Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 16 September 2018

Syair Sa’di Shirazi tentang Kesederhanaan dan Kematian


Sa'di Shirazi

islamindonesia.id – Syair Sa’di Shirazi tentang Kesederhanaan dan Kematian

 

Abu Muhammad Mushrifuddin Muslih bin Abdullah bin Mushrifi Shirazi, yang juga mengacu kepada nama Sheikh Sa’di atau Sa’di Shirazi (Sa’di dari Shiraz), atau lebih dikenal dengan nama pena Sa’di (Saadi) adalah seorang penyair, penulis prosa, dan pemikir Persia. Dia dilahirkan di Shiraz antara tahun 1184-1210 dan meninggal antara tahun 1291 atau 1292.

Sa’di dikenal dunia melalui dua karya besarnya yang berjudul Bustan (Kebun Buah) tahun 1257 dan Gulistan (Taman Mawar) tahun 1258. Meskipun Sa’di dikenal sebagai seorang penyair, dia juga dipertimbangkan sebagai seorang Sufi. Oleh karena itu, N. Hanif, dalam bukunya yang berjudul Biographical Encyclopaedia of Sufis: Central Asia and Middle East, memasukan nama Sa’di sebagai salah seorang Sufi.

Sa’di terbiasa duduk bersama rakyat jelata di kedai-kedai terpencil sampai dengan larut malam dan bertukar pandangan dengan pedagang, petani, pengkhotbah, musafir, pencuri, dan Sufi pengemis. Selama dua puluh tahun atau lebih, dia terus konsisten melanjutkan kegiatannya dalam berdakwah, menasihati, belajar, mengasah kemampuan khotbahnya, dan memolesnya menjadi permata kebijaksanaan yang menerangi kegelapan pada rakyat banyak.

Di antara seluruh karya Sa’di, terdapat sebuah syair yang membicarakan tentang kehidupan sederhana dan kaitannya dengan kematian:

“Aku memperhatikan putra seorang lelaki kaya, duduk di kuburan ayahnya dan berselisih dengan seorang putra Darwish, mengatakan, ‘Properti makam ayahku terbuat dari batu, dan batu nisannya elegan. Trotoarnya terbuat dari marmer, dilapisi dengan batu-batu seperti pirus. Tapi apa yang menyerupai makam ayahmu? Hanya terdiri dari dua batu bata berderet dengan dua genggam lumpur yang dilemparkan di atasnya.’ Anak dari Darwish mendengarkan itu semua dan kemudian berkata, ‘Pada saat ayahmu dapat melepaskan batu-batu berat yang membebani dirinya, milikku (ayahnya) telah mencapai surga.’

“Tubuh dengan beban ringan,

Tidak diragukan dapat berjalan dengan mudah.

Seorang Darwish yang hanya membawa kemiskinan,

Juga akan tiba dengan beban ringan di gerbang kematian,

Sedangkan dia yang hidup dalam kebahagiaan, kekayaan, dan kemudahan

Tidak diragukan lagi semua pertanggungjawabannya akan berat.

Dari semua peristiwa, seorang tahanan yang telah bebas dari semua ikatannya,

Harusnya lebih berbahagia ketimbang seorang Amir yang menjadi tahanan.”

 

PH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *