Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 15 September 2015

Dr. Yo Nonaka: Hijab, dari Perlawanan Hingga Gaya Hidup


IMG_20150913_114118

Tertarik dengan gerakan Muslimah di Indonesia, Dr. Yo Nonaka, peneliti budaya dari Universitas Keio, Jepang, bertahun-tahun menelusuri perkembangan penggunaan hijab, dari awalnya, utamanya di era Soeharto, sebagai simbol perlawanan, hingga belakangan menjadi trend dan bahkan gaya hidup, lifestyle. Akhir pekan lalu di Masjid Salman ITB, dia memaparkan sebagian temuannya dalam sebuah diskusi terbuka. Reporter Islam Indonesia menggali lebih jauh seputar penelitiannya selepas diskusi. Petikannya:

Dari penelitian Anda, adakah pembengkakan komunitas pengguna jilbab belakangan ini diikuti dengan keinginan untuk memperdalam Islam?
Busana Muslim di Indonesia itu sangat beragam. Yang menarik bagi saya, mereka tidak hanya mengikuti trend. Siapapun mau menggunakan hijab itu selalu jadi membicarakan ajaran Islamnya atau penafsiran mereka sendiri terhadap Islam. Dibandingkan dengan kalangan muda Jepang, mereka memilih pakaian hanya mengikuti trend atau senang-senang saja. Makanya, yang buat saya tertarik di sini, memang mau mengikuti trend, tapi ada keinginan untuk menjalankan ajaran dia sendiri.

Bagaimana pandangan orang-orang Jepang pada muslimah berjilbab?

Secara umum orang Jepang sudah sadar muslimah memakai hijab, menutup aurat. Sebenarnya, jumlah muslimah di Jepang itu sangat minoritas. Saya bisa mengatakan mereka di bawah satu persen. Jadi kami orang Jepang tidak banyak yang punya teman muslimah. Karena pengaruh media dan banyak pengunjung dari luar negeri maka orang Jepang sudah sadar akan hal ini (hijab). Cuman mungkin pertamanya muslimah bakal gak enak karena dilihat-lihat, tapi lama-kelamaan akan berkurang.

Sejauh penelitian Anda, apakah perkembangan hijab dari simbol perlawanan sampai ke lifestyle itu mulai menjauh atau makin dekat dengan nilai islami?

Saya tidak bisa memastikan ini lebih islami dari ini, karena saya bukan muslim. Tapi saya melihat memang ada transformasi yang sangat besar atau fenomenanya sangat menarik bagi saya. Karena 20 tahun yang lalu orang yang memaki hijab itu sangat minoritas tapi sekarang malah 180 derajat berubahnya. Arahnya juga ada yang sangat fashionable, ada juga yang sangat “syar’i”, maksud saya tebal dan besar. Dan ini menarik bagi saya.

Anda ada komentar soal ‘jilbab ketat’ yang sempat ramai dibincangkan akhir-akhir ini?

Saya tak ingin mengkritik orang lainya, tapi setahu saya penggunaan kerudung atau hijab itu sebuah proses. Jadi seorang yang memakai jilbab ketat pun mungkin suatu saat caranya jadi berubah. Mungkin jadi lebih syar’i. Saya sudah belajar banyak dari teman-teman muslim di sini dan ada prosesnya. Jadi awalnya mungkin jilbabnya masih agak kecil, jadi belahan dadanya agak keliatan atau rambutnya keliatan. Makin kesini dia akan makin tahu karena memang penggunaan jilbab itu seiring dengan pelajaran agama islam.

Anda menemukan perpaduan budaya Indonesia dengan busana muslimah selama ini? Seperti halnya perpaduan kimono dengan hijab di Jepang?

Memang sekarang jadi menarik karena sudah ada banyak kombinasi busana muslim dengan, misalnya, batik atau dengan tenun. Saya juga senang melihatnya. Sedangkan di Jepang, kimono itu masih sangat dihormati, jadi tidak banyak perpaduan baju modern dengan kimononya. Saya bisa belajar banyak dari sini.

Perkembangan pengguna hijab di Indonesia dalam setahun-dua tahun terakhir bagaimana?

20 tahun lalu di Makassar, satu kelas SMA umum cuman ada dua orang yang pakai jilbab. Tapi kalau saya lihat kondisi sekarang SMA umum di sini mungkin lebih dari 50 persen sudah memakai jilbab.

Muhammad/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *