Satu Islam Untuk Semua

Monday, 04 April 2016

KISAH – Kasim, Pengumpul Kayu yang Jujur


penjual-kayu-kasim

 

Setelah seharian mengumpulkan ranting-ranting kayu, pak Kasim bersiap-siap meninggalkan hutan. Sehari-hari Kasim memulai pekerjaannya sejak terbit matahari hingga sang surya terbenam. Kasim hanya memilah kayu-kayu yang berserak dari pepohonan di hutan tanpa menebangnya.

Sore itu Kasim menuai cukup banyak kayu sehingga memenuhi gerobak kayunya. Hasil dari kayu yang dia kumpulkan akan dijual ke pasar. Baginya, sedikit atau banyak hasil yang dia peroleh sama saja. Dia senantiasa bersyukur kepada Sang Pencipta.

Saat hendak menarik gerobaknya, tiba-tiba seseorang mendatangi Kasim. “Tolong saya! Dua orang sedang mengejarku!” Pria tengah baya ini tergopoh-gopoh memohon Kasim.

Kasim segera menundukkan gerobaknya kembali. “Jika Anda mau, silakan bersembunyi di balik tumpukan kayu ini,” Kasim menawarkan jalan keluar. Kasim cukup mengenal hutan ini dengan baik. Setidaknya dia bisa saja memberitahukan jalan-jalan pintas untuk pemuda ini tanpa mengangkutnya dalam gerobak.

Melihat tidak ada pilihan lain, pria ini segera masuk ke dalam tumpukan kayu.

Kasim segera menarik gerobaknya. Dari kejauhan, dua orang pria bersenjata tajam menghentikan laju gerobak Kasim. “Berhenti! Kami sedang mencari pemuda yang mencuri lalu masuk ke hutan ini!”

Kasim menjawab, “Aku hanya memperhatikan gerobakku ini. Boleh jadi dia bersembunyi di gerobak ini. Silakan kalian cari sendiri.”

Pemuda yang bersembunyi di dalam gerobak bergumam, “Celaka, pak tua ini mengkhianatiku.”

Salah satu pria bersenjata membisiki temannya, “Pria tua ini mencoba mengecoh kita. Dia menyuruh kita membongkar tumpukan kayu dalam gerobak untuk memperlambat pencarian kita. Aku yakin pencuri itu tidak jauh dari sini.”

Dua pria ini bergegas meninggalkan Kasim dan gerobak kayunya.

Magrib tiba bersamaan dengan kedatangan Kasim di rumahnya. Satu persatu ranting kayu dia turunkan dari gerobaknya. Pemuda yang bersembunyi di dalam gerobak segera melompat keluar dari tumpukan kayu seraya berkata, “Wahai Pak Tua, apa maksudmu? Mengapa kau memberitahukan persembunyianku di gerobak ini?”

Kasim tersenyum, “Jika aku tadi berbohong, maka mereka pasti akan memeriksa tumpukan kayu ini. Jika kejujuranku telah menyelamatkan anda, maka kebohongan niscaya mencelakakan kita berdua.”

Hikmah:

Banyak dari kita menyangka bahwa kejahatan bersumber dari sebuah niat buruk. Padahal sesungguhnya banyak kejahatan justru bermula dari sebuah niat baik. Mencuri, korupsi, berbohong, dan lainnya pasti didasari niat baik si pelaku. Entah untuk membiayai sekolah anaknya, untuk melapangkan jalan hidupnya atau pun untuk kebahagiaannya di masa depan.

Kisah ini menggambarkan betapa niat baik harus ditunaikan dengan cara-cara yang baik. Apapun hasil yang kita peroleh niscaya penuh kebaikan karena bersumber dari niat baik dan dilaksanakan dengan cara-cara yang baik.

 

Tom/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *