkan bahwa dia adalah manusia pilihan Nabi Muhammad yang diberi tugas sebagai penyelamat agama Islam.

 

Negara Saudi-Wahhabi pertama: 1744-1818

Di Najd, tempat kelahirannya, Ibnu Abdul-Wahhab mulai menyebarkan ajaran pemurnian agama versi Wahhabisme. Karena dianggap ekstrem, dia diusir dari sana. Dia kemudian pindah ke Dir’iyyah. Di sana intelijen Inggris berhasil membujuk penguasa lokal setempat yang tidak terlalu penting untuk mendukung “dakwah” Ibnu Abdul-Wahhab dengan iming-iming uang, dialah yang bernama Muhammad al-Saud.

Pada tahun 1744, keduanya mengikat komitmen aliansi politik, religius, dan hubungan pernikahan (dalam sumber lain disebutkan bahwa al-Saud dinikahkan dengan putri Ibnu Abdul-Wahhab). Dengan persatuan dalam ikatan kekeluargaan ini, yang mana masih bertahan sampai hari ini, Wahhabisme sebagai gerakan agama dan politik telah lahir.

Dengan dukungan dana dan persenjataan dari Inggris, aliansi Wahhabi-Saud mulai melancarkan gerakan teror di jazirah Arab dan Damaskus untuk mendirikan negara Saudi-Wahhabi pertama. Mereka membentuk pasukan untuk memerangi apa yang mereka sebut sebagai perilaku musyrik dan bid’ah.

Pada tahun 1801 mereka secara brutal menghancurkan dan merusak makam Husein bin Ali (cucu Rasul) di Karbala. Tanpa ampun mereka membunuh 4.000 warga Karbala, dan menjarah apapun yang dapat mereka ambil. Dikatakan mereka menggunakan 4.000 unta untuk mengangkut semua harta benda hasil jarahan karena saking banyaknya.

Pada tahun 1810, Wahhabi-Saud merampok, menjarah, dan membunuh penduduk jazirah Arab termasuk di kota Mekkah dan Madinah. Di Mekkah, mereka mengusir para peziarah. Di Madinah, mereka menyerang dan menodai Masjid Nabawi, membuka kompleks makam Nabi, dan menjarah benda-benda bersejarah dan permata yang bernilai sangat tinggi untuk dijual kembali.

Perilaku mereka menimbulkan kemarahan yang amat mendalam dari masyarakat Muslim pada waktu itu, hingga akhirnya Sultan Ottoman Mahmud II mengirimkan pasukannya untuk menumpas gerombolan Wahhabi-Saud. Imam mereka pada waktu itu, Imam Abdullah al-Saud, digelandang ke Istanbul dan dieksekusi di sana. Sementara itu pengikut Wahhabi-Saud lainnya dipenjarakan di Kairo.

Gerakan Wahhabi-Saud berhasil ditumpas waktu itu, namun mereka belum benar-benar punah. Ke depan, mereka masih akan bangkit kembali.

Bersambung ke: Bagian 3

Sebelumnya: Bagian 1

 

PH/IslamIndonesia/Sumber Photo: Daan, Republika

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *