Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 05 August 2015

Sekjen Muhammadiyah: Semoga Muktamar NU Lancar & Sukses


abdul mukti'

Muktamar Muhammadiyah ke-47 telah dibuka oleh Presiden Joko Widodo di Makassar pada 3 Juni 2015. Muktamar yang menghabiskan ongkos sekitar Rp 23 Miliyar rupiah ini rencananya berakhir pada 7 Juni 2015.

Di hari akhir muktamar yang diikuti sekitar 5.000 peserta dan 300.000 simpatisan ini akan menetapkan nahkoda anyar pasca periode kepemimpinan Din Syamsuddin.

Nama Abdul Mu’thi, Anwar Abbas, dan Dahlan Rais bersaing ketat di papan atas bursa calon ketua umum Muhammadiyah pada muktamar kali ini. Di sela-sela padatnya jadwal Muktamar, Sekjen PP Muhammadiyah yang juga salah satu calon ketua umum, Dr. H. Abdul Mu’thi, menyempatkan berbicara ke IslamIndonesia.id ihwal mana kandidat yang pas memimpin dan bagaimana kontribusi lembaga pada negara dan hubungannya dengan Nahdhatul Ulama yang juga sedang bermuktamar di Jombang. Petikannya:

Sejauh ini bagaimana Anda melihat jalannya proses Muktamar? 

Alhamdulillah muktamar berjalan lancar tidak ada masalah yang berarti.  Persidangan berlangsung  sesuai jadwal, tertib dan produktif.

Dalam bursa calon ketua umum, nama Anda termasuk 3 teratas yah?

Pemilihan Pimpinan akan dilaksanakan 5 Agustus dan ditetapkan 7 Agustus. Saya hanya salah satu dari 39 calon tetap. Perolehan suara di Tanwir belum tentu linear dengan hasil Muktamar. Ketua umum dan sekretaris umum dipilih oleh 13  Pimpinan yang terpilih di Muktamar. Kalau atas ijin Allah saya menjadi ketua umum, saya hanya akan berusaha melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya.

Din Syamsuddin mendengar adanya usaha sebagian politisi menyusup ke muktamar dengan cara mendekati dan mendukung calon pimpinan pusat tertentu. Sebagai calon ketua umum, apakah Anda melihat adanya intervensi politik di Muktamar ini?

Dalam pengamatan saya sampai sejauh ini tidak ada intervensi dari partai politik manapun. Suasana Muktamar berjalan kondusif, penuh keakraban, dan penuh semangat persaudaraan.

Apa tantangan terbaru yang dihadapi kepemimpinan Muhammadiyah pasca muktamar?

Tantangan kepemimpinan ke depan adalah bagaimana menjaga independensi Muhammadiyah, meningkatkan kualitas amal usaha dan mengembangkan amal usaha baru sebagai sarana dakwah Pencerahan dan pemberdayaan umat dan bangsa.

Kasus intoleransi dan kekerasan atas nama agama cenderung meningkat di beberapa daerah. Sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia bagaimana seharusnya peran Muhammadiyah?

Secara umum toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia sangat baik. Umat beragama hidup berdampingan secara damai. Memang ada gejala meningkatnya ekstrimisme, intoleransi, dan kekerasan keagamaan. Muhammadiyah berusaha mendorong perilaku keagamaan yang santun dan toleran.

Dalam pandangan Muhammadiyah, Indonesia adalah dar Allah ‘ahdi (negara perjanjian) dan dar al-syahadah (negara pembuktian). Muhammadiyah berpendapat kekuatan Indonesia ditentukan oleh kemampuan merawat dan memperkuat keragaman suku, budaya, dan agama.

Din Syamsuddin menawarkan mendirikan partai baru sebagai salah satu dari tiga opsi bagi Muhammadiyah dalam kancah politik nasional. Opsi yang terbaik menurut Anda?

Muhammadiyah tetap konsisten dengan Kepribadian dan Khittahnya sebagai gerakan masyarakat madani yang bergerak dalam Dakwah dan kebudayaan. Muhammadiyah tidak ada hubungan formal dan afiliasi dengan partai politik manapun. Netralitas politik Muhammadiyah diperlukan untuk memelihara kerukunan internal dan memperkuat komunikasi dengan semua kekuatan partai politik. Muhammadiyah adalah rumah besar bagi semua kader politiknya. Netralitas politik Muhammadiyah dibangun di atas pluralitas politik anggotanya. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana Muhammadiyah mendelegasikan dan memfasilitasi kadernya yang berkhidmad mengabdi kepada umat dan bangsa melalui partai politik. Menjadi partai politik atau mendukung salah satu partai politik justeru mereduksi kebesaran Muhammadiyah.

Presiden menyinggung masalah kemerdekaan Palestina saat pembukaan muktamar. Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan  pemerintah?

Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah maju dari apa yang telah dilakukan sekarang ini.

Bagaiamana dengan peran Muhammadiyah?

Muhammadiyah mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Palestina dan berdirinya Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Muhammadiyah bersama element bangsa lainnya membentuk gerakan Prakarsa Persahabatan Indonesia Palestina (PPIP) sebagai bentuk dukungan moral perjuangan rakyat Palestina.

Saat ini Nahdatul Ulama juga sedang melaksanakan Muktamar di Jombang yang dikabarkan sempat ‘memanas’. Apa pesan Anda untuk Muktamar NU?

Muhammadiyah berharap agar Muktamar NU berjalan lancar dan sukses, menghasilkan keputusan yang bermanfaat untuk kemajuan umat dan bangsa serta memilih pemimpin yang mampu membawa kemajuan NU. Sebagai pilar Islam moderat Muhammadiyah siap bekerjasama dengan NU dalam berbagai bidang untuk mewajibkan Islam yang rahmatan lil alamin dan Indonesia yang berkemajuan.

 

Edy/ Islam Indonesia/ Foto: muhammadiyah.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *