Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 16 March 2017

TASAWUF – Ilmu Irfan dan Kaum Arif dalam Islam


rumi sufi

islamindonesia.id – TASAWUFIlmu Irfan dan Kaum Arif dalam Islam

 

Ilmu ‘irfan merupakan salah satu ilmu yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan Islam. Ada satu perbedaan penting antara kaum arif dan sarjana-sarjana Islam lainnya misalnya para ulama hadis, penafsir Al Qur’an, para faqih, teolog, pujangga, dan penyair. Kaum arif termasuk dalam kelompok ilmuwan, menciptakan ilmu ‘irfan dan melahirkan banyak pakar serta menghasilkan buku-buku penting tentang persoalan‘irfan.

Dari sudut pandang ilmiah, mereka yang ahli dan mahir dalam ‘irfan disebut kaum arif. Sedangkan dari sudut pandang sosial, mereka dikenal sebagai kaum sufi. Secara ilmiah, ‘irfan mempunyai dua aspek – yakni, aspek praktis dan teoritis.

Aspek praktis ‘irfan adalah bagian yang melukiskan hubungan manusia dengan dunia dan dengan Allah. Aspek itu menentukan hubungan-hubungan ini serta menjelaskan berbagai kewajiban yang melahirkan oleh hubungan-hubungan ini atas diri manusia. Sebagai ilmu praktis, bagian ini mirip dan menyerupai etika.

Seorang penyair berkata, “Jangan coba-coba berjalan tanpa ditemani oleh seorang Khidhir (seorang syaikh yang berpengalaman). Kegelapan adalah jejak. Karena itu, berhati-hatilah agar engkau tidak kehilangan jalan dan tersesat. Monoteisme (tauhid) atau Keesaan Allah yang dicari seorang arif dan yang merupakan tujuan tertinggi kemanusiaan sangat berbeda dari monoteisme orang-orang awam. Bagi seorang filosof, Keesaan Allah bermakna bahwa hanya asa Satu Wujud Hakiki, tidak lebih dari satu.

Kaum arif berpandangan bahwa Keesaan Allah berarti bahwa Allah adalah satu-satunnya Wujud yang benar-benar ada. Keberadaan segala sesuatu lainnya hanyalah ilusi semata. Monoteisme seorang arif diwujudkan dengan melakukan perjalanan spiritual dan – dengannya – mencapai tahap di mana dia tidak melihat sesuatu yang lain kecuali Allah.

Menurut kaum arif, manusia tidak bisa sampai pada tahap ini melalui pemikiran intelektual semata. Dia bisa mencapainya hanya dengan membersihkan dan menyucikan hatinya, dengan mengekang berbagai keinginan-rendahnya serta melakukan perjalanan spiritual.

Dari sudut pandang seorang arif, jalan spiritual adalah jalan hakiki serta bukan jalan figuratif dan fenomenal. Di mata seorang arif, jiwa manusia itu laksana seorang bocah atau sejenis tanaman dan tumbuhan yang mesti dirawat sesuai dengan sistem yang cocok baginya.

Sebaliknya, dalam etika, hanya sifat-sifat tertentu saja yang ditekankan, semisal, ketulusan, persahabatan, keadilan, kesucian, kedermawanan, dan pengorbanan – sifat-sifat yang membalur dan menghiasi jiwa. Dari sudut pandang moral, jiwa manusia bisa dibandingkan dengan sebuah rumah yang harus dicat dan dihiasi. Akan tetapi, sewaktu melakukan hal ini, tidaklah perlu menempuh urutan tertentu dan bisa dilakukan dari sisi mana saja. Dalam ‘irfan juga dibicarakan akhlak. Hanya saja, dalam ‘irfan, akhlak merupakan unsur-unsur yang senantiasa bergerak.

Menurut kaum arif, capaian tertinggi manusia ialah kembali kepada asal-usulnya (yakni, dari mana dia datang) guna menghilangkan jarak antara dirinya dengan Allah serta menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan untuk berusaha hidup abadi dalam Diri Allah.

Aspek-aspek teoritis dan praktis ‘irfan sangat erat berkaitan dengan Islam, sebab – seperti semua agama lainnya atau lebih dari agama mana pun – Islam menentukan dan menjelaskan hubungan manusia dengan Allah, alam semesta dan manusia lainnya. Kaum arif mengutip surat dan ayat Al Qur’an, Sunnah, dan riwayat hidup Nabi, para Imam serta sahabat-sahabat Nabi. []

 

YS/ Menapak Jalan Spiritual, 2006/ islamindonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *