Satu Islam Untuk Semua

Monday, 30 October 2017

TASAWUF – Keagungan Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali


sufi tasawuf

islamindonesia.id – TASAWUF – Keagungan Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

 

Karena ilmu dan amallah diciptakan langit-langit dan bumi beserta segala isinya. Allah SWT berfirman, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. ath-Thalaq 65: 12). Cukuplah ayat ini sebagai dalil tentang keagungan ilmu dan kewajiban menuntutnya, terutama ilmu tauhid.

Di dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. adz-Dzariyyat 51: 56). Ayat ini cukup menjadi bukti atas kemuliaan ibadah dan keharusan menerimanya. Karena itu, agungkanlah dua hal, yang keduanya merupakan tujuan penciptaan dua negeri (dunia dan akhirat).

Hak hamba adalah tidak menyibukkan diri kecuali dengan keduanya, dan agar hamba tidak berlelah-lelah kecuali untuk keduanya. Kemudian, ilmu adalah yang paling mulia dari dua mutiara itu. Namun, hendaklah ilmu disertai ibadah. Jika tidak, maka ilmu itu adalah kesia-siaan.

Ketahuilah bahwa wajib mendahulukan ilmu atas ibadah. Hal itu berdasarkan dua alasan: 1. agar ibadahmu sahih dan selamat; 2.karena ilmu yang bermanfaat membuahkan rasa gentar (khasyyah) dan takut (muhabah) kepada Allah SWT di dalam kalbu hamba. Keduanya (yakni khasyyah dan muhabah) membuahkan ketaatan dan mencegah kemaksiatan dengan pertolongan dan taufik Allah SWT.

Di balik kedua hal ini tidak ada tujuan lain bagi hamba dalam beribadah kepada Tuhannya Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Jadi, wajib bagimu menuntut ilmu yang bermanfaat. Kewajibanmu yang pertama adalah engkau mengetahui siapa yang harus disembah (ma’bud). Kemudian engkau menyembah-Nya. Bagaimana engkau bisa menyembah sesuatu yang tidak engkau ketahui nama-nama dan sifat-sifat zat-Nya, segala sifat yang wajib bagi-Nya, dan segala yang mustahil dalam sifat-sifat-Nya? Manakala engkau punya suatu keyakinan tentang sifat-sifat-Nya dengan sesuatu keyakinan yang menyimpang dari kebenaran, maka ibadahmu menjadi sia-sia.

Kemudian engkau wajib mengetahui apa yang harus kaulakukan atas kewajiban-kewajiban syariat agar engkau mengerjakannya sesuai dengan yang diperintahkan, dan yang harus kautinggalkan dari larangan-larangan syariat untuk engkau tinggalkan.

Adapun ilmu yang wajib dituntut oleh setiap mukalaf ada tiga jenis, yaitu:

– Ilmu tauhid dan bagian-bagiannya yang ditentukan kepadamu, yaitu sekadar yang engkau ketahui dari ushul ad-din dan kaidah-kaidah akidah yang memadai.

– Ilmu batin (sirr), yaitu yang berkaitan dengan kalbu dan jalan-jalannya berupa kewajiban dan larangannya.

– Ilmu ibadah-ibadah lahir yang berkaitan dengan badan dan harta. Kemudian, karena Allah, engkau harus mengetahui ilmu berupa hal-hal yang wajib diamalkan dan amalan yang wajib diketahui ilmunya, serta meninggalkan yang wajib ditinggalkan. Dengan demikian, engkau telah menunaikan apa-apa yang Allah wajibkan kepadamu, dan menjadi bagian dari ulama pengamal ilmu.

 

IG/YS/IslamIndonesia

sumber: buku Rawdhah ath-Thalibin wa ‘Umadah as-Salikin karya Imam Al-Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *