Satu Islam Untuk Semua

Friday, 22 April 2016

KISAH—Doa Habib Ali Al Habsyi Shahibul Maulid Sebelum Tidur


Shahibul Maulid Simtudduror

Islamindonesia.id—Doa Habib Ali Al Habsyi Shahibul Maulid Sebelum Tidur

Alkisah di sebuah majelis di masjid Nabawi, suatu hari Rasul saw berkata kepada para sahabat yang ketika itu bersama beliau, “Akan datang kepada kalian seorang laki-laki ahli surga.”

Mendengar hal itu para sahabat sontak penasaran, siapakah gerangan orang istimewa yang dimaksud Nabi?

Tak lama setelahnya, muncullah seorang sahabat Anshar menuju majelis Rasulullah dengan menjinjing sepasang sandal jepit. Tampak wajahnya masih basah oleh air wudhu yang menetes melewati janggutnya. Para sahabat pun bertanya-tanya dalam hati, inikah orang yang Rasulullah maksudkan tadi?

Keesokan harinya Rasulullah kembali mengatakan hal yang sama dan tak lama setelah itu muncul orang yang sama pula. Sahabat semakin penasaran, apakah benar-benar orang ini yang Rasulullah ceritakan? Jika benar, kenapa seperti tak ada yang istimewa dari diri orang itu?

Keesokan harinya lagi, Rasulullah lagi-lagi mengatakan hal yang sama dan untuk kesekian kalinya tak lama setelah itu muncul sahabat Anshar yang kemarin datang sambil menjinjing sandal jepitnya.

Di antara para sahabat, Abdullah bin Amr bin Ash lah yang paling penasaran dan membuatnya bertekad mencari tahu rahasia sahabat Anshar tersebut, apa sebabnya maka Rasulullah sampai tiga kali berturut-turut mengatakan bahwa dialah si ahli surga.

Abdullah pun mencari jalan agar dia diizinkan bermalam selama tiga hari di rumah sahabat Anshar itu.

“Aku sedang ada masalah dengan Ayahku. Sudikah kau menerimaku bermalam di rumahmu barang tiga hari saja?” pinta Abdullah.

“Tentu, silakan saja,” jawab sahabat Anshar itu.

Hari pertama lewat, sama sekali tak terlihat ada ibadah istimewa yang dilakukan sahabat Anshar tersebut. “Ah, siapa tahu besok aku akan mengetahui rahasianya,” pikir Abdullah. Demikian juga ketika hal yang sama pun terjadi pada hari kedua, Abdullah masih berharap, “Siapa tahu ibadah istimewa itu akan kusaksikan di hari ketiga?” gumamnya dalam hati.

Hari ketiga pun berlalu, Abdullah tak juga menemukan apa yang diharapkannya. Tak ada puasa sunnah, tak juga shalat malam, bahkan sekadar berzikir pun tidak. Saat itulah Abdullah menyerah dan berterus terang perihal keinginannya menginap di rumah sahabat Anshar itu. Bahwa dia tak sedang ada masalah apapun dengan Ayahnya, melainkan hanya ingin tahu apa sebenarnya amalan yang sahabat Anshar lakukan sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai ahli surga.

“Ceritakanlah kepadaku rahasiamu. Apa amalan istimewa yang engkau lakukan agar bisa kucontoh dan kuamalkan? Sungguh, aku sangat ingin menjadi ahli surga sepertimu,” pinta Abdullah.

“Aku tak memiliki amalan istimewa apapun selain yang sudah kau saksikan sendiri dalam tiga hari  ini di rumahku,” katanya.

Jawaban itu tentu saja tak memuaskan rasa penasaran Abdullah selama ini. Dalam kondisi kebingungan, dia pun pamit pulang. Tapi tak berapa lama, sahabat Anshar itu memanggilnya kembali.

“Benar adanya jika amalanku hanya yang engkau lihat selama tiga hari ini. Namun ternyata, ada yang terlupa kuceritakan kepadamu. Ketahuilah bahwa setiap malam sebelum aku tidur, selalu kuingat semua orang yang perbuatannya telah menyakitiku. Aku pun takkan beranjak tidur kecuali setelah memaafkan semua kesalahannya terhadapku.”

Terkait kisah di atas, berkata Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (Shahibul Maulid Simtudduror), “Ibuku membiasakanku sejak kecil agar aku berdoa sebelum tidur dengan doa berikut;

Doa Habib Ali Al Habsyi

“Allahumma ya Allah, ampunilah dosa orang-orang yang berghibah tentangku, mereka yang mencelaku atau berkata buruk tentangku. Dan ampunilah segala keburukan yang ada pada diriku sendiri.”

Ada yang menyebut bahwa kisah tersebut berasal dari Hadis Riwayat Ahmad (dengan sanad sahih menurut syarat Bukhari, Muslim, dan Nasa’i) dan diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal. Tapi ada pula yang menyebutkan bahwa perawinya adalah Anas bin Malik.

Tak dapat dipungkiri, memang terdapat beberapa versi cerita yang tak persis sama, dari beberapa sumber yang juga berbeda. Ada yang menyebut bahwa yang mengikuti sahabat Anshar itu adalah Abdullah bin Umar. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa tak ada nama sahabat yang disebutkan dalam kisah itu. Jika demikian, bukankah ini menunjukkan bahwa dia pasti bukan salah seorang di antara para sahabat besar?

Apapun polemik yang berkembang berkenaan dengan kisah inspiratif si ahli surga, harus diakui bahwa hal itu ternyata sepenuhnya sesuai dengan kriteria orang-orang bertakwa sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam  Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.” Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang bersemayam dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan…” (QS. al-Hijr: 45-48).

 

AJ-EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *