Satu Islam Untuk Semua

Monday, 25 July 2022

Inilah 5 Makam Islam Tertua di Indonesia


islamindonesia.id – Indonesia, merupakan negara Muslim terbesar di dunia dengan jumlah 229 juta jiwa, menurut nationsonline.org.

Tentu, banyaknya penganut Islam di Indonesia ini tak lepas dari kegigihan para habaib, ulama dan para wali pada masa lalu, untuk menyebarkan Islam di Nusantara.

Mereka menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya yang sudah ada sebelumnya di Indonesia.

Berkat jasa mereka menyebarkan Islam, banyak makam ulama dan wali Indonesia yang banyak didatangi para peziarah.

Bahkan, tak sedikit makam para wali dan ulama dijadikan wisata religius, sehingga setiap hari selalu dipadati peziarah.

Namun, tahukah Anda jika di Indonesia ada beberapa makam Islam tertua dan juga selalu didatangi peziarah? Tak hanya dari kalangan warga biasa, makam ini dikabarkan juga sering diziarahi oleh para pejabat ternama di Indonesia.

1. Makam Fatimah Binti Maimun

Makam Siti Fatimah Binti Maimun ini berada di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Siti Fatimah merupakan wanita Islam yang wafat pada hari Jumat 7 Rajab 475 Hijriah atau 2 Desember 1082 Masehi.

Batu nisan pada makam Siti Fatimah bertuliskan bahasa Arab dengan gaya kaligrafi Kufi.

Nisan ini merupakan nisan makam Islam tertua yang ditemukan di Indonesia.

Temuan batu nisan ini adalah salah satu data arkeologis, yang berkaitan dengan keberadaan komunitas Muslim pertama di kawasan pantai utara Jawa Timur.

2. Makam Sultan Malikus Saleh

Sultan Malikus Saleh merupakan raja yang Mualaf. Batu nisan Malikus Saleh menjadi bukti bahwa di abad ke-13 di kepulauan Melayu berdiri sebuah kerajaan Islam, tepatnya di ujung utara Pulau Sumatera.

Konversi waktu dari batu nisan makam Sultan Malikus Saleh, menghasilkan angka tahun 1297 Masehi. Sehingga dapat dikatakan bahwa agama Islam telah masuk dan berpengaruh di kepulauan Melayu pada tahun tersebut.

Batu nisan Sultan Malikus Saleh berada di kompleks makam Malikus Saleh Desa Beuringin, Kecamatan Samudra, Aceh Utara – Nangroe Aceh Darussalam.

Seluruh tulisan pada nisan ini menggunakan bahasa Arab dengan kosakata yang khas dalam agama Islam.

3. Makam Syekh Jumadil Kubro

Terdapat banyak versi tentang keberadaan lokasi makam Syekh Jumadil Kubro. Ada yang mengatakan di antara Tambak dan Daerah Turboyo, Semarang.

Kontroversi keberadaan makam ini terjadi karena Syekh Jumadil Kubro pernah bertapa di Bergota Semarang. Ada juga yang mengatakan makam beliau ada di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Turgu di kaki gunung Kawatsu.

Namun kebanyakan yang percaya bahwa makam Syekh Jumadil Kubro berada di kompleks pemakaman Tralaya, Mojokerto.

4. Makam Syekh Syamsudin Al-Wasil

Kabupaten Kediri merupakan kota terbesar ketiga sekaligus yang tertua di Jawa Timur.

Di wilayah ini, terdapat makam yang selalu didatangi peziarah yakni makam Syekh Syamsudin Al-Wasil atau dikenal dengan sebutan Mbah Wasil.

Menariknya, makam ini berada di tengah pusat perbelanjaan, tepatnya di permakaman umum di belakang masjid Auliya, Kelurahan Setonogedong, Kota Kediri.

Makam ini selalu ramai didatangi peziarah dari berbagai daerah, terlebih pada malam Jumat di bulan Ramadhan.

Selain untuk mendoakan, mereka yang datang ada juga yang ingin mengetahui sejarah Mbah Wasil.

Menurut penelitian Prof Habib Mustopo, Guru Besar UIN Malang, Mbah Wasil merupakan ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri. Namun tidak disebutkan secara pasti, kapan Mbah Wasil wafat.

5. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim

Syekh Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal sebagai Sunan Gresik, makamnya berada di Desa Gapura, Kecamatan Sukolilo, Gresik.

Sunan Gresik adalah satu dari Wali Songo yang dianggap pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Dia juga wali paling senior diantara Wali Songo tersebut.

Dalam menyebarkan Islam, Sunan Gresik berdagang di pelabuhan terbuka. Sehingga dia dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak.

Kemudian, Sunan Gresik melakukan kunjungan ke Ibu Kota Majapahit dan diberikan sebidang tanah oleh raja Majapahit.

Sunan Gresik juga mendirikan pesantren untuk menyiapkan kader guna menyebarkan ajaran-ajaran Islam.

Hingga kini, makam Sunan Gresik selalu dipadati peziarah yang ingin mendoakan sekaligus sebagai bentuk menghargai perjuangannya menyebarkan Islam.

Ritual ziarah juga sering dilakukan saat tanggal 12 Rabiul Awal, sesuai tanggal wafat yang tertera pada prasastinya.

EH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *