Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 12 November 2015

Serat Menak: Kisah Kepahlawanan Sayidina Hamzah dalam Pewayangan Jawa


AgqcNqG8xGuEvmyw_6pRoAQG1cgq5ibH25gWtAYRvogF

Sejarawan cum budayawan, Agus Sunyoto, pernah menulis tentang wiracarita (epos) besar yang dikagumi masyarakat Jawa. Ada empat wiracarita. Pertama dan kedua adalah wiracarita bernafaskan Hindu, yaitu Ramayana dan Mahabharata dengan latar cerita Bharatnagari (India). Wiracarita ketiga juga bernafaskan Hindu yang disebut kisah Panji yang berlatar kisah-kisah lokal. Wiracarita keempat bernafaskan Islam yang dikenal dengan sebutan Serat Menak.

Kisah kepahlawanan Serat Menak merupakan hasil transformasi dari sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah, di mana Hikayat Amir Hamzah pun berasal dari sebuah wiracarita Persia berjudul Qissa il Emir Hamza, yaitu sebuah epos yang mengkisahkan kepahlawanan tokoh Amir Hamzah. Di dalam cerita itu, tokoh Amir Hamzah digambarkan sebagai pahlawan yang hebat dan gagah berani, seorang tokoh penyebar Agama yang dibawa Nabi Ibrahim as.

Karena Serat Menak berinduk pada epos Persia Qissa il Emir Hamza, terdapat nama-nama tempat maupun tokoh yang berasal dari bahasa Persia yang kemudian “di-Jawa-kan”. Sementara itu diperkirakan, Serat Menak masuk dalam kesusastraan Jawa sekitar abad ke-17 Masehi.

Siapa sebenarnya Amir Hamzah dalam tokoh pewayangan itu? Reporter Islamindonesia.id sempat berbincang dengan Agus Sunyoto di Jakarta (11/11).

Awal kisah Serat Menak itu seperti apa?

AhYOBkZKtIX5VhczRvzdK1UW6PsXQIQx5CtHQlmYRQLQDi masyarakat Jawa, ketika sastra masuk, masyarakat bawah itu sulit memahami. Hanya kalangan atas saja yang paham. Karena itu, salah satu cara untuk mensosialisasikan karya sastra dibikinkan karya seni pertunjukan. Namanya wayang.

Setelah itu, kira-kira abad ke-17, mulai muncul wayang Jemblung atau wayang Menak. Itu yang menceritakan kisah dari buku Qissa il Emir Hamza. Cerita yang aslinya bahasa Persia kemudian masuk ke bahasa Melayu, lalu masuk ke bahasa Jawa. Tokoh Emir Hamza/Amir Hamzah dalam pewayangan Jawa dikenal dengan sebutan Amir Ambyah. Menceritakan kepahlawanan Sayidina Hamzah (Paman Nabi Muhammad Saw yang gugur dalam Perang Uhud di tangan budak Hindun bernama Wasi’). Itu sudah melegenda.

Berkisah tentang pertarungan keluarga bani Hasyim dengan bani Umayah. Karena itu dimunculkan tokoh disebut Jemblung Marmoyo yaitu menceritakan tokoh (dari Bani Umayah) yang digambarkan perut buncit, wajahnya jelek, kelakuannya juga jelek, dan jahat, sebagai musuh utama Amir Hamzah (Bani Hasyim).

Inilah kemudian memunculkan banyak lakon, dari cerita pertarungan antara keluarga Nabi dan keluarga Umayah.

Siapa yang awalnya memperkenalkan kisah ini ke tanah Jawa?

Belum tahu siapa yang mengembangkan, tapi ini sudah melegenda. Sampai tahun 1950-an masih banyak. Sekarang masih ada tapi sudah jarang. Kemarin saya di Kudus, ternyata sudah ada ini wayang Menak yang menceritakan tentang itu.

Nasib pewayangan Menak sendiri seperti apa sekarang?

Nasibnya sekarang seperti wayang yang lain. Tidak dilestarikan. Kita mau melestarikan itu! Kita akan gali lagi khasanah-khasanah budaya yang ada.

Wayang Jemblung (wayang Menak) ini redup karena pengaruh film, televisi, budaya asing dan macam-macam lah… faktor globalisasi.

Malik/IslamIndonesia

0 responses to “Serat Menak: Kisah Kepahlawanan Sayidina Hamzah dalam Pewayangan Jawa”

  1. Sulis Heriwanto says:

    Perihal wayang jemblung, dulu keluargaku punya satu kotak Wayang Jemblung jumlahnya lebih dari 50 tokoh wayang, antara lain Rojo Lamdaur, Marmoyo, Marmadi, Rojo Satit , Bagindong Ngali dll.
    Anehnya kotaknya itu merupakan kayu bulat bebentuk kotak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *