Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 31 December 2016

TASAWUF – Film Kehidupan


9867222175_d3983ddb1a_b

Islamindonesia.id —  TASAWUF – Film Kehidupan

 

Tasawuf atau sufisme adalah sebuah cakrawala yang sebetulnya juga berlandaskan pada suatu pola berpikir yang logis. Ada rangkaian argumen dan dasar berpikir yang melatarbelakanginya. Hampir seperti umumnya mazhab pemikiran, tasawuf juga berpijak pada argumentasi.

Bedanya, tasawuf tidak hanya bersimpuh di hadapan rasio, ia juga mengembangkan pola-pola dan landasan-landasan argumentasi yang lain. Bukan tempatnya di sini menjelaskan semua itu. Apa yang ingin disampaikan berikut ini sebenarnya hanyalah simpulan kaum sufi berlandaskan pada pola berpikir mereka.

Berbeda dengan orang kebanyakan, para sufi memandang kematian sebagai permulaan, bukan penghabisan. Ketika berbicara mengenai kehidupan, orang awam pastilah beranjak dari masa kelahiran manusia ke dunia dan berakhir pada saat manusia itu meninggalkannya.

Awal dan akhir kehidupan ditandai dengan sesuatu yang fisikal: kelahiran dan kematian yang biologis. Sebaliknya, kaum sufi melihat kehidupan sebagai keadaan yang tidak senantiasa terikat dengan lingkaran ruang dan waktu. Karena itu, orang sufi berbicara tentang kemungkinan orang mati (secara spiritual) pada saat ia hidup (secara fisikal) dan sebaliknya.

Orang sufi mendamba kematian, sementara orang awam berangan-angan agar bisa hidup seribu tahun lamanya (baca: QS. Al-Baqarah: 95-96). Sementara orang awam melihat kehidupan dunia sebagai fokus pencarian, sufi melihatnya sebagai penjara, dan kematian sebagai pembebasan. Surah ke-50, ayat ke-22 menjadi dasar penalaran kaum sufi tersebut.

Dalam ayat itu, dijelaskan bahwa pada hari kiamat kelak penutup (ghitha’) manusia yang tidak lain adalah unsur wadag ini akan disingkapkan oleh Allah. Lalu mengapa kehidupan ini disebut sebagai penutup?

Sehubungan dengan ini, para sufi memberikan ilustrasi menarik sebagai berikut: Anggaplah bahwa dalam hidup ini ada orang yang lahir di sebuah bioskop dengan layar yang melingkari setengah gedung. Sejak lahir, mata orang ini sudah dihadapkan ke arah layar yang terus memutar film demi film.

Karena satu dan lain alasan, ia tidak bisa menengok ke kanan maupun ke kiri, apalagi ke belakang. Bayangkan, apa yang akan terjadi pada anak itu setelah 40 tahun keadaan ini berlaku padanya?

Akan sulit mengatakan pada anak itu bahwa semua film yang diproyeksikan ke layar di hadapannya itu tak lebih dari satu khayalan belaka, bukan kenyataan yang sesungguhnya. Sebaliknya: anak itu mengatakan bahwa semua film yang tampil di layar itu adalah kenyataan yang sebenar-benarnya.

Nah, kebanyakan manusia melihat kehidupan dunia ini sebagaimana orang yang terlahir di bioskop itu mempersepsi tayangan-tayangan film yang diproyeksikan ke layar di hadapannya. Sedangkan sufi tidak demikian.

Ia tahu bahwa semua gejala yang tampak ini hanyalah rekaan dan buatan. Ada operator yang bekerja di belakang sebuah proyektor untuk memutar semua film itu. Dan bahwa semua film itu akhirnya akan tamat juga dengan suatu kematian.

Kematian adalah akhir dari pemutaran film-film rekaan itu. Pada saat kematian menjemput, kita akan tahu bahwa kita sedang berada di sebuah bioskop, tempat orang menonton film untuk menghibur diri.

Kita juga akan tahu, selain operator yang bekerja memproyeksikan film ke layar, ada pula sutradara, produser, aktor, dan lain sebagainya yang membuat film tersebut menjadi nyata. Nasib anak-anak yang terlahir di bioskop dalam keadaan menghadap ke arah layar hingga dia mati adalah nasib orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia.

Karena, bioskop itu adalah alam semesta dan film itu adalah gambaran kita sendiri tentang berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Dalam konteks ini, salah satu murid Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

“Wahai dunia! Pergilah ke mana saja yang kau hendaki. Aku telah melepaskan diri dari cengkramanmu, menghindar dari perangkapmu, dan menjauh dari jurang kehancuranmu. Di manakah kini orang-orang yang pernah kau tipu dengan permainanmu? Di manakah bangsa-bangsa yang telah kau perdaya dengan hiasan-hiasanmu? Di sana mereka! Tergadai dalam kuburan sebagai pengisi liang-liang lahad!”<>

 

 

YS/ MK/ islam indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *