Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 10 May 2016

Ki Herman Sinung Janutomo: Islam adalah Jawa, Jawa adalah Islam


foto:hendijo

Tidak ada dikotomi antara budaya Jawa dengan Islam

 

Begitu kidung tua Jawa itu terlantunkan, suasana mistis tiba-tiba menyeruak di ruang Teater Salihara Pasar Minggu, senja itu. Suasana yang tadinya agak riuh tiba-tiba berubah menjadi hening. Hampir semua orang yang ada di situ, seolah tersihir oleh suara lelaki gondrong setengah baya yang tengah melantunkan tembang Pangkur dari Serat Rerepen, sebuah karya Ronggowarsito (pujangga besar Jawa) yang bercerita tentang keharmonisan antara agama (Islam) dan budaya (Jawa).

Sang penembang sendiri bukanlah orang sembarangan. Ia adalah Ki Herman Sinung Janutomo, sejarawan dan pekerja budaya sekaligus pemerhati filsafat Jawa. Selama ini Ki Herman Sinung dikenal dengan pandangan-pandangannya yang lugas dan terkesan “menantang arus” terhadap budaya Jawa. Kritik-kritiknya kepada para sejarawan bule dan para indonesianis selalu hangat. Baginya tak ada kamus dikotomi antara Islam-Jawa. “Jawa adalah Islam dan Islam adalah Jawa,”ujar lelaki 47 tahun yang pernah kuliah di FMIPA jurusan Fisika Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

Bagaimana pendapatnya mengenai hubungan Islam dan Jawa (kejawenisme) tersebut? Lantas seperti apa kritik mantan pedagang asongan itu terhadap penerapan Islam yang bercorak homogen?  Beberapa waktu lalu, Hendi Jo dari Islam-Indonesia berkesempatan ngobrol dengan lelaki yang selalu bersikap hangat kepada siapapun itu. Berikut  hasil obrolan tersebut:

 

Mas Sinung, di tengah pandangan sinis terhadap kejawenisme, anda selalu menolak posisi diametral antara Islam dengan budaya Jawa. Menurut anda sendiri, apa sih yang menyebabkan orang berpandangan seperti itu?

Memang ini soal yang sangat krusial. Menurut saya, penyebab semua itu terjadi adalah karena pola pikir yang kita pakai. Hari ini kita selalu memindai hubungan antara Islam dengan budaya Jawa dengan kacamata orang lain. Misalnya saja para intelektual kita hampir selalu melihat soal ini dari kacamata Barat yang dari basic-nya saja sudah menggunakan dialektika, kontradiksi mitos-logos, dan lain-lain. Ini kan jelas akan beda hasilnya jika konsep-konsep Barat itu digunakan untuk menganalisa budaya kita.

 

Tapi orang–orang kita hari ini sudah terlanjur melihat cara-cara Barat (atau Arab) itu sebagai metode yang universal untuk menganalisa gejala apapun. Lalu bagaimana ini?

Kalau saya sih mengembalikan itu kepada niat awalnya. Saya ingat Eyang Sunan Kalijogo pernah berkata, bahwa budaya Jawa harus berani menasehati dunia. Istilah beliau: kondobuwono. Atau kalau istilah sekarang: harus bersikap kritis (tapi istilah ini juga agak bermasalah karena kesannya terlalu dialektis). Ya setidaknya kita harus memiliki peranlah. Berani memberikan nasehat, melakukan penyempurnaan paradigmatik dan metafisik kepada konsep-konsep yang datangnya darimonconegoro itu.

 

Tapi bagaimana pandangan orang yang terlanjur melihat kejawenisme sebagai konsep yang terlalu lokal?

Ini yang menurut saya keliru. Jangan berpikiran bahwa konsep budaya Jawa sesempit itu. Jawa itu sebuah atmosfir peradaban. Jadi kalau ada orang yang berpikir bahwa Jawa itu hanya sebatas suku bangsa atau pulau, itu pasti dia terpengaruh oleh pandangan kolonial. Jawa itu tatanan budi pengerti. Jadi jangkauannya itu sangat luas sekali, artinya tidak dibatasi oleh sekat-sekat geografis.

 

Apa bukti dari pernyataan anda itu?

Kalau kita mengikuti warisan sejarah berupa prasasti-prasasti, maka prasasti-prasasti yang mengandung kata “jawa dwipara” ini tidak hanya kita temukan di Pulau Jawa saja. Kata ini juga ada di Indochina, di Maladewa, Madagaskar, Colamandala di India dan bahkan kata “hawai” arti genealogisnya adalah “jawa kecil” lho.

 

Jadi kalau begitu, istilah “jawa” sendiri dalam pengertian etnik jadi tidak penting dong?

Memang tidak penting. Mau dinamakan apa saja boleh.

 

Tapi lagi-lagi orang saat ini terlanjur melihat kejawenisme itu selalu dikait-kaitkan dengan upaya pengakbaran etnik Jawa…

Betul, bahkan kemudian orang berpandangan bahwa budaya Jawa itu identik dengan kekuasaan, kesananya sering dihubungkan dengan Sumpah Palapa-nya Gajah Mada yang terkesan ambisius. Padahal kalau kita mempelajari sejarah jawa secara obyektif dan mendalam, soal-soal di atas itu pastinya bertentangan dengan fakta.

 

Nah, lantas bagaimana hubungan antara Islam yang datangnya dari Arab  dengan budaya Jawa itu sendiri?

Ya tidak ada masalah. Islam itu Jawa dan Jawa itu Islam. Kalau kita membaca Serat Rerepen karya Eyang Ronggowarsito disebutkan bahwa orang Jawa itu tidak boleh jauh dari agama (baca: Islam).

 

Lantas mengapa corak berislam-nya orang-orang Jawa menjadi lain dari aslinya?

Karena orang Jawa memahami kabudayaan, kesenian, adat istiadat  dan semua yang ada dalam budaya mereka sebagai perwujudan konversi dari semangat rahmatan lil a’lamiin (rahmat bagi semesta alam)  danbilisani qaumihi (disampaikan dalam bahasa kaumnya). Nah ini yang sekarang sudah terputus dan tidak mau dipahami orang saat melihat praktik keagamaan orang Jawa. Kami sangat keberatan jika pemaknaan Islam harus dilakukan lewat cara Arabisme. Ini kan pelanggaran serius terhadap konsep rahmatan lil a’lamiin dan konsep bilisani qaumihi dalam semangat Islam itu sendiri.

 

Kalau itu begitu anda termasuk orang yang mengimani bahwa ajaran Islam itu sangat kontekstual?

Oh iya. Kalau sekarang penerapan ajaran Islam dipaksakan untuk seragam, saya tanya di mana kalau begitu letak “rahmat bagi alam semesta”-nya? Saya pikir, justru Islam itu memang diharuskan beragam. Membuat Islam di seluruh dunia jadi homogen justru hanya membuat kerdil Islam itu sendiri bagi saya.

 

Dengan kata lain, orang-orang Jawa berusaha untuk secara realistis dan historis menyesuaikan Islam dengan apa-apa yang mereka alami dan pahami?

Ya. Islam itu kan harus dilakoni. Sebagai orang Jawa yang Islam, kami memiliki hak untuk menetukan fiqh kami sendiri. Dan sebagai orang Jawa pula, jelas kami menolak fiqh-fiqh Arab atau Iran yang coba dipaksakan kepada kami. Lha iya dong…Bagaimana mau dipaksakan, letak geografi dan budaya kami dengan mereka juga beda? Makanya saya sering berkampanye di mana-mana: ayo kita harus berani menentukan fiqh kita sendiri, sebagai umat Islam terbesar di dunia mengapa kita tidak memiliki hak untuk menetukan fiqh kita sendiri? Sekali lagi, kita punya hak, dan kita harus memakai hak itu dong. Wong sudah diberi kok ditolak.

 

Kalau anda menolak fiqih-fiqh Arab, idealnya fiqh yang cocok untuk orang Jawa seperti apa?

Ya jelas fiqh para wali. Dulu waktu seorang teman saya yang Syi’ah menyarankan saya untuk memakai fiqh Ja’fariyah karena “kedekatan” cara-cara ritual dengan budaya Jawa, saya tolak. Saya bilang sebagai orang Jawa, saya memilih fiqh-nya Sunan Kalijogo yang lebih paham dengan budaya Jawa dibandingkan Imam Ja’far.

 

Anda tidak khawatir cara-cara itu disebut sebagai sinkritisme?

Ya monggo saja. Sinkritisme itu kan mengangankan dua himpunan yang berbeda untuk bersatu dengan operasinya dialektika. Kalau saya sihnggak begitu. Lalu kalau dibilang cara-cara orang Jawa berislam sudah tidak murni lagi, karena “dikotori” dengan ajaran Hindu dan Buddha, lhamereka kalau begitu ikut cara pandangnya kolonial dong. Orang-orang kolonial kan membagi periodeisasi sejarah kita berdasarkan penghancuran-penghancuran keyakinan: Hindu dihancurkan oleh Buddha, Hindu-Buddha dihancurkan Islam dan seterusnya. Jadi teori konfliknya kental sekali. Saya jadi heran mengapa kita orang-orang Islam mau memakai periodeisasi yang dipakai oleh penjajah. Kolonial kok dipercaya.

 

Ini yang menyebabkan analisa-analisa para indonesianis atau pakar-pakar dari mancanegara itu menjadi tidak nyambung dengan konteks di sini?

Betul. Kami keberatan jika cara pandang sejarah Eropa harus “dipindahkan” ke sejarah kami. Konteks budaya, sosiologis, antropologis-nya jelas beda dong. Kok mau dipaksakan? Misalnya soal teori Geertz (Clliford James Geertz, antropolog asal Amerika Serikat) tentang trikotomi santri, abangan dan priyayi itu, bagi saya ini “menghilangkan” peran ulama pujangga seperti Ronggowarsito. Jadi orang-orang seperti Ronggowarsito itu lenyap dari peta sosiologis kita gara-gara Geertz.

 

Pernyataan ini bukan berarti anda alergi terhadap para indonesianis?

Ya enggak lah. Saya sih menyilakan mereka untuk meneruskan kerja-kerja mereka. Hanya saya minta mereka pun jangan melulu menggunakan paradigma Barat mereka an sich. Supaya adil, kasih tempat dong buat cara pandang lokal. Sebaliknya untuk para intelektual kita, saya berharap mereka pun pede untuk menggunakan analisa dengan kacamata kita sendiri.

 

Hendi Jo/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *