Satu Islam Untuk Semua

Monday, 02 May 2016

ANALISIS–Di Parlemen Negeri Mullah, Jumlah Perempuan Mengungguli Ulama


perumpuan-di-iran-islamindonesia.id

Islamindonesia.id–Di Parlemen Negeri Mullah, Jumlah Perempuan Mengungguli Ulama

Untuk pertama kali dalam sejarah Iran pasca revolusi, persentase anggota parlemen perempuan lebih banyak ketimbang mullah. Parlemen baru yang akan disumpah pada 28 Mei ini memiliki masa jabatan hingga 2020. Dan ini adalah parlemen yang kesepuluh sejak 1979.

Hasil resmi pemilihan parlemen putaran kedua ini menunjukkan kemenangan cukup signifikan bagi kalangan reformis dan moderat yang beraliansi dengan Presiden Hassan Rouhani. Hasil ini menunjukkan kemenangan kubu reformasi dan moderat atas rivalnya dari kalangan konservatif sejak 2004.

Setelah selesainya putaran kedua pemilihan legislatif kali ini, sebanyak 17 perempuan akan menduduki posisi sebagai wakil rakyat yang berjumlah total 290 kursi—satu kursi lebih banyak dari jumlah mullah yang berhasil lolos sebagai anggota legislatif. Kiprah politik perempuan Iran beberapa tahun ini memang terus meningkat.

Sebagai gambaran, pada parlemen pertama setelah revolusi Islam 1979, parlemen Iran diisi oleh 164 mullah. Para politisi paling masyhur Iran adalah mantan anggota parlemen, termasuk Presiden Rouhani yang menjadi anggota legislatif dari 1980 hingga 2000. Dua presiden sebelumnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mohammad Khatami juga pernah menjabat sebagai anggota parlemen.

Namun, sejak parlemen pertama tahun 1980 yang berisi 153 mullah, jumlah mereka terus berkurang. Pada periode selanjutnya jumlah mullah hanya 85, berkurang lagi jadi 67 dan terus berkurang hingga 52 pada parlemen kelima. Jumlah mullah di parlemen terakhir hanya 27 dengan 16 orang yang kini kembali terpilih.

Bertambahnya persentase jumlah anggota perempuan di parlemen, menurut sebagian kalangan, menunjukkan tingkat partisipasi rakyat dari berbagai kalangan yang terus meningkat dalam proses politik Iran. Hasil parlemen ini juga mengindikasikan bergesernya kecenderungan reformasi dari arus pinggiran menjadi arus utama.

Hasil parlemen Iran kali ini menunjukkan adanya 133 anggota legislatif dari kalangan reformasi, hanya kurang 13 untuk membentuk mayoritas. Tapi jumlah ini lebih banyak dari 125 anggota dari kalangan konservatif. Sisa kursi diisi oleh utusan independen dan kaum minoritas dari berbagai agama dan etnik.

Para analis menyebut kekalahan kubu konservatif ini lebih karena ketidakharmonisan internal dibanding kemerosotan dukungan politik arus bawah. Ketidakharmonisan ini terutama terjadi di antara para pendukung dua tokoh konservatif, yakni mantan Presiden Ahmadinejad dan mantan Ketua Parlemen Hadad Adel dan Ketua Parlemen Ali Larijani. Perselisihan internal ini menyebabkan kubu Ahmadinejad jauh-jauh hari telah memprediksi kekalahan kubu konservatif pimpinan Hadad Adel-Larijani dalam pemilihan legislatif kali ini.

Kubu Ahmadinejad diperkirakan akan mengikuti pertarungan politik menuju RII 1 pada pemilihan presiden tahun 2017 mendatang. Ahmadinejad didapuk mewakili suara konservatif yang kecewa dengan Hadad Adel-Ali Larijani. Sejumlah pengamat menyebut pilpres Iran 2017 bakal heboh lantaran kembalinya anak kampung Ahmdinejad ke pentas nasional Iran.

 

AJ/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *