Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 21 May 2015

WAWANCARA – Samsu Rizal Panggabean: Pemerintah dan Polisi Tegas, Konflik Mudah Padam


DSCN3757

Dikenal sebagai negara ‘ramah dan murah senyum’, wajah Indonesia pasca Reformasi 1998 lebih mirip negara yang memendam kemarahan yang menggelegak. Konflik dan kerusuhan meletus di berbagai tempat — dari yang skalanya masif dan menelan ribuan orang korban jiwa seperti di Ambon, Poso dan Sambas, hingga yang skalanya kecil namun tetap berdarah-darah, semisal pertikaian antar warga di kawasan perkotaan. Apa pangkal dari semua ini? Kenapa konflik dalam masyarakat seperti tak pernah berhenti dalam 17 tahun terakhir? Betulkah semua darah dan ketegangan itu adalah harga ‘wajar’ untuk sebuah masa depan yang lebih cerah? Reporter Islam Indonesia, Muhammad Ali, menggali perspektif pengajar senior Magister Resolusi Konflik dari Universitas Gajah Mada, Samsu Rizal Panggabean, di sela-sela sebuah workshop Bina Damai di Jepara, akhir pekan lalu. Petikannya:

Eskalasi konflik di tanah air meningkat sejak reformasi 1998, gejala apa yang Anda tangkap dari kejadian itu?

Ini bagian dari proses transisi. Memang mengalami peningkatan, baik dari jumlah insiden maupun jenis-jenis konfliknya. Seperti konflik antar agama, sektarian di internal agama itu sendiri, agraria, etnis, industri, perebutan lahan dan lain sebagainya. Secara statistik meningkat dari tahun ke tahun sampai mencapai puncaknya di 2001. Dan setelahnya mengalami penurunan.

Kenapa bisa terjadi demikian?

Inilah maksud dari masa transisi, artinya tatanan dan cara-cara yang lama sudah rapuh namun cara-cara yang baru pun belum siap dan belum menemukan bentuknya. Di masa Orde Baru, jika ada yang demo akan dipukulin dan demo pun bubar. Namun sekarang tidak bisa seperti itu, masih mencari cara yang tepat. Seperti Pemilu atau Pilkada, ini kan cara baru dan masih mencari cara yang tepat. Ketika cara baru mulai melembaga, nanti normal lagi.

Namun apakah konflik yang terjadi menghilangkan identitas bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan cinta damai?

Sebenarnya tidak hilang, memang terjadi peningkatan terjadinya konflik namun bukankah konflik yang terjadi juga statistiknya tidak merata dan terjadi hanya di bererapa tempat tertentu. Menurut database statistik tahun 2004 yang saya buat, konflik yang menimbulkan korban jiwa relatif banyak hanya terjadi di 15 kota dan kabupaten, seperti Jakarta, Ternate, Ambon, Sambas, Bengkayang dan Kota Waringin Timur. Total hanya 3,5% dari total penduduk Indonesia. Artinya ada 90 % lebih masyarakat Indonesia aman meski ada konflik di tempat lain. Artinya konflik hanya terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu saja.

Konflik yang sering terjadi terkait etnis, seperti antara Muslim – Kristen, Cina – Jawa, Dayak – Madura, Melayu – Dayak. Sedangkan terkait lahan, perkebunan dan industri meski banyak namun eskalasinya rendah dan tidak banyak menimbulkan korban jiwa. Yang mengkhawatirkan adalah konflik tempat ibadah dan agama yang terjadi sekarang ini. Meski demikian, kebanyakan masyarakat Indonesia tetap hidup berdampingan walaupun beda agama dan keyakinan.

Apa sebab eskalasi konflik tidak merata, bahkan sebagian bisa meredam konflik yang ada?

Peran Pemerintah Daerah dan Polisi. Ketika suatu daerah terjadi konflik namun Pemerintah Daerah dan Polisi berfungsi dengan baik, maka konflik pun bisa diredam. Kasus Ahmadiyah dan Syiah, berawal dari lemahnya peran Polisi dan Pemerintah Daerah, baik menyangkut penegakan hukum maupun memelihara keamanan.

Konflik juga bisa cepat diredam jika ada peran aktif tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, Pemerintah dan Polisi. Seperti kasus yang terjadi di Manado, Jogjakarta dan Surabaya. Kuatnya kekuatan sipil, polisi dan pemerintah daerah mampu menyelesaikan konflik yang ada.

Seberapa kuat 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) dalam meredam konflik?

Pemerintah masih harus meningkatkan dan mensosialisasikannya, dan menjadikan 4 pilar kebangsaan sebagai fokus bersama. Buktinya kekerasan dan konflik masih terjadi di berbagai tempat.

Menurut Anda, bagaimana potensi konflik ke depan mengancam Indonesia? 

Tren eskalasi dan intensitas konflik akan berkurang, jika upaya-upaya lembaga demokrasi, partisipasi masyarakat sipil, dan meningkatnya kinerja polisi. Kita lihat di beberapa tempat, konflik mulai berkurang berkat peran serta semua pihak dan tumbuhnya kesadaran bersama mejaga perdamaian. Dan kita harus berhati-hati karena Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya akan Sumber Daya Alam, banyak yang mengancam Indonesia. Diperlukan kedewasaan pemerintah dan masyarakat untuk menyadari hal ini.

MA/Islam Indonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *