Satu Islam Untuk Semua

Monday, 06 November 2017

TASAWUF – Lahir dan Batin (Selesai)


Man-Universe

islamindonesia.id – TASAWUF – Lahir dan Batin (Selesai)

 

Semua kegiatan ibadah yang ditetapkan syariat sesungguhnya memiliki sisi batin. Ibn Arabi mengatakan, “Ketahuilah bahwa Allah berfirman kepada manusia dan keseluruhannya, dan tidaklah Dia melebih-lebihkan sisi lahir ucapan-Nya atas sisi batinnya atau sebaliknya. Kebanyakan orang yang menyeru kepada agama hanya memperhatikan sisi lahiriah pengetahuan hukum-hukum syariat, tapi lalai terhadap sisi batin hukum-hukum tersebut, kecuali segolongan kecil dari mereka yang berada di jalan Allah, yakni mereka yang menilik lahir-batin semua hukum.

Tidak ada hukum lahirian yang mereka tetapkan dalam syariat kecuali mereka temukan hubungannya dengan sisi batin manusia. Dengan demikian, mereka menangkap keseluruhan hukum agama yang disyariatkan. Mereka beribadah kepada Allah dengan melaksanakan apa yang telah disyariatkan Allah bagi mereka secara lahir dan batin, sehingga mereka jaya dan beruntung di saat kebanyakan orang gagal dan merugi.

Soalnya kemudian adalah bagaimana cara manusia hidup di alam lahir berhubungan dengan alam batin. Menurut Ibn Arabi, untuk masuk ke wilayah batin, seseorang harus “menyeberang dan melintas”. Dalam bahasa Arab, “menyeberang disebut ‘abara”. Berbagai derivat kata itu berkali-kali digunakan Al-Qur’an untuk konteks yang beraneka ragam. Dalam surah Yusuf ayat 43, Al-Qur’an menggunakannya untuk kemampuan takwil atau takbir mimpi. Dan mimpi adalah peristiwa yang berlangsung secara langsung di alam batin.

Dalam surah al-Hasyr ayat 2, Al-Qur’an menggunakannya dalam konteks mengambil pelajaran dari kengerian yang menimpa orang-orang kafir. Seperti terungkap dalam ayat itu, mengambil pelajaran itu merupakan kegiatan batin yang hanya bisa dilakukan oleh uli al-abshar (orang-orang yang bermata budi).

Pada surah Yusuf ayat 111, Al-Qur’an kembali menegaskan bahwa uli al-abshar sanggup mengambil pelajaran batin (yang dalam ayat ini diacu dengan kata ‘ibrah) dari kisah-kisah para rasul. Maksudnya, di samping memiliki aspek historis yang sudah lampau dan lenyap, kisah-kisah itu juga memiliki aspek batin yang abadi. Demikian pula dalam surah an-Nur ayat 44, Al-Qur’an menyatakan bahwa pembalikan siang dan malam bisa ditembus dan ditilik secara batin oleh mereka yang bermata-budi.

 

MK/YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *