Satu Islam Untuk Semua

Monday, 13 July 2015

Lelaki Tua di Kebun Kurma


petani-ilustrasi-TANAM-PADI-Bisnis-Indonesia-Paulus-Tandi-Bone1-370x246

Di Madinah sepeninggal Rasul, Sayyidina Hasan al-Mujtaba selalu membuka pintu rumahnya untuk kaum miskin dan musafir yang kehabisan bekal. Pagi siang malam rumah sang cucu Rasul itu tak ubahnya dapur umum yang tak pernah kosong oleh tamu. 

Tiap hari, beliau menyembelih seekor onta kecil untuk dihidangkan ke tetamu yang terus mengalir. Suatu hari, perhatian Sayyidina Hasan tertuju ke seorang tamu Badui (Arab dusun). Lepas makan, dia masih menyempatkan membungkus makanan untuk dibawa pulang. Sayyidina Hasan menegurnya. “Kenapa kau mesti membungkus? Bukankah lebih baik kalau kau datang saja setiap kali ingin agar makananmu lebih segar?”

“Oh, ini bukan untukku pribadi,” jawab sang tamu. “Ini untuk orang tua miskin yang kutemui di pinggir kota tadi. Kulihat dia duduk di pinggir kebun kurma dengan wajah lusuh dan memakan roti keras. Dia hanya membahasahi roti itu dengan sedikit air garam dan memakannya. Aku membungkus makanan ini untuknya, biar dia senang.”

Mendengar itu, Sayyidina Hasan menangis.

“Kenapa Tuanku menangis? Apa salah jika aku kasihan dengan lelaki miskin yang kutemui di pinggiran kota itu?”

“Ketahuilah wahai saudara Arab. Lelaki miskin yang kau jumpai itu adalah ayahku: Ali bin Abi Thalib. Kerja kerasnya di ladang kurma itulah yang membuatku bisa menjamu semua orang setiap hari di rumah ini.”

SHA/Islam Indonesia/Foto: solopos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *