Satu Islam Untuk Semua

Monday, 30 November 2015

KISAH – Nasihat Cinta Abu Dzar Al Ghifary


painted-heart

Tidak banyak orang yang mengetahui kedekatan dan perhatian Nabi Muhammad pada sahabatnya Abu Dzar dari suku Ghifar. Suatu hari, Abu Dzar menerima surat seseorang dari negeri yang jauh. Sang pengirim mengetahui bahwa Sang Nabi kerap mengajari Abu Dzar ilmu-ilmu hikmah yang tinggi. Untuk itu, ia menulis surat pada Abu Dzar untuk meminta nasihat.

Setelah membaca suratnya, Abu Dzar membalasnya dengan satu kalimat: “Janganlah memusuhi kekasih yang engkau cintai lebih dari orang lain.”

Tidak lama kemudian, surat balasan itu sampai pada tujuannya. Setelah dibaca, orang itu tidak mendapatkan makna di balik nasihat Abu Dzar yang sangat ringkas ini. “Apa maksudnya tulisan ini?” katanya dengan perasaan tidak puas.

Bahkan menurutnya, kalimat itu hanya mengungkapkan sesuatu yang telah jelas bagi setiap orang. “Apakah mungkin seseorang akan memusuhi kekasih yang paling ia cintai?”

Baginya, sekedar tidak memusuhi kekasih adalah perkara yang sangat mudah. Bahkan demi kekasih, harta dan nyawa dengan mudah dikorbankan. Namun ketika merenung lebih dalam lagi, ia berpikir bahwa yang menulis kalimat ini bukanlah orang sembarangan.

Abu Dzar, yang selama ini ia yakini, adalah orang yang memiliki pengetahuan yang dalam dan pandangan yang luas. Sahabat setia nabi ini, menurutnya, adalah Luqman bagi umat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim kembali surat ke Abu Dzar untuk meminta penjelasan dari nasihatnya itu.

Berselang beberapa waktu kemudian, ia kembali menerima surat balasan tokoh yang ia kagumi itu. Dalam suratnya, Abu Dzar menulis, “maksudnya, kekasih yang paling mulia dan paling engkau cintai adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Engkau pasti mencintai dirimu sendiri melebihi cintamu pada orang lain.”

Dalam surat penjelasannya, Abu Dzar melanjutkan, “maksud dari ‘janganlah memusuhi kekasih yang paling engkau cintai’, ialah janganlah engkau bersikap memusuhi dirimu sendiri. Tahukah engkau bahwa setiap dosa dan maksiat yang dilakukan oleh seseorang, maka resiko dan akibat buruknya akan ia tanggung sendiri?” [] 

Edy/ ksh/ Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *