Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 09 November 2017

ANALISIS – Angin Perubahan dari Muhammad bin Salman bagi Arab Saudi


Muhammad bin Salman, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi. Photo: Reuters

islamindonesia.idANALISIS -Angin Perubahan dari Muhammad bin Salman bagi Arab Saudi

 

Sebelum diangkat menjadi putra mahkota kerajaan Arab Saudi pada 21 Juni 2017, Muhammad bin Salman atau yang oleh media biasa disebut MBS, sudah menarik perhatian dunia internasional karena perannya yang begitu besar dalam dinamika pemerintahan kerajaan Arab Saudi. Dia dipercaya memegang jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan ayahnya, Salman bin Abdul Aziz (Raja Arab Saudi saat ini), di antaranya sebagai Menteri Pertahanan, Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan, dan Wakil Perdana Menteri.

MBS juga diyakini menjadi tokoh utama di balik agresi Arab Saudi ke Yaman dan perseteruan Arab Saudi dengan Qatar. Selain itu, dia juga yang mencetuskan konsep ekonomi Arab Saudi dalam jangka panjang yang disebut dengan Visi 2030 yang diluncurkan pada 25 April 2016. Menurut Lyse Doucet dari bbc.com, Arab Saudi membayar sangat mahal para konsultan luar negeri demi terciptanya cetak biru Visi 2030 yang dinilai sangat ambisius.

Logo Vision 2030

Logo Vision 2030

Point penting dalam Visi 2030 di antaranya adalah menggantikan pendapatan Arab Saudi yang bergantung terhadap penjualan minyak bumi. John Sfakianakis pengamat dari Gulf Research Center, sebagaimana dilansir oleh bbc.com, mengatakan bahwa 90% pendapatan Arab Saudi bergantung terhadap minyak dan gas.

MBS juga berjanji untuk mendorong kewiraswastaan yang lebih besar di sebuah negara di mana dua pertiga dari angkatan kerjanya dipekerjakan oleh negara. Dia memimpin dewan tertinggi Aramco, menjadikannya anggota keluarga kerajaan pertama yang bertindak mengawasi perusahaan minyak negara secara langsung yang telah lama diperintah oleh para teknokrat. Dia pun mengajukan IPO (Initial Public Offering– Penawaran Umum Perdana) yang kontroversial, 5% saham dari Aramco akan dijual, hal tersebut direncanakan tahun depan dapat terwujud.

Atas segala sepak terjangnya di kerajaan Arab Saudi yang mencakup begitu banyak hal, maka oleh media barat dia dijuluki Mr. Everything (Tuan Segalanya, karena segala sesuatunya diurus oleh dia).

Kemudian muncullah berita yang cukup mengejutkan dunia internasional, Salman bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi saat ini, mengubah tradisi suksesi kerajaan Arab Saudi. Salman menyingkirkan Pangeran Muhammad bin Nayef sebagai putra mahkota dan menyerahkan kepada MBS, yang  merupakan anak kandungnya sendiri. MBS adalah putra ke-7 Salman dari istri ketiganya yang bernama Fahda binti Falah bin Sultan Al Hithalayn. Sebagaimana dilansir oleh detik.com, sebanyak 31 dari 43 anggota komisi suksesi Arab Saudi mendukung MBS menjadi putra mahkota yang baru.

Usia MBS dengan Muhammad bin Nayef terpaut cukup jauh. Ketika diangkat sebagai putra mahkota MBS baru berusia 31 tahun, sementara Muhammad bin Nayef 27 tahun lebih tua dibanding dirinya. Dengan posisinya sebagai putra mahkota hari ini dia menjadi orang terkuat kedua di dalam kerajaan Arab Saudi, dan apabila ayahnya meninggal—yang kini berusia 81 tahun dan sudah sakit-sakitan, maka MBS akan menjadi raja termuda di dunia dalam sejarah monarki modern.

Muhammad bin Salman bersama Muhammad bin Nayef pada Gulf Cooperation Council Summit ke-36 di Riyadh. Photo: Fayez Nureldine/AFP/Getty

Muhammad bin Salman bersama Muhammad bin Nayef pada Gulf Cooperation Council Summit ke-36 di Riyadh. Photo: Fayez Nureldine/AFP/Getty

Bagi para kritikus di dalam dan luar negeri, MBS dinilai sebagai orang yang berbahaya dan tidak berpengalaman yang bisa merusak stabilitas dan menyebabkan Arab Saudi mengalami bencana yang tidak disengaja. Namun, dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, MBS mengatakan bahwa 70% dari warga Saudi berusia di bawah 30 tahun, dan apabila tidak ditangani dengan tepat maka hal tersebut akan menjadi persoalan di kemudian hari. Saat ini di Arab Saudi masyarakat kesulitan mencari pekerjaan, dan kalaupun ada, perkerjaan yang tersedia jenis pekerjaan kasar/rendahan.

Simon Tisdall, pengamat politik luar negeri dari The Gurdian mengatakan, justru bagi kaum muda Arab Saudi yang selama ini frustasi oleh tradisionalisme kerajaan dan kekakuan hukum agama, MBS dipandang sebagai sosok reformis yang mampu membawa negara menuju masa depan yang lebih cerah dan terbuka. Terlebih, MBS sendiri secara usia masih dibilang muda, sehingga dengan naiknya MBS menjadi putra mahkota, dia bisa dianggap sebagai representasi pemuda Arab Saudi yang jumlahnya mayoritas.

Revolusi Kultural

MBS menilai bahwa Arab Saudi saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan karena ideologi ekstremis telah menjadi landasan kenegaraan Arab Saudi, dan bagi dia, hal inilah yang menjadi penghambat majunya Arab Saudi.

Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, MBS mengatakan “Kita hanya kembali pada apa yang kita ikuti – (yaitu) Islam moderat (yang) terbuka terhadap dunia dan semua agama. 70% orang Saudi lebih muda dari 30 tahun, sejujurnya kita tidak akan menyia-nyiakan 30 tahun kehidupan kita untuk melawan pemikiran ekstremis, kita akan menghancurkan mereka sekarang dan segera.”

Dia juga menambahkan, “Apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir ini bukanlah Arab Saudi. Apa yang terjadi di wilayah ini dalam 30 tahun terakhir bukanlah Timur Tengah. Setelah revolusi Iran pada tahun 1979, orang-orang ingin menyalin model ini ke berbagai negara, salah satunya ke Arab Saudi. Kami tidak tahu bagaimana mengatasinya. Dan masalah ini tersebar di seluruh dunia. Sekarang saat yang tepat untuk menyingkirkannya.”

Ratusan dari ribuan mahasiswa Arab Saudi, melakukan studinya di Universitas terbaik di luar negeri, di negara-negara Barat. Raja sebelumnya, yakni Abdullah, diketahui sangat bermurah hati dalam memberikan beasiswa bagi warganya. Setelah lulus, mereka akan kembali ke negaranya di mana bioskop saja dilarang. Kehidupan sosial masyarakat dijaga ketat oleh polisi syariat yang disebut Mutawa. Mereka melakukan razia-razia di tempat umum terkait cara berpakaian perempuan, interaksi yang sah antara perempuan dan laki-laki menurut agama, pemeriksaan identitas, dan lain-lain. Singkatnya, Mutawa menjadi sosok menakutkan bagi warga Arab Saudi.

Banyak mahasiswa Arab Saudi yang sekolah di luar negeri. Photo: AFP

Banyak mahasiswa Arab Saudi yang sekolah di luar negeri. Photo: AFP

Kini, di bawah MBS, Mutawa dilarang lagi melakukan penangkapan, dan menurut kabar yang beredar, Arab Saudi akan membangun bioskop dan tempat-tempat hiburan lainnya. Dengan segala perubahan yang dramatis ini, MBS menjadi populer di kalangan anak muda Arab Saudi.

Baca: Melirik Jejak dan Tantangan Perubahan Polisi Syariah di Saudi

Restoran di Arab Saudi harus menyediakan tempat yang terpisah bagi lelaki dan perempuan. Photo: AFP

Restoran di Arab Saudi harus menyediakan tempat yang terpisah bagi lelaki dan perempuan. Photo: AFP

Untuk mewujudkan Visi 2030 yang berorientasi ekonomi, MBS menilai diperlukannya revolusi kultural. Martin Chulov, pengamat Timur Tengah dari The Guardian, melakukan sebuah wawancara dengan salah seorang menteri senior Arab Saudi, menteri tersebut mengatakan, “Mereka (MBS beserta pendukungnya) berharap seluruh perubahan nilai dapat diselesaikan dalam satu generasi. Untuk melakukannya, pada saat yang bersamaan dengan membangun ekonomi baru, mereka harus berhadapan dengan kelompok ulama.”

Ikhwanul Kiram Mashuri, dalam sebuah analisisnya di harian Republika, mengatakan ada dua persoalan yang menghambat terwujudnya Visi 2030. Pertama, berbagai aturan—bersumber pada fatwa para ulama Wahabi—yang membelenggu hak-hak dan kebebasan perempuan. Untuk mencapai Visi 2030, kaum perempuan Saudi harus produktif. Oleh karena itu, mereka harus menjadi mitra sejajar dengan laki-laki sehingga bisa ikut serta secara aktif memajukan negara.

Kedua¸ adanya kelompok-kelompok ekstrem. Sang Putra Mahkota menegaskan, ekstremisme atau kelompok-kelompok ekstrem adalah musuh negara dan bangsa, musuh pembangunan, dan musuh modernisasi. Penegasan itu ia sampaikan saat memberikan sambutan pada peluncuran proyek raksasa di pesisir Laut Merah pada 26 Oktober 2017 yang betajuk NEOM.

MBS tidak bermain-main, dilansir oleh kompas.com, sebelumnya aparat Arab Saudi dilaporkan telah menangkap lebih dari 20 imam dan kaum intelektual dalam suatu langkah keras membasmi pembangkangan. Imam terkemuka Salman al-Odah dan Awad al-Qarni termasuk di antara mereka yang dilaporkan ditahan sejak awal September 2017. Odah, yang dulunya dikenal akan pandangan keagamaannya yang ekstrem dan pernah dipenjara dari 1994-1999 karena mendorong perubahan politik, adalah seorang imam populer dengan 14 juta pengikut di Twitter.

Photo Profile Salman al-Odah di Twitter

Photo Profile Salman al-Odah di Twitter

Selain itu, dilansir oleh detik.com, dalam kampanyenya yang berjudul “perang melawan korupsi”, secara keseluruhan MBS telah menyasar 11 pangeran, empat menteri, dan puluhan mantan menteri. Termasuk yang dilaporkan ditahan pada hari Minggu 5 November 2017 tersebut adalah Pangeran Alwalid bin Talal, seorang pebisnis terkemuka dan investor.

Pada Selasa 7 November 2017, Jaksa Agung Saudi, Saud al-Mojeb mengeluarkan pernyataan yang menegaskan “(penangkapan) ini hanyalah awal dari rangkaian penting untuk membasmi akar-akar korupsi.” Ia menyebut rangkaian penahanan tersebut “menandai rampungnya fase pertama (perang melawan korupsi di Saudi).”

List Keluarga Kerajaan yang ditangkap oleh Muhammad bin Salman. Photo: Al-Jazeera

List Keluarga Kerajaan yang ditangkap oleh Muhammad bin Salman. Photo: Al-Jazeera

Kemudian berbicara mengenai perempuan yang selama ini dianggap kaum marginal di Arab Saudi, pemerintah Arab Saudi telah mengeluarkan sebuah dekrit yang mengizinkan perempuan untuk mengemudi kendaraan pada tanggal 26 September 2017. Dengan adanya peraturan baru tersebut, dengan demikian Arab Saudi menjadi negara penutup bagi berakhirnya larangan mengemudi untuk perempuan, pasalnya Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang masih memberlakukan larangan tersebut.

Namun, para perempuan Arab Saudi mesti bersabar dulu, karena peraturan tersebut baru mulai diberlakukan pada bulan Juni 2018. Banyak kalangan menilai bahwa dicabutnya peraturan ini baru permulaan saja dari peperangan melawan fatwa haram ulama yang dianggap menghambat terwujudnya Visi 2030.

Baca: Ini 13 Aturan Bagi Perempuan yang Masih Bertahan di Saudi

Mulai bulan Juni 2018, perempuan di Arab Saudi boleh mengendarai mobil, Photo: Faisal Al Nasser/Reuters

Mulai bulan Juni 2018, perempuan di Arab Saudi boleh mengendarai mobil, Photo: Faisal Al Nasser/Reuters

Apabila melihat sejarah, ternyata raja sebelumnya, Raja Abdullah, juga pernah membuat perlawanan terhadap ulama dalam bentuk yang lebih lembut. Pada tanggal 11 April 2011, Raja Abdullah, dan putra mahkota, Salman bin Abdul Aziz, berfoto bersama perempuan-perempuan di Barat Daya kota Najran dengan jilbab yang lebih terbuka. Photo tersebut merupakan aksi simbolis perlawanan dari Raja terhadap para ulama.

Tidak ada yang dapat dilakukan oleh ulama pada waktu itu. Hal yang dilakukan oleh Raja Abdullah bersama Salman pada waktu itu merupakan hal yang tabu, perempuan dan laki-laki yang bukan suami atau mempunyai hubungan saudara (bukan muhrim) dilarang berkumpul bersama dalam bentuk apapun. Terhadap kejadian tersebut ulama hanya bisa menggerutu.

Raja Abdullah, dan putra mahkota, Salman bin Abdul Aziz, berfoto bersama perempuan-perempuan di Barat Daya kota Najran dengan jilbab yang lebih terbuka. Photo: AFP/Getty Images

Raja Abdullah, dan putra mahkota, Salman bin Abdul Aziz, berfoto bersama perempuan-perempuan di Barat Daya kota Najran dengan jilbab yang lebih terbuka. Photo: AFP/Getty Images

 

NEOM, Kota Masa Depan

NEOM (Neo [bahasa Yunani]-Baru, Mustaqbal [bahasa Arab]-Masa Depan) adalah sebuah megaproyek yang dicanangkan dalam Visi 2030. NEOM merupakan langkah Saudi Arabia untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Minyak Bumi. Dilansir dari The Economist, lokasi NEOM terhampar pada lahan seluas 26.500 kilometer persegi dan dengan garis pantai sepanjang 468 km, NEOM akan beroperasi secara otonom,  tidak terikat oleh peraturan Kerajaan Arab Saudi sebagaimana wilayah lainnya.

Peta lokasi NEOM. Photo: New Atlas

Peta lokasi NEOM. Photo: New Atlas

Gambaran NEOM di masa depan adalah sebuah wilayah yang dioperasikan dengan teknologi tingkat tinggi: sarana transportasi dioperasikan oleh kendaraan-kendaraan nirawak; energi akan datang sepenuhnya dari sumber yang terbarukan, berkat kelimpahan sinar matahari dan angin; dan segala sesuatunya akan dijalankan secara otomatis. Secara regional, NEOM akan difungsikan menjadi lokasi penghubung antara Eropa, Asia, dan Afrika. NEOM akan menjadi “rumah” bagi orang-orang yang memiliki keterampilan kelas dunia dalam industri bioteknologi dan makanan.

Untuk permulaan, NEOM sudah mendapatkan dukungan dari begawan-begawan kelas dunia, di antaranya ada Masayoshi Son, CEO dari Softbank Jepang. Dilansir dari The National, saat ini dia dikatakan sudah menginvestasikan $ 93 miliar dari total sekitar $ 100 miliar yang akan dinvestasikan. Softbank akan berinvestasi di sektor listrik tenaga surya, robot, dan teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence).

Stephen Schwarzman, kepala Blackstone, raksasa ekuitas swasta; dan Klaus Kleinfeld, mantan kepala Arconic, Alcoa dan Siemens yang akan menjadi kepala eksekutif NEOM; juga menyatakan dukungannya untuk NEOM.

Dengan motto NEOM “tempat yang paling aman, paling efisien, paling berorientasi pada masa depan, dan tempat terbaik untuk tinggal dan bekerja,” pemerintah Arab Saudi cukup optimis, mereka mengatakan bahwa pada tahun-tahun mendatang investasi total yang akan masuk bernilai $ 500 miliar atau sekitar Rp 6.700 triliun.

Tanggapan Skeptis

Meskipun demikian, beberapa kalangan masih ada yang skeptis dengan sepak terjang MBS. Dilansir oleh tempo.co, pada Sabtu malam, 4 November 2017, militer Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat tembakan misil pemberontak Houthi Yaman yang melintas di atas langit Riyadh. “Misil itu kami cegat di timur laut Riyadh,” kata kantor Kementerian Pertahanan Arab Saudi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi Al-Arabiya, yang dikelola pemerintah.

Atas kejadian tersebut, dilaporkan oleh SPA, kantor berita Arab Saudi, MBS menuduh Iran ada di balik peristiwa tersebut. MBS mengatakan bahwa Iran telah melakukan “agresi militer langsung” yang dapat memicu tindakan peperangan. Senada dengan MBS, kepala koalisi militer Saudi mengatakan bahwa para ahli teknologi militer telah memeriksa misil-misil tersebut, dia mengatakan bahwa para ahli “mengkonfirmasi peran rezim Iran dalam membuat misil-misil ini dan menyelundupkannya ke milisi Houthi di Yaman untuk tujuan menyerang kerajaan, rakyatnya, dan objek-objek vital.”

Dilansir oleh Al-Jazeera, atas tuduhan tersebut Iran menyangkalnya, pihak Iran mengatakan bahwa tuduhan tersebut “berbahaya, tidak bertanggung jawab, merusak, dan provokatif.”

Pada Maret 2015, Arab Saudi memulai peperangan dengan pemberontak Houthi di Yaman. Arab Saudi meyakini Houthi didukung oleh Iran karena afiliasinya sebagai sesama Syiah. Kemudian pada awal 2016 Arab Saudi juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Setelah diangkat menjadi putra mahkota, MBS juga menuduh Iran berada di balik semua gerakan ekstremis di Arab Saudi.

Terhadap perilaku MBS belakangan ini, mantan perwira CIA Bob Baer menyinggung mengenai tradisi keluarga Saudi, dia memuji pendekatan konsensus berbasis keluarga kerajaan Saudi untuk mencegah perang dengan Iran sampai sekarang, dia memperingatkan MBS bahwa tindakan “pembersihan” yang dilakukan olehnya terhadap keluarga kerajaan dapat membuat stabilitas negara Arab Saudi berada dalam ketidakpastian.

“Al Saud (keluarga kerajaan Arab Saudi) telah bertahan bertahun-tahun, berkat sebuah konsensus yang luar biasa dan tak terputus di antara barisan mereka dan telah menghindari perang dengan Iran,” kata Baer. “Tidak ada yang ingin melihat perang di wilayah tersebut terutama karena Iran bukanlah negara kecil, mempunyai kekuatan ekonomi, memiliki identitas sendiri, dan mendapat dukungan dari masyarakatnya. Dunia membutuhkan Arab Saudi yang stabil dan dapat diprediksi,” tambahnya.

Robert Richer, mantan wakil direktur operasi CIA yang pernah ditempatkan di beberapa negara di Timur Tengah, mengatakan kepada Al-Jazeera, walaupun rencana MBS untuk memodernisasi Arab Saudi layak dipuji, namun perilaku MBS yang meledak-ledak dapat meningkatkan eskalasi perang dengan Iran yang dia sebut sudah dalam tahap “mengkhawatirkan”.

Richer mengatakan bahwa MBS cukup beralasan karena dia merasa mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat dan Israel. Bahkan seringkali Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji-muji MBS atas segala tindakannya.

Muhammad bin Salman bertemu Donald Trump, Mei 2017. Photo: Evan Vucci/AP

Muhammad bin Salman bertemu Donald Trump, Mei 2017. Photo: Evan Vucci/AP

Baca: 11 Pangeran Saudi Ditangkap, Trump Apresiasi Putra Mahkota Kerajaan

Sementara itu terdapat tiga pertanyaan skeptis mengenai NEOM, sebagaimana dilansir oleh The Economist, pertama, waktu. Dapatkah dana proyek ini terkumpul dengan cepat sehingga mendapatkan momentum yang sempurna? Sejauh ini, detail dan waktunya tetap samar- samar. Pemerintah mengatakan bahwa dana $ 500 miliar akan tiba pada “tahun-tahun mendatang”. Namun, penurunan harga minyak sejak tahun 2014 telah menekan keuangan publik: tahun ini pemerintah Arab Saudi mungkin akan menjalankan defisit fiskal sebesar 9% dari PDB dan ekonomi Arab Saudi jalan di tempat.

Kedua, dapatkah NEOM menghasilkan kreativitas dengan pola bottom-up agar dapat mengimbangi Visi 2030 yang dibuat dengan pola top-down?

Ketiga, dapatkah NEOM menjadi magnet internasional bagi SDM yang berkualitas (termasuk perempuan)? Untuk dapat mewujudkannya kerajaan Arab Saudi mesti menjamin bahwa NEOM akan menjadi tempat yang ramah dan terbuka, tidak seperti tradisi kerajaan yang selama ini dikenal.

Karir MBS dalam dunia politik terhitung masih baru, terlebih dia masih berusia cukup muda apabila dibandingkan dengan pangeran-pangeran lain seniornya. Namun dengan waktu yang singkat dan usia yang muda dia mampu melesat jauh ke depan. Dia juga berani membuat perubahan-perubahan besar yang mendasar. Seiring dengan besarnya perubahan, maka besar pula tantangan besar yang akan dihadapinya. Pertanyaannya, mampukah MBS menghadapi kejutan-kejutan besar di kemudian hari yang sejatinya dia tabur sendiri?

 

PH/ Islam Indonesia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *