Satu Islam Untuk Semua

Tuesday, 19 August 2014

Sebait Kalimat Rindu untuk-Nya


KALAU MAU JELI, kita bisa segera tahu bahwa semua tindakan manusia sebenarnya bertujuan meraih kesempurnaan. Ibarat cahaya lentera di malam hari, kita adalah laron yang merindukannya setiap saat. Kita baru bisa tenang jika telah berada di dekatnya, berputar-putar mengagumi pendar-pendar cahayanya, sebelum akhirnya kita menenggelamkan diri kita dalam apinya, lalu hangus terbakar olehnya. Setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, kita melihat orang memburu kekayaan, menghabiskan waktunya siang dan malam untuk mendapatkan rumah yang nyaman, makanan yang sehat, keluarga yang sakinah, teman yang dipercaya, pekerjaan yang berbobot, mobil yang laju, pakaian yang sedap di mata, pikiran yang tenang. Dan daftarnya masih panjang lagi, berubah-ubah setiap saat, seiring kedipan mata, tergantung pikiran dan pemahaman masing-masing orang. Tapi kita juga tahu bahwa manusia tak akan pernah puas selama masih mengarahkan laron jiwanya pada yang tampak, yang musnah, yang berbilang, yang tertawan kendaraan siang dan malam. Kegelisahan, kebosanan, letih di tubuh, sumpek di hati pasti datang menghampiri. Kita bisa punya uang segudang tapi masih bisa bosan. Kita bisa punya keluarga yang menyejukkan mata, tapi tetap masih bisa jenuh dan letih. Begitulah, kita selalu menginginkan yang lebih baik, yang kita anggap lebih sempurna. Kita akan terus mencarinya hingga kesempurnaan lah yang akhirnya mendatangi kita, entah kita suka ataupun terpaksa: kematian. Kematian memang kesempurnaan bagi raga yang menua. Kita akan terbaring di kubur setelahnya, menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya kesempurnaan kembali menarik kita ke alam yang lebih tinggi. Akhirat. Inilah tempat kita berhadap-hadapan dengan Kesempurnaan Mutlak. Allah SWT. Hai manusia sesungguhnya kau bersusah payah dengan tekun-gigih menuju Tuhanmu, lalu kau pasti akan menemui-Nya (QS 84: 6).

Inilah ujungnya: Kesempurnaan Sejati hanya ada pada Tuhan. Mereka yang jeli mamandang kehidupan ini akan segera memahami bahwa di segenap alam kemaujudan yang membentang luas ini, di lorong-lorong khayalan kita yang tak bertepi  ini, di tingkatan-tingkatan analisis akal yang menjulang ini, hanya Allah SWT yang memiliki sifat-sifat Kesempurnaan dan Keindahan Mutlak. Hanya Dia yang memiliki keindahan mutlak tanpa cacat. Hanya Dia yang memiliki Kekuasaan yang tak mengenal kata akhir. Hanya Dia yang pemberiannya melebihi segalanya. Hanya Dia yang bantuannya lebih kita harapkan dari bantuan siapapun. Hanya Dia Tuhan yang layak menjadi Sesembahan, Tumpuan dan Peraduan di kala susah maupun senang. Hanya Dia Keindahan Abadi yang mendebarkan dalam setiap perjumpaan. Al-Qur’an menyebut jiwa yang berpikiran seperti itu akan mendapatkan ketenangan, merasa bahagia, bermandikan cinta setiap saat. Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia akan beroleh ketenteraman dan kelapangan serta surga-surga kenikmatan … Dan adapun jika dia termasuk para pendusta yang tersesat, maka dia akan beroleh hidangan air mendidih dan dibakar di dalam neraka (QS 56: 88-94).

Wahai para pecinta Dzat Mahakekal dan para pendamba Kekasih yang Suci dari semua cacat, wahai kupu-kupu yang terbang mengitari Cahaya Keindahan Mahamutlak, wahai laron-laron yang terbakar api kerinduan pada Dzat yang Sempurna Mutlak, wahai musafir yang terkurung dalam lembah kemabukan cinta, kembalilah kepada fitrah kalian. Bukalah lembaran-lembaran jiwa kalian dan segera kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang Mahakuasa telah menggariskan dalam fitrah kalian suatu ketetapan yang berbunyi: Sesungguhnya aku palingkan wajahku kepada-Nya, yang telah menciptakan langit dan bumi … (QS 6: 79) dan Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang dengannya Dia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, meskipun kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS 30: 30).

Wahai jiwa, bangunlah dari tidur nyenyakmu, dan bergembiralah karena sebenarnya kau memiliki Kekasih tanpa kekurangan, cacat, dan batasan. Sadarkan dirimu kalau cahaya yang kau cari adalah Cahaya yang sinar-Nya menerangi alam semesta, Allah adalah cahaya langit dan bumi …. (QS 24: 35). Wahai manusia yang berakal, kecintaan hakiki dalam fitrahmu itu takkan terpuaskan kecuali dengan Kekasih yang Hakiki pula. Tak mungkin ia sudi bermesraan dengan makhluk yang cacat, sekiranya untuk sesaat saja ia menyadarinya. Apa saja yang dapat dipikirkan oleh akal atau dibayangkan oleh khayalan bukanlah Dzat Mutlak. Pecinta hakiki dan cinta sejati yang membakar jiwa dan ragamu tak mungkin tanpa Kekasih Hakiki, dan tak ada Kekasih Hakiki lain kecuali Allah yang kepada-Nya fitrah manusia pada akhirnya, dalam keadaan suka atau terpaksa, akan berpaling. Bergegaslah sebelum terlambat, penuhi dadamu dengan Kekasih Sejati. Sebab adakah suatu keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS 14: 10).”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *