Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 05 November 2017

TASAWUF – Lahir dan Batin (Bagian 1)


space-space-man-space-wall-paint-human

Islamindonesia.id – TASAWUF – Lahir dan Batin (Bagian 1)

 

Hampir setiap Lebaran kita mendengar kata lahir dan batin yang dikait-kaitkan dengan permintaan maaf. Tetapi, apakah sebenarnya makna lahir dan batin? Secara umum, sisi lahir bersifat tampak, terinderai dan jasmani. Itulah bagian luar, permukaan dan bentuk dari sesuatu. Sebaliknya, sisi batin bersifat tersembunyi, gaib dan ruhani. Dan itulah bagian dalam, inti dan pusat dari sesuatu.

Sisi lahir sesuatu pastilah bersifat kuantitatif, sementara sisi batinnya bersifat kualitatif; sisi lahir sesuatu bersifat material, sementara sisi batinnya bersifat metafisikal dan substansial. Sisi lahir buah apel, misalnya, adalah bentuknya yang bulat, warnanya yang merah (atau hijau atau lainnya), sifatnya yang padat dan sebagainya, sedangkan sisi batin apel adalah rasa yang terkandung didalamnya. Kalau dimakan, sisi lahir apel akan menghilang dan sirna, sementara sisi batinnya akan mengendap dalam ingatan selama-lamanya.

Dalam khazanah tasawuf, sisi lahir disejajarkan dengan dunia, kehidupan (duniawi), jasad, siang, syariat, baqa’, keragaman (katsrah), ketampakan (syahadah) dan sebagainya. Pada pihak lain, batin dihubungkan dengan lawan-lawannya, yakni akhirat, kematian (kehidupan ukhwari), ruh, malam, tarikat, fana’, ketunggalan (wahdah), kegaiban (ghaib).

Seperti dapat kita bayangkan, sisi lahir hanya sejumlah satu lapis, sedangkan sisi batin berlapis-lapis. Jelasnya, tidak terdapat intensitas dan gradasi atau kedalaman pada sisi lahir, sementara sisi batin mempunyai sisi yang lebih batin secara tak terbatas. Ketakterbatasan ini disebabkan oleh sifat alam batin yang imaterial dan di luar batasan ruang dan waktu. Alam batin tidak mengalami gerak ruhani yang mengemuncak dan terus menyempurna. Itulah, mengapa, kendati aspek lahiriah sesuatu telah hilang lenyap ditelan bumi, aspek batinnya akan tetap abadi – kalau tidak malah terus tumbuh dan berkembang.

Ambillah contoh permohonan maaf yang kita lakukan setiap hari raya Idul Fitri. Sisi lahir tindakan tersebut ialah mengucapkan kata-kata apologetik ambil berpelukan, berjabat tangan atau lainnya – yang segera habis setelah dilakukan. Sebaliknya, sisi batin meminta maaf bisa berupa komitmen di dalam jiwa untuk tidak mengulang kesalahan kepada orang yang bersangkutan.

Atau, bila kita “merasa” tidak pernah berbuat salah, maka permohonan maaf kita ialah dengan meningkatkan kualitas hubungan. Lebih batinnya lagi boleh jadi ialah menyadari banyaknya kesalahan diri atau meneguhkan hakikat dan fitrah hamba yang penuh kelemahan dan demikian seterusnya.

 

Bersambung …

 

MK/YS/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *