Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 13 May 2017

TASAWUF – Hakikat Akhlak yang Baik Menurut Al-Ghazali


o-SUPPORT-FRIENDS-facebook

islamindonesia.id – TASAWUF – Hakikat Akhlak yang Baik Menurut Al-Ghazali

 

Beberapa literatur menyebutkan bahwa inti dari ajaran islam adalah akhlak. Namun, untuk menjelaskan apa itu akhlak, terkadang kita masih terjebak pada buah dari akhlak itu sendiri. Misalnya, pendapat Al-Hasan bahwa “akhlak yang baik adalah wajah yang berseri-seri, kemurahan hati, dan menahan diri dari perbuatan menyakiti hati orang lain”.

Al-Wasithi pernah berkata, “akhlak itu berarti membahagiakan hati orang lain di saat suka maupun duka.”

Al-Tustari pernah ditanya seseorang tentang akhak yang baik. Menurutnya, akhlak yang baik adalah sikap sabar, tidak menuntut balas, berempati kepada pelaku kejahatan, memohonkan ampunan untuknya, dan menaruh belas kasihan atasnya.

Ali R.a, “kebaikan akhlak terletak pada tiga perilaku: menjauhkan diri dari apa yang diharamkan, mencari yang dihalalkan, dan bersikap pemurah kepada keluarga.”

Begitupun dengan sederet pendapat lainnya, yang hampir sama mengenai definisi akhlak yang baik ini. Mereka menjelaskan tentang buah akhlak, bukan esensinya. Lantas, bagaimana menurut Al-Ghazali?

Seperti dikutip dari karya Al-Ghazali, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Metode Menaklukkan Jiwa: Pengendalian Nafsu dalam Persfektif Sufistik”, akhlak yang berasal dari kata “khalq” (paras) dapat diungkapkan secara bersamaan dengan kata “khuluq” yang berarti watak. Sebab khalq berarti bentuk lahir, sedangkan khuluq adalah bentuk batin.

Ini menunjukkan bahwa manusia terdiri dari dua unsur, yakni jasmani yang dapat dijangkau oleh penglihatan, dan ruhani yang hanya bisa dijangkau oleh mata batin.  Masing-masing memiliki nilai yang baik maupun buruk. Namun demikian, jiwa yang dijangkau oleh batin bernilai lebih tinggi daripada jasmani, seperti dalam firman-Nya, “Sesunggunya Aku akan menciptakan manusia dari tanah; setelah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ruh-Ku, hendaklah kamu merendahkan diri dengan bersujud ke hadapannya.”

Dalam nas tersebut, Dia menyatakan bahwa jasmani berasal dari tanah, sedangkan ruhani berasal dari Allah. Begitu pun dengan akhlak. Dengan demikian, perangai atau akhlak merupakan suatu kondisi yang mapan dari jiwa– yang muncul dari perbuatan-perbuatan yang tidak perlu pemikiran atau pertimbangan.

Jika respon terhadap suatu kejadian tertentu yang pertama kali keluar dari diri kita itu baik, inilah yang disebut akhlak yang baik. Sedangkan bila respon tersebut sebaliknya atau buruk, itulah yang dinamakan esensi dari akhlak buruk.

Dalam hal akhlak ini, Al-Ghazali menyebutkan ada empat perkara, yakni perbuatan baik atau buruk, kemampuan melakukan perbuatan, kesadaran akan perbuatan itu, dan keempat kondisi jiwa yang membuatnya condong kepada salah satu dari dua sisi tersebut.

Dengan demikian, akhlak yang baik dapat diusahakan dengan cara mendisiplinkan diri secara terus-menerus untuk meraihnya, dan juga dengan melalui rahmat Allah, sebagai Dzat Pencipta Alam Semesta, pemberi sifat bawaan pada manusia berupa kamal fithri—seseorang dilahirkan dengan kesempurnaan daya rasional, kebaikan akhlak, dan daya amarah yang seimbang serta tunduk pada akal dan agama.[]

 

Islam Indoesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *