Satu Islam Untuk Semua

Friday, 19 February 2016

Wawancara AFP dengan Presiden Suriah, Bashar Assad


assad-ketz-interview-afp_m

Setelah dua tahun usaha tak membuahkan hasil, tiba-tiba pada Selasa 14 Januari, salah seorang wartawan AFP diminta terbang ke Damaskus, Suriah, esok harinya untuk melakukan wawancara eksklusif dengan orang yang paling dinantikan tumbangnya oleh Barat, Presiden Bashar Assad. Berikut adalah transkrip lengkapnya yang dilansir kantor berita resmi Suriah, SANA, dan diterjemahkan oleh Islamindonesia.id dengan bebas.

Wartawan AFP: Bapak Presiden, kami sangat berterima kasih Anda telah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami di saat paling kritis dalam sejarah Suriah dan kawasan saat ini.

Bagaimana perasaan Anda melihat puluhan ribu rakyat Anda berusaha menyelamatkan diri dari kelaparan, ketika mereka ditembaki sekutu Rusia, dan mencoba melewati perbatasan menuju Turki? Dan apa yang Anda rasakan ketika melihat gambar mereka yang tenggelam dalam usahanya menyeberangi lautan?
Jika kita bicara soal emosi (perasaan), saya bersama mereka semua. Dan tentu wajar saya memiliki perasaan yang sama dengan rakyat saya. Setiap adegan penderitaan (bertahan hidup) menyakitkan bagi kami semua sebagai warga Suriah. Tapi sebagai pejabat negara, pertanyaan soal emosi lebih sedikit ketimbang soal apa yang harus saya lakukan, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap rakyat saya.

Bagaimanapun, ketika sumber dari penderitaan ini adalah teroris—bukan bombardir Rusia seperti yang diklaim media Barat—dan salah satu penyebab migrasi juga lima tahun embargo terhadap rakyat Suriah, maka secara alami tugas kami para pejabat adalah memerangi terorisme dengan seluruh kemampuan yang Suriah miliki, juga tentu dengan sokongan teman kami dalam perlawanan terhadap terorisme. Itu sebabnya saya mengatakan bahwa masalah pengungsi Suriah di luar negeri, juga kelaparan di dalam Suriah—sebagaimana Anda mengacu pada hal tersebut, adalah akibat dari terorisme, kebijakan Barat, dan embargo yang dijatuhkan pada masyarakat Suriah.

Bapak Presiden, karena Anda berbicara soal aksi ketimbang emosi, bisakah kita bicara, atau setidaknya memikirkan, soal kemungkinan menghentikan bombardir terhadap rakyat sipil, demi mengurangi penderitaan mereka, dan juga mengangkat blokade yang dijatuhkan di beberapa daerah?
Sejak awal krisis terjadi, konflik ini adalah tentang siapa yang memenangkan dukungan rakyat Suriah. Maka dari itu tidak masuk akal membombardir sipil jika ingin mereka berada di pihak kita. Itu teorinya. Nyatanya, jika kalian mengelilingi Suriah kalian akan melihat di setiap daerah yang di bawah kontrol kami, semua lapisan masyarakat Suriah, termasuk keluarga para militan berada dalam perlindungan negara. Terlebih lagi, di kota seperti Raqqa—yang 100% dikuasai ISIS—negara terus membayar gaji pegawai negeri dan mengirim vaksin untuk anak-anak. Maka tidak masuk akal jika negara membombardir masyarakat sambil melakukan semua itu. Kecuali, kita bicara soal kesalahan yang terjadi dalam perang. Aturan (baca: kebiasaan—penj) umum dalam setiap peperangan adalah jatuhnya korban tak bersalah. Ini adalah ‘aturan’ praktis dalam perang, tapi bukan kebijakan pemerintah Suriah.

Bapak Presiden, apa pesan Anda pada mereka yang hijrah ke Eropa? Apa Anda meminta mereka untuk kembali?
Saya ingin meminta setiap warga Suriah yang hijrah untuk kembali. Itu hal yang lazim, tapi belum cukup. Mereka akan bertanya: “Mengapa kami harus kembali? Apakah aksi teror sudah berhenti? Apakah syarat-syarat dasar untuk hidup sudah pulih kembali?” Banyak imigran tidak berlawanan dengan negara, juga tidak bersama teroris, tapi kadang ada keadaan yang memaksa mereka untuk pindah. Maka jawaban saya atas pertanyaan ini adalah: ketika terorisme mulai surut, dan situasi berangsur membaik, mereka akan pulang dengan sendirinya. Jadi, daripada meminta mereka kembali, saya memilih menyeru pemerintah Eropa—yang menjadi penyebab langsung terjadinya eksodus pengungsi dengan menyokong teroris sejak awal, sampai menjatuhkan sanksi terhadap rakyat Suriah—untuk membantu orang-orang ini kembali ke negaranya.

Bapak Presiden, akankah pemerintah merebut kembali kontrol Aleppo dalam beberapa hari ke depan? Jika ya, apa selanjutnya? Apakah dengan memperluas pengambilalihan kuasa di Lattakia, Aleppo, dan Idleb?
Saat ini pertempuran di Aleppo bukan untuk merebut kekuasaan, karena negara (Suriah) sudah ada di sana. Tapi pertempuran sebenarnya adalah untuk memotong jalur antara Aleppo dan Turki, karena Turki adalah penyedia bantuan utama untuk teroris. Saat ini pertempuran terjadi di sepuluh tempat sekaligus. Dari utara, ke selatan, jauh ke timur, sampai ke barat di Lattakia. Sebelumnya di Homs juga terjadi hal yang sama, tapi sudah berakhir sekarang. Jadi semuanya bergerak secara bertahap dan paralel.

Apa Anda berpikir bisa merebut kembali kontrol di seluruh kawasan Suriah? Dan berapa lama jangka waktu yang Anda miliki untuk melakukannya saat ini?
Tanpa berpikir soal mampu atau tidak, tanpa keraguan sedikitpun kami sama-sama berusaha mencapai tujuan itu. Tidak masuk akal bagi kami berkata akan menyerahkan sejengkal pun (tanah Suriah). Jangka waktunya tergantung dua skenario. Seandainya krisis ini murni disebabkan oleh orang Suriah, dengan kata lain Suriah terasing di lingkungannya sendiri, kami bisa menyelesaikannya kurang dari setahun dengan bergerak di dua front: menumpas terorisme dan aksi politik. Skenario kedua—yang inilah yang saat ini terjadi—memotong jalur bantuan dari Turki, Yordania, dan sebagian Irak kepada teroris—karena ISIS ada di Irak berkat sokongan Saudi, Qatar dan Turki—itu berarti solusi akan memakan waktu cukup lama dan biaya besar. Jadi, cukup sulit memberikan kepastian jangka waktu.

Tidak bisakah Anda memberikan gambaran pasti soal waktu yang Anda butuhkan untuk mengembalikan kedamaian di Suriah?
Pertanyaannya adalah: berapa lama Saudi dan Turki mau mendukung terorisme? Itu pertanyaannya. Dan kapan Barat akan memberikan tekanan pada negara-negara itu untuk menghentikan dukungan mereka atas terorismenya?

Presiden, boleh kami tahu siapa musuh utama Anda? Mereka yang menyebut dirinya oposisi moderat dan para Islamis, atau ISIS? Kami bertanya demikian karena semua orang melihat bahwa Anda menarget—dengan bombardir dan blokade—daerah yang dikuasai kalangan oposisi dan Islamis. Siapa musuh Anda sebenarnya?
Saya pikir istilah “oposisi” tak bisa digunakan di Prancis atau belahan dunia manapun, untuk mendeskripsikan seseorang yang membawa senjata melawan negara. Oposisi adalah gerakan politik. Seandainya Anda mengatakan “teroris moderat”, lain cerita. Dengan itu, maka Anda mengarah pada mereka yang tidak bersama ISIS, seperti al-Nusra atau kelompok ekstrimis lainnya. Obama mengatakan bahwa oposisi moderat adalah fantasi. Biden juga mengatakan hal yang sama. Tapi yang penting adalah kenyataan bahwa oposisi macam itu memang tidak ada. Kebanyakan militan itu berasal dari kelompok ekstrim, seperti ISIS, al-Nusra, Ahrar al-Sham, dan lainnya. Maka, jawaban saya, setiap teroris adalah musuh. Kami menghargai setiap oposisi politik, dan kami punya yang seperti itu di Suriah. Mereka mengambil posisi dengan perlawanan politik yang keras terhadap pemerintah, dan kami tidak menyerang mereka sama sekali.

Saya ingin meluruskan ini. Sejauh Anda katakan, tidak ada perbedaan antara para kelompok bersenjata ini (oposisi yang disebut sebelumnya—penj) di satu sisi, dengan ISIS, al-Nusra di sisi lain?
Secara hukum, tidak ada perbedaan. Negara akan menghadapi semua yang membawa senjata melawan negara. Kami takkan menanyakan apa ideologinya. Tapi perbedaan mereka adalah para ekstrimis (ISIS, al-Nusra, dll) tidak mau melakukan dialog dengan pemerintah. Mereka percaya bahwa mereka akan bertempur, mati, dan masuk surga. Itulah doktrin mereka. Sementara grup yang lain (FSA, dan ‘oposisi moderat’ lainnya) tidak bergerak berdasarkan ideologi. Banyak dari mereka telah diperdaya. Kemudian sebagian ada yang terlibat dialog dengan pemerintah. Sebagian mereka juga telah meletakkan senjata, bahkan ada yang sekarang ikut berperang bersama tentara pemerintah. Kami berikan pengampunan (amnesti) pada mereka yang meletakkan senjatanya.

Bapak Presiden, apa pendapat Anda tentang Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham? Mereka bernegosiasi dengan Anda dan pergi ke Genewa.
Mereka ke Genewa sebagai bagian oposisi yang dibentuk Arab Saudi, karena Saudi adalah penyokong terorisme di seluruh dunia. Jadi sangat wajar yang jadi perwakilan Saudi adalah teroris, bukan politisi.

Jadi Anda takkan berkompromi dengan mereka?
Prinsipnya, negosiasi langsung tidak seharusnya bertempat di Genewa, tapi melalui de Mestura. Dan perlu diingat: kami tidak bernegosiasi dengan orang Suriah, tapi dengan perwakilan Saudi, Prancis, Inggris, dan kawan-kawannya. Jadi jika yang Anda maksud dialog Suriah dengan Suriah, jawabannya tidak. Dialog dengan mereka sama sekali bukan berdialog dengan rakyat Suriah. Dialog yang sebenarnya adalah dengan kelompok-kelompok Suriah yang memiliki akar di Suriah. Contohnya seperti dengan kalangan oposisi politik. Siapapun yang menyebut dirinya oposisi tapi dikendalikan oleh negara dan agen intelijen asing tidak mewakili rakyat Suriah dalam dialog, dan sama sekali tidak kami pandang sebagai orang Suriah.

Anda berkata akan bernegosiasi. Mereka semua yang datang ke Genewa berbasis di luar Suriah. Bisa jelaskan ini?
Tidak, sebagian mereka berbasis di Suriah, dan sebagian lagi tinggal di luar namun terlibat dalam politik dan memiliki pendukung di Suriah. Saya tidak hanya bicara soal teroris, tapi semua yang terbentuk di negara asing dan bertindak atas kepentingan asing.

Bapak Presiden, Anda juga bicara soal oposisi dari dalam Suriah sendiri. Pertanyaan saya adalah: tidakkah Anda berpikir seandainya dulu Anda lebih toleran berurusan dengan mereka maka konflik ini bisa dihindari? Bukankah Anda juga bertanggung soal ini?
Kami tidak mengklaim tidak melakukan kesalahan di Suriah. Ini hal yang alami di setiap negara. Dan kami tidak mengklaim kami di Timur Tengah telah mencapai tahap keterbukaan politik yang signifikan. Kita menuju kesana, tidak cepat, bahkan mungkin lambat. Kembali ke pertanyaan Anda, kalangan oposisi di dalam Suriah yang lebih radikal dan menyerang negara, mereka tidak pernah dipenjara atau dituntut negara sebelum atau sesudah krisis ini. Jadi, saya tidak tahu apa maksud toleransi dalam kasus ini.

Mungkin saja sulit bagi oposisi ini mengorganisasi dirinya sebelum krisis, dan mengangkat suara sebagai oposisi. Mungkin juga mereka tidak punya kebebasan dalam bergerak.
Yang Anda bicarakan adalah kondisi umum di Timur Tengah. Hal ini sebagian benar, terutama di dunia Arab. Tapi pertanyaan dalam kasus ini bukan soal toleransi. Pertanyaannya berhubungan dengan individu ketimbang institusi. Pertanyaannya adalah: tindakan intitusional apa yang harus kami ambil untuk terus maju. Ini memiliki aspek hukum, sosial, dan budaya. Karena demokrasi lebih condong sebagai budaya ketimbang undang-undang. Anda tidak bisa terus maju dengan undang-undang namun masih tetap dengan budaya lama di tempat Anda.

Apa Anda berpikir bahwa ada intervensi Turki di Suriah saat ini? Dan apa Anda pikir ancaman Saudi adalah hal yang serius?
Secara logika, intervensi itu tidak mungkin. Tapi kadang kenyataan bertentangan dengan logika, terutama ketika orang-orang yang irasional memimpin sebuah negara. Itu sebabnya saya tidak memastikannya dengan alasan sederhana: Erdogan adalah orang yang fanatik pada kecenderungan Ikhwanul Muslimin. Dia hidup dengan mimpi Ottoman. Baginya, kekacauan di Tunisia, Libya, Mesir dan Suriah adalah sesuatu yang personal. Kekacauan itu mengancam masa depan politiknya, dan ambisi kelompok Islam fanatiknya. Dia percaya bahwa dia punya misi Islami di kawasan kami. Hal yang sama juga berlaku untuk Arab Saudi. Kekacauan teroris di Suriah bukti hancurnya kebijakan mereka. Saya ingatkan Anda, hal ini tidak akan berjalan mudah bagi mereka. Dan kami pasti akan menghadapinya.

Bapak Presiden, apa Anda berencana memberikan utara Suriah pada Kurdi sebagai pemerintahannya sendiri, setelah krisis berakhir?
Pertanyaan ini berkaitan langsung dengan konstitusi Suriah. Dan seperti yang Anda tahu, konstitusi ini tidak ditetapkan oleh pemerintah, melainkan oleh seluruh sekte di Suriah. Semua ikut andil di dalamnya, dan itu dilakukan dengan musyawarah umum. Itu sebabnya pertanyaan ini harusnya bersifat nasional, bukan diajukan pada pribadi pejabat manapun, walapun itu berhubungan dengan pemerintahan independen, federalisasi, desentralisasi, atau semacamnya. Semua itu nantinya menjadi bagian dialog di masa depan. Tapi saya ingin menekankan disini bahwa Kurdi adalah bagian dari kelompok nasional Suriah.

Apakah benar bahwa Rusia membujuk, atau berusaha meyakinkan Anda untuk turun dari kekuasaan? Apakah Anda khawatir terhadap kesepakatan Amerika dan Rusia dalam permasalahan ini?
Jika kita menyamakan kebijakan pemerintah Rusia dengan kebijakan dan pemerintah Barat yang ‘nakal’, hal itu mungkin saja. Tapi faktanya justru sama sekali berbeda. Alasannya sederhana: Rusia memperlakukan kami dengan sangat terhormat. Mereka tidak memperlakukan kami seperti adidaya di hadapan negara kecil, tapi negara berdaulat yang berurusan dengan negara berdaulat. Itu sebabnya isu ini belum pernah diangkat dalam bentuk apapun.

Apa Anda akan memberikan jalan Rusia dan Iran membuka pangkalan militernya di Suriah? Dan dalam kasus ini, apa Anda khawatir Suriah akan menjadi negara satelit bagi dua kekuatan ini?
Pangkalan militer asing di Suriah tidak berarti menjadikan Suriah negara satelit bagi negara tersebut. Mereka tidak ikut campur dalam urusan hukum, konstitusi, maupun politik. Bagaimanapun, Rusia sudah punya pangkalan militer di Suriah, sementara Iran belum pernah mengajukan permintaan ini. Dan secara prinsip, kami tidak masalah dengan itu.

Jadi ketika Iran ingin punya, Anda akan menyetujuinya?
Itu hanya hipotesis, karena Iran nyatanya belum pernah mengajukan satupun permintaan. Tapi seperti yang saya bilang, ketika kami menyetujui dalam kasus Rusia, artinya syarat-syarat sudah disepakati. Tapi tetap hal ini tergantung kemampuan setiap negara dan perannya di kawasan dan kancah internasional.

Apakah ada permintaan dari Rusia untuk membangun markas baru di kawasan Anda?
Tidak.

Pemilu Presiden Amerika masih berada di tahap awal. Anda secara pribadi cenderung pada Trump atau Clinton? Atau Anda melihat orang ketiga yang mungkin bisa berguna untuk urusan di kawasan (Timur Tengah)?
Kami tidak pernah bertaruh (menaruh kepercayaan—penj) pada presiden Amerika yang manapun. Kami selalu percaya pada kebijakan, dan kebijakan itu tidak hanya dikontrol oleh presiden, tapi oleh perkembangan secara umum, juga oleh kekuatan lobi di Amerika. Jika Anda lihat persaingan setiap kandidat, yang sekarang dan lalu, terlihat bahwa hal ini berputar di antara mereka yang lebih cenderung memulai perang, dan ini bukan pertanda baik.

Siapa yang lebih agresif dan condong memulai perang, Trump atau Clinton?
Masalahnya, politikus Amerika selalu bertindak berbeda setelah pemilu dengan perkataannya sebelum terpilih.

Jadi, janji Trump tidak menakutkan Anda?
Tidak, seperti yang saya bilang bahwa saya tidak menaruh kepercayaan pada perkataan kandidat Amerika. Saya tidak melihat alasan untuk berkomentar soal mereka semua, dengan kata lain, mereka terlihat sama saja bagi saya.

Apa Anda bermaksud jadi presiden seumur hidup seperti ayah Anda? Jika tidak, apakah Anda sedang menyiapkan pengganti, dan apakah pengganti ini adalah salah satu anak Anda?
Pertama, kekuasaan ini bukan hobi yang kami nikmati. Ini adalah tanggung jawab, khususnya dalam kondisi seperti ini. Soal penerus kekuasaan, negara ini bukan perkebunan ataupun perusahaan. Jika saya ingin tetap jadi presiden, maka saya harus bergantung pada dua sebab: pertama, hasrat saya untuk jadi presiden, kedua, keinginan rakyat. Ketika pemilu selanjutnya dimulai, dan saya merasakan masyarakat tidak lagi menginginkan saya, maka saya tidak boleh mempertahankannya. Maka, masih terlalu dini membicarakannya. Kita masih punya beberapa tahun menjelang pemilu.

Anda tahu bahwa banyak tuduhan dilancarkan pada pemerintahan Anda dan Anda secara priadi. Yang terbaru dari komisi investigasi PBB, yang mengatakan Anda melakukan genosida—yang dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan.
Bulan lalu, komisi hak asasi manusia PBB membahas soal blokade terhadap beberapa kota, seperti Madaya, dan menuduh pemerintahan Anda melakukan kejahatan perang. Ia juga mengatakan Anda melakukan kejahatan berupa penggunaan bom barel terhadap rakyat sipil. Tidakkah Anda khawatir suatu hari akan dihadapkan dengan pengadilan internasional?

Pertama, Anda tahu bahwa lembaga PBB menggambarkan keseimbangan antara kekuatan-kekuatan adidaya dengan konflik di antara mereka. Dan sekarang organisasi ini dasarnya dikontrol oleh penguasa Barat. Itu mengapa kebanyakan laporan mereka telah dipolitisasi dan mengandung agenda politik. Nyatanya, organisasi ini belum pernah mengatakan apapun soal pembantaian yang jelas-jelas dilakukan para teroris terhadap sipil Suriah. Yang membantah laporan mereka adalah: pertama, laporan mereka tidak menyediakan bukti apapun, dan inilah permasalahan mereka secara umum. Kedua, kita bisa gunakan logika untuk ini: jika Barat dan negara teluk kaya sedang melawan seseorang, dan orang ini membantai rakyatnya sendiri, bagaimana bisa orang tersebut bertahan sampai lima tahun dalam keadaan seperti itu? Itu sebabnya saya tidak khawatir dengan semua ancaman dan tuduhan seperti itu.

Anda mengatakan bahwa laporan dan intitusi ini tidak menyertakan bukti apapun. Tapi apa Anda percaya bahwa laporan ini benar adanya, terutama yang paling baru oleh komisi PBB tentang kematian ribuan tahanan dalam penjara Anda? Soal ini mereka punya saksi mata.
Tidak, ada perbedaan antara melakukan kejahatan pribadi dan kebijakan negara dengan pembunuhan sistematik. Saya telah katakan bahwa orang-orang tak bersalah mati di tengah perang. Itu benar. Tapi kejahatan perang itu terjadi ketika ada perintah berdasarkan kebijakan untuk melakukan pembantaian demi tujuan tertentu. Jika ini benar, maka masyarakat akan lari dari kawasan yang dikuasai pemerintah menuju daerah para kelompok bersenjata. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, semua berbondong-bondong masuk ke kawasan yang dikuasai negara.

Pernahkan Anda membayangkan akan digambarkan oleh sejarah seperti apa? Sebagai penyelamat Suriah atau malah penghancurnya?
Itu tergantung siapa yang menulis sejarah. Jika yang menulisnya dari Barat, semua hal buruk akan disematkan pada saya. Tapi yang penting adalah bagaimana saya berpikir. Pastinya, dengan kesadaran diri, saya akan terus mencoba—sebagaimana saya lakukan sekarang—melindungi Suriah, bukan melindungi jabatan saya saat ini.

Apa Anda masih berniat bernegosiasi dengan para militan, atau Anda berpikir untuk menghancurkan mereka secara militer?
Sejak awal krisis kami sepenuhnya percaya pada negosiasi dan jalur politik. Tapi bagaimanapun, jika bernegosiasi, tidak berarti kami berhenti memerangi terorisme. Di Suriah, keduanya tak bisa dihindari: bernegosiasi dan memerangi terorisme. Dan keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Apa komentar Anda soal mundurnya menteri luar negeri Perancis, Laurent Fabius? Dan apa Anda pikir hal ini akan mengubah kebijakan Perancis dalam beberapa bagian? Dan apakah Anda akan berinisiatif melakukan komunikasi dengan Perancis soal perang melawan terorisme dan membuatnya mengubah kebijakannya terhadap Anda?
Perubahan personil tidak terlalu berarti, yang penting adalah perubahan kebijakan. Pemerintahan Perancis benar-benar berubah antara Sarkozy dan Hollande, tapi bagi kami kebijakannya sama sekali tidak berubah. Mereka telah melakukan kebijakan yang destruktif dengan meningkatkan dukungan langsung kepada terorisme. Makanya kita tidak boleh beranggapan bahwa menteri luar negeri yang membuat kebijakannya. Kebijakan itu dibuat oleh keseluruhan pemerintah, dan dipimpin oleh presiden. Seperti yang kami lakukan di Suriah. Saya pikir Suriah tidak perlu melakukan apapun terhadap Perancis. Sebaliknya, Perancis lah yang harus melakukan sesuatu sebagai perlawanan terhadap terorisme. Sejauh ini, mereka secara politik mendukung teroris, dan dalam beberapa kasus juga mendukung secara militer. Dalam hal ini Perancis lah yang bertugas mengubah kebijakannya demi memerangi terorisme, khususnya setelah hidup ratusan rakyat Perancis harus jadi tebusan kebijakannya sendiri.[]

Muhammad/sana.sy. Foto: AFP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *