Satu Islam Untuk Semua

Friday, 03 November 2017

TASAWUF – Hakikat Ikhlas Menurut Imam Al-Ghazali


04818ec7f841766cf70431105ff9789a--the-essential-rumi-sufi

Islamindonesia.id – TASAWUF – Hakikat Ikhlas Menurut Imam Al-Ghazali

 

Keikhlasan itu dua macam, yaitu keikhlasan beramal dan keikhlasan mencari pahala. Keikhlasan beramal adalah keinginan mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengagungkan ihwal-Nya, dan menyambut seruan-Nya. Yang mendorong hal itu adalah keyakinan yang benar. Lawan dari keikhlasan beramal adalah kemunafikan (nifaq).

Kemunafikan adalah mendekatkan diri kepada selain Allah SWT. Adapun keikhlasan mencari pahala adalah keinginan memperoleh manfaat akhirat dengan amal kebajikan. Lawan dari keikhlasan ini adalah ria. Ria adalah keinginan memperoleh manfaat dunia dengan amalan akhirat, baik diinginkan dari Allah SWT maupun dari manusia.

Sebab, yang dipertimbangkan dalam ria adalah yang diinginkan, bukan dari siapa hal itu diinginkan. Pengaruh dari kedua makna ikhlas itu adalah keikhlasan beramal menjadikan perbuatan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah (qurbah), sedangkan keikhlasan mencari pahala berupaya agar perbuatan tersebut diterima dan dilimpahi pahala.

Adapun kemunafikan adalah menyia-nyiakan dan mengeluarkan amalan dari keberadaannya sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah, sementara ria menyebabkan amalan itu tertolak. Adapun tempat keikhlasan adalah para ketaatan apa pun yang berlaku dan wajib. Ketahuilah bahwa amalan, menurut sebagaian ulama, ada dua bagian.

Pertama, amalan yang mengandung kedua keikhlasan tadi. Amalan ini adalah ibadah lahir yang murni. Kedua, amalan yang mengandung keikhlasan mencari pahala, tetapi tidak mengandung keikhlasan beramal. Amalan ini adalah perbuatan-perbuatan mubah yang dikerjakan untuk persiapan.

Guru kami berkata,”setiap amalan yang memiliki kecenderungan ditujukan adalah termasuk ibadah lahir yang kepada selain Allah murni yang mengandung keikhlasan beramal, sementara ibadah batin, sebagian besarnya, disertai keikhlasan beramal.”

Adapun tentang keikhlasan mencari pahala, guru kami mengatakan, “apabila pengamal itu, dengan ibadah-ibadah batinnya, menghendaki manfaat dunia dari Allah SWT, maka itu merupakan ria.” Jadi, kedua keikhlasan itu tidak mustahil terdapat dalam ibadah-ibadah sunah (nawafil), ia harus dimulai dengan dua keikhlasan sekaligus.

Adapun perbuatan mubah, yang dilakukan untuk persiapan, menghasilkan keikhlasan mencari pahala, bukan keikhlasan beramal. Karena, perbuatan mubah itu sendiri tidak patut untuk menjadi kedekatan (qurbah), melainkan merupakan persiapan menuju kedekatan. Ini adalah tempat-tempatnya. Adapun waktunya, keikhlasan beramal bersamaan atau mengikuti perbuatan. Keikhlasan mencari pahala pun kadang-kadang mengikuti perbuatan.

Menurut sebagian ulama, kadang-kadang yang dipertimbangkan adalah pada waktu selesai dari beramal. Apabila amalan itu telah selesai di atas keikhlasan dan ria, maka perkaranya telah berlalu dan tidak mungkin diulang kembali.

Dalam pada itu hamba wajib menjaga diri dari sepuluh hal dalam beramal. Sepuluh hal itu adalah kemunafikan, ria, takhlith, mengungkit-ungkit kebaikan, menyakiti orang lain, penyesalan, bangga diri (‘ujb), mengeluh, meremehkan, dan takut pada celaan manusia.

Kemudian guru kami menyebutkan lawan dari setiap perangai itu dan bahayanya terhadap amalan. Lawan kemunafikan adalah keikhlasan beramal karena Allah SWT. Lawan ria adalah keikhlasan mencari pahala. Lawan takhlith adalah ketakwaan. Lawan mengungkit-ungkit kebaikan adalah menyerahkan amalan itu kepada Allah SWT. Lawan menyakiti orang lain adalah menjaga amalan itu dari hal-hal tercela. Lawan penyesalan adalah meneguhkan jiwa. Lawan bangga diri adalah  mengingat bahwa kebaikan itu adalah milik Allah SWT. Lawan mengeluh adalah mengambil manfaat dari kebajikan. Lawan meremehkan adalah mengagungkan taufik. Lawan takut pada celaan manusia adalah takut kepada Allah SWT.

Adapun bahaya yang timbul dari perbuatan tercela itu adalah sebagai berikut: kemunafikan akan menyia-nyiakan amalan, ria menyebabkan amalan itu tertolak, mengungkit-ungkit kebaikan dan menyakiti orang lain akan menyia-nyiakan sedekah dalam waktu yang bersamaan.

Menurut sebagian guru kami, dua yang terakhir dalam menghilangkan pahalanya yang berlipat. Adapun penyesalan akan menyia-nyiakan amalan. Bangga diri menghilangkan keberlipatan amalan. Mengeluh dan meremehkan akan meringankan (timbangan pahala) amalan. Jadi, engkau harus menghindari akibat yang dikhawatirkan dan berbahaya ini.

 

YS/Irwan K/IslamIndonesia/ Sumber: buku Rawdhah ath-Thalibin wa ‘Umdah as-Salikin karya Imam Al-Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *