Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 21 June 2015

Archie Wirija: Kami Ingin Anak Muda Dekat dengan Al-Qur’an


Archie-Wirija-Islam-Indonesia

Di era 80’an, saat Internet belum menerjang seperti sekarang, saat bahkan orang kuat Orde Baru seperti Soeharto belum lagi mengenal handphone, keluarga Muslim di Indonesia punya cukup waktu dan kemewahan untuk menikmati keindahan suara qari yang melegenda semisal Muammar ZA atau Hj. Maria Ulfa. Selama bertahun-tahun, kaset tilawah mereka sempat menjadi hits, diburu orang banyak, diperdengarkan di banyak rumah dan tak terhitung mesjid di seluruh negeri. Empat dekade setelahnya, ah … kita semua tahu: Al Qur’an seperti kehilangan banyak penggemarnya. Di rumah-rumah keluarga Muslimin, orang lebih akrab dengan sosok seperti penyanyi dan artis muda seperti Afghansyah “Afghan” Reza, Raisa Adriana dan Acha Septriasa.

Apa kabar baiknya? Di Jakarta, dalam setahun lebih terakhir, Archie Fitrah Wirija dan sekelompok remaja berhasil memecah ‘kebuntuan zaman’ itu dengan sesuatu yang mungkin bisa membuat qari seperti Muammar ZA ingin kembali muda. Apa? Siapa dia?

Nama Archie, 26, mungkin belum bisa menghidupkan alarm perhatian di banyak kepala. Dia pun jelas bukan orang yang mengajinya bisa membuat orang terkesima, seperti dulunya Muammar ZA. Lepas SMA di sebuah sekolah islam di Jakarta, dia banyak menghabiskan waktunya di dunia hiburan; sebagai seorang penulis lagu, pemain keyboard. Dia juga pernah bekerja di sejumlah perusahaan hiburan yang bisnisnya mendatangkan artis popular dari luar negeri ke Jakarta.

Tapi tikungan hidup membuat namanya banyak mendengung di media hari-hari ini. Berbekal kecintaan pada Al Qur’an, dia dan rekannya menginisiasi apa yang dia sebut sebagai gerakan berbagi Al Qur’an via audio. Percisnya: dia mengajak rekan-rekannya memberanikan diri merekam suara mereka saat mengaji, menghimpunnya dengan file yang rapi dan menempatkanya di situs audio ternama.

Saat terpajang di Soundcloud awal Ramadhan yang lewat, Qur’an Indonesia Project – begitu sebutan besarnya — seolah menghadirkan puluhan Muammar ZA dan Maria Ulfa sekaligus. Proyek audio garapan Achie memuat rekaman ngaji artis ternama, semisal Afghan dan Raisa. “Kami ingin anak muda perkotaan bisa dekat dengan Al-Qur’an, sebagai pedoman hidup umat Islam,” katanya.

Dalam sebuah perbincangan dengan Wa Ode Zainab dari Islam Indonesia awal pekan ini, dia menyempatkan bercerita tentang perjuangannya menggolkan kerja besar itu dan keresahannya pada dakwah yang dia gambarkan cenderung menggurui dan menghakimi kalangan muda. Petikannya:

Bisa Anda ceritakan awal mula ide Qur’an Indonesia Project? 

Ide awalnya dari saya sendiri. Saya ingat waktu itu 27 Juli 2014, bertepatan dengan hari terakhir puasa Ramadhan. Nah, kala ide itu tercetus, saya menghubungi dua kawan, Pasha Chrismansyah dan Narenda Pawaka, yang familiar dengan audio untuk bergabung. Terlebih lagi, mereka memiliki “kebutuhan” yang sama seperti saya. Pasha dan Enda suka mendengarkan audio al-Qur’an. Tapi mereka belum menemukan audio Al Qur’an dalam bahasa Indonesia. Sehingga, kami sepakat untuk ‘menghadirkannya’ sendiri. Hitung-hitung sekaligus mempelajari Al Qur’an. Jadi tak sekadar mendengarkan ayat-ayatnya, tapi juga mengetahui isinya.

Jadi sejak awal targetnya memang anak muda?

Jujur, kami memang memperuntukkan proyek ini bagi generasi muda produktif. Kami ingin mereka dapat mengakses Al-Qur’an lebih mudah, kapan pun, dan dimana pun. Sebagaimana yang kita alami, masyarakat urban perkotaan banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Kapan waktu untuk membaca atau mendengarkan al-Qur’an? Nah, fenonemana itu yang menggelitik kami. Pendeknya, kami ingin anak muda dekat dengan Al-Qur’an.

Banyak yang tak menyangka Anda, anak-anak muda perkotaan seperti Anda bisa menghadirkan kreasi audio Al Quran. 

Kalau pertanyaannya “kok bisa?” jawabannya: “kenapa nggak bisa?” Sepanjang kita fokus pada hal-hal positif, tidak ada yang tidak bisa terwujud. Asal mau bekerja keras. Sebagai Muslim, kami meyakini Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Namun, untuk waktu yang lama, sayangkannya saya tidak mengetahui banyak arti dalam ayat-ayat Al Quran — karena dalam bahasa Arab. Sebab itu saya bertekad mempelajarinya. Sayangnya, platform-nya belum ada. Nah, dari situlah kami tergelitik untuk ‘mengadakannya’? Setiap kita pasti memiliki “titik balik” dalam kehidupan, termasuk saya; ingin lebih tahu tujuan hidup. Di umur segini ingin mencari jati diri dan tujuan hidup. So it’s time bagi anak-anak muda kembali ke Al-Qur’an.

Menurut Anda, apa yang membuat kalangan muda perkotaan seperti jauh dari Al Quran? 

Latar belakang kami membuat proyek ini, sekali lagi, didasari pada “kebutuhan” terhadap Qur’an. Selain itu, berdasarkan fenomena dalam kehidupan anak-anak muda Islam di perkotaan. Mereka cenderung antipasti dengan dakwah Islam karena terkesan menggurui, berisi konten kekerasan, menghakimi orang, dan penyampaiannya tidak familiar dengan anak muda. Berdasarkan keprihatinan itu, kami menggagas proyek ini agar anak muda perkotaan bisa kembali dekat dengan Al-Qur’an. Kami juga ingin kalangan remaja tak menghabiskan waktu dengan sia-sia di jalan karena aktivitas yang padat. Lebih baik mengisinya dengan mendengarkan Al-Qur’an.

Selain dua rekan yang Anda sebutkan di awal, siapa lagi sosok yang berperan dalam kegiatan ini? 

Saya tidak mungkin melaksanakan proyek ini sendirian. Kami ingin bersama-sama dalam berbuat kebaikan. Hitung-hitung biar tak ‘garing’. Ada 30 orang tim produksi yang memiliki tanggung jawab berbeda, semisal produser, co-produser, asisten produser dan desainer visual.

Dari gagasan besar di awal, seberapa sulit mewujudkan? 

Awalnya kami meneliti ayat-ayat yang sering dibaca umat Islam. Kami memiliki datanya, terutama Top 10 ayat-ayat yang paling familiar didengarkan kaum Muslim. Berdasarkan itu, kami lalu memilih ayat-ayat tertentu secara tematis untuk dibacakan. Kami sadar, mayoritas para kontributor masih dalam taraf belajar membaca Al Qur’an. Oleh karena itu, kamu mengundang seorang guru ngaji, Uci Armisi, pimpinan Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan al-Qur’an Madani dan sejumlah orang lainnya. Kami rekaman di rumah saya di bilangan Kebayoran Baru. Ada ruangan yang disulap menjadi studio rekaman. Dengan berbagai keterbatasan, kami akhirnya bisa menuntaskan rekaman selama kurang lebih delapan bulan. Sebenarnya masih banyak yang tertarik untuk bergabung dalam proyek ini. Tapi proses perekaman harus kami hentikan sementara hinga akhir tahun 2014. Setelah itu, pada awal tahun 2015, kami melakukan proses editing, hingga finishing. Kini, audio tersebut bisa diakses di Soundcloud dengan akun “Qur’an Indonesia Project”.

Pelajaran apa yang Anda petik sejauh ini? 

Kami ingin menunjukkan pada generasi muda bahwa untuk melakukan kebaikan sangatlah mudah. Kita tak harus menjadikan keterbatasan yang melingkupi menjadi penghalang dalam merealisasikan niat baik. Termasuk keterbatasan dana, yang selama ini dianggap sebagai penghalang utama. Hal terpenting adalah senantiasa berpikir positif untuk melakukan hal positif. Sudah terlalu banyak hal-hal negatif di dunia ini. Sehingga kita yang menentukan sikap untuk menyebarkan hal-hal positif. Insya Allah, tanpa disangka-sangka, apabila niat kita baik, bala bantuan Allah bakal menyertai setiap langkah kita. Yakinlah pada Allah, pasti akan berhasil.

Anda pribadi sepertinya banting stir ‘keras’ hingga masuk ke dunia dakwah audio?

Ya, saya memang merasa ada ‘lompatan’ ke dunia dakwah. Tapi tidak terlampau jauh karena saya masih berkutat dengan dunia audio. Terkait dengan kehidupan artis atau dunia anak muda urban di Jakarta, ternyata banyak teman-teman yang ‘anak rumahan’. Sehingga, kita tidak bisa menghakimi kehidupan mereka, sekalipun mungkin ada beberapa yang clubbing. Menurut pengalaman, hanya segelintir teman-teman di sekitar saya yang hidup gemerlap. Dalam mengajak pada kebaikan, kita tak boleh pilih-pilih karena tugas Muslim adalah mengingatkan. Semua kembali pada diri pribadi masing-masing.

Ada pengalaman riliji mungkin yang mendorong Anda mengubah haluan?

Mungkin yang seperti itu saya alami saat ibadah Umrah. Di Mekkah, atmosfernya sangat berbeda dengan rutinitas sehari-hari di Jakarta. Saat kembali ke Indonesia, saya merasa sangat merindukan kedamaian seperti saat berada di dekat Ka’bah. Itulah mungkin yang bikin saya bersemangat mempelajari Islam, terutama memperdalam Al-Qur’an.

Kami dengar ada banyak artis yang terlibat dalam proyek ini?

Ya, berbagai kalangan dari beragam latar belakang yang berkontribusi dalam proyect ini. Seperti penyanyi Afgan, Raisa, Tulus, Gita Gutawa, grup music RAN dan HiVi, musisi senior Donny Fattah dan Indra Aziz, aktor Dimas Seto dan Acha Septriasa, dokter Mesty Arotedjo, aktivis dan penulis muda Alanda Kariza, stand-up comedian Ryan Adriandhy, pelukis dan animator Chiki Fawzi, dan Puteri Indonesia 2008, Zivanna Letisha. Totalnya ada 130 orang kontributor yang mendukung proyek ini.

Ada alasan khusus melibatkan mereka? 

Kami menggaet tokoh publik karena faktor pertemanan atau kedekatan pribadi. Meskipun kita tidak bisa memungkiri pasti berdampak pada “promosi”. Namun, itu kami anggap sebagai upaya positif karena bisa menyebarkan audio al-Qur’an ini dengan cepat. Bagaimanapun, mereka punya banyak fans. Tapi intinya proyek kami ini sifatnya sosial-non komersil. Seluruh konten rekaman audio al-Qur’an bisa diunduh secara “gratis”.

Selanjutnya bakal kemana proyek audio Al-Qur’an ini? 

Kami akan konsolidasi dulu. Insya Allah, lepas Ramadhan nanti, kami ingin menjadikan proyek ini lebih massif. Kami ingin menyebarkannya ke seluruh pelosok tanah air. Sehingga proyek ini tak hanya dinikmati anak muda perkotaan, tapi juga mereka yang tersebar di berbagai daerah.

Zainab/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *