Satu Islam Untuk Semua

Thursday, 04 February 2016

KHAS – Serial Hikayat Si Bahlul (1)


madrasah-si-bahlul

Pengantar Redaksi: Muslimin di berbagai negara tak asing dengan nama ‘Si Bahlul’. Tapi hanya sedikit yang mengenal cerita utuh pribadi yang kerap jadi inspirasi dalam soal kecerdasan dan kejenakaan. Per hari ini redaksi menurunkan kisahnya, yang merujuk pada buku “Silsilatu Hikayati Bahlul” karya Amal Thinanah.

* * *

Madrasah Si Bahlul

Seseorang berjalan di salah satu jalan di sebuah negeri bernama Baghdad (Ibukota Irak sekarang). Ia mengenakan pakaian lusuh. Tangannya menggelayuti sebuah tongkat sebagai penopang jalannya.

Rasa sakit mengiris hatinya, kesedihan menyelimuti kemarahannya, ia terekam di pelupuk matanya yang dibasahi air mata. Pertanyaan besar menggelayuti pikirannya, “Apa yang mungkin ia lakukan untuk menyelamatkan kaum muslimin dari penindasan dan kezaliman sang Khalifah yang merupakan kerabatnya sendiri, Harun Al-Rasyid beserta pendukungnya?”

Dia memahami alasan gurunya, Musa Al-Kazhim, yang menasihatinya agar berlaku seperti orang gila. Tujuannya adalah menjaga dirinya dari kejahatan Harun. Dia seorang yang senantiasa mendengarkan dan mematuhi nasihat gurunya. Dia tetap berusaha menyembunyikan cita-cita agung di dalam lubuk hatinya untuk menjadi martir di jalan agama Muhammad saw dan menegakkan panji-panji Islam.

Namun demikian dia kembali tersenyum riang saat mengingat ajaran Keluarga Nabi Muhammad saw. Di antaranya ialah mengatakan kebenaran di hadapan seorang pemimpin yang lalim di hadapan Allah swt bernilai sama dengan berjuang mengangkat senjata.

Suatu kali Si Bahlul dengan heran memperhatikan sejumlah pemuda dari berbagai penjuru menuju ke sebuah tempat yang sama. Dia menyadari bahwa di salah satu daerah di Baghdad, tinggal seorang guru besar yang sangat terkenal. Rumahnya menjadi salah satu madrasah bagi para pecinta ilmu di Baghdad kala itu.

Si Bahlul sendiri tidak pernah berguru kepadanya. Hanya saja terlintas dalam benak Si Bahlul untuk menghadiri majelis ilmunya. Dia senang untuk mendengar dan memperhatikan pelajaran dalam majelis itu. Dia menyadari bahwa murid-murid sang guru semakin bertambah karena mengetahuinya sebagai seorang ulama yang paling mendalam ilmunya di Baghdad saat ini. Jadi, inilah kesempatan emas bagi Bahlul untuk belajar kepadanya.

Perlahan Si Bahlul melangkah bersama para murid-murid lainnya ke tengah-tengah majelis sang guru yang berwibawa lagi wicaksana. Melihat Si Bahlul hadir, murid-murid lainnya memberikan ruang untuknya, namun dia memilih untuk duduk di pintu keluar majelis. Murid-murid tertegun memperhatikan sang guru dengan seksama dan sungguh-sungguh.

Sang guru tidak menyadari kehadiran Si Bahlul seraya berkata, “Ketahuilah, mayoritas kaum muslimin meyakini bahwa Iblis akan disiksa dengan api neraka pada hari kiamat, namun aku menolaknya.”

Sang guru membaca kebingungan para muridnya yang tergambar pada wajah mereka. Salah satu murid yang cerdas segera bertanya kepada sang guru sambil berdiri, “Mengapa demikian wahai Guru?”   Sang guru terdiam sejenak dengan pertanyaan yang di luar dugaannya.

Namun dia segera menjawabnya untuk menyingkirkan kegundahan mereka, “Bukankah kalian tahu bahwa Iblis tercipta dari api? Kalian yakin bahwa neraka hanyalah berupa api yang membara. Jadi, bagaimana bisa api membakar sejenisnya?”   Kemudian sang guru kembali menatap wajah muridnya satu persatu sambil menerawang emosi mereka. Si Bahlul pun di antara mereka. Dia tidak bergeming tanpa menampakkan raut keraguan sedikit pun.

Sang guru menjadi tenang hatinya karena tidak ada yang berbicara sepatah kata. Dia pun melanjutkan pelajarannya seperti sedia kala. Dia berkata, “Persoalan lain yang aku tidak setuju adalah keyakinan sebagian besar kaum muslimin bahwa Allah tidak mungkin dilihat secara kasat mata. Bagaimana mungkin sesuatu yang berwujud namun tidak dapat dilihat?”   Sang guru kembali menatap wajah muridnya satu persatu dan semuanya yakin bahwa hal itu adalah persoalan yang aneh dan di luar kemampuan mereka dan mereka terpesona dengan kepandaian sang guru.

Tiba saatnya sang guru menyampaikan pendapatnya kembali seraya berkata, “Wahai manusia, mereka berkata bahwa Allah swt pencipta segala sesuatu, namun mereka meyakini bahwa manusia adalah pelaku yang memiliki ikhtiar dalam perbuatannya. Hal ini berarti adanya keterpaksaan sekaligus ikhtiar dan tentu saja mustahil dalam logika.”

Para murid semakin tercenung atas hal yang disampaikan oleh sang guru.

Semua terdiam selain satu di antaranya seraya bertanya, “Bagaimana pendapat anda wahai Guru?”

Sang guru pun memperbaiki sorbannya seraya berkata, “Pendapatku bertentangan dengan hal itu. Semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah swt dan manusia tidak memiliki ikhtiar atas perbuatannya.”

Tidak lama kemudian, tanpa diduga siapa pun, terjadilah sesuatu. Batu! Ya. Sebuah batu melayang dari arah hadirin dan menimpa kepala sang guru. Batu itu tepat mengenai di sorban sang guru dan mengucurkan darah segar dari kepalanya. Majelis pun gaduh dengan pencarian sumber batu itu. Si Bahlul!

Mengapa Si Bahlul melakukan hal itu terhadap seorang terpandang di kota Baghdad? Murid-murid riuh dan menunjuk marah ke arah Si Bahlul. Dia pun tenang menghadapi mereka sadar mereka tidak akan membalasnya karena dia salah satu kerabat Khalifah Harun Al-Rasyid.

Sang guru menekan kepalanya dengan tangannya untuk menghentikan pendarahan, gusar dan membentak Si Bahlul, “Aku akan mengadukanmu kepada Khalifah!”   Si Bahlul menjawab dengan tenang, “Aku ikut denganmu!”

Sang guru menatap tajam kepada Si Bahlul sambil berkata, “Bersaksilah atas peristiwa ini di hadapan Khalifah wahai murid-muridku!”

Dua orang ini pun berjalan menuju Khalifah. Sang guru berjalan tergesa-gesa sambil memegang kepalanya dan murid-muridnya di sekelilingnya. Sementara Si Bahlul berjalan dengan tenang dan wibawa seolah tidak menghiraukan peristiwa yang telah terjadi.

Tentu saja sang guru lebih dahulu tiba di hadapan Khalifah sehingga lebih leluasa menceritakan peristiwa yang terjadi kepadanya. Sang Khalifah pun tertegun mendengarkannya seolah tak percaya atas peristiwa itu mengingat kedudukan sang guru yang terpandang di kota Baghdad dan menjadi panutan banyak orang di sana.   Sang Khalifah pun berang atas perlakuan kerabatnya itu. Dia memerintahkan prajurit istana untuk menghadirkan Si Bahlul ke hadapannya.

Para prajurit  berlari seirama mencari Si Bahlul. Mereka pun menemuinya sedang berjalan sendiri menuju istana sang Khalifah.   Si Bahlul masuk ke dalam majelis sang Khalifah tanpa mengiraukan olok-olok hadirin. Khalifah Harun menghardiknya, “Wahai Bahlul, benarkah engkau yang telah melontar kepala tokoh agung ini dengan batu?”

Si Bahlul merapikan jubahnya sebagaimana yang biasa dilakukan oleh pejabat seraya berkata, “Tidak.. Aku tidak melakukannya!”   Sang Guru lepas kendali dan berteriak, “Apa?? Apa yang engkau katakan?” Sungguh engkau telah menzalimi diriku! Engkau tahu para hadirin menyaksikannya dengan mata kepala mereka!”

Si Bahlul dengan penuh ketenangan menjawabnya, “Engkau menuduhku telah berbuat zalim wahai guru? Karena itu, mohon katakan kepadaku kezaliman apakah yang aku lakukan atasmu?”

Sang Guru menjawab, “Engkau telah melontar kepalaku dengan batu! Rasa sakit yang aku alami tidak tertahankan.”

Tidak cukup sampai di situ. Sang Guru menoleh ke hadapan murid-muridnya seraya bertanya, “Bukankah kalian menyaksikannya? Tidakkah kalian melihat Si Bahlul melontar kepalaku dengan batu?” Si Bahlul menatap Sang Guru dan bertanya, “Engkau merasakan sakit? Dimanakah sakit itu? Mohon perlihatkan kepadaku!”

Sang Guru membentaknya, “Apakah rasa sakit dapat dilihat supaya aku dapat memperlihatkannya kepadamu?”

Si Bahlul tersenyum dan merasa rencananya berhasil. Dia berkata, “Hahaha… Rasa sakit tidak berwujud kalau begitu. Engkau telah berdusta atas yang anda katakan. Sesungguhnya engkau berkata dalam majelismu bahwa sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh sesuatu berarti tidak berwujud.”

Si Bahlul menoleh ke arah murid-murid sang Guru, “Wahai tuan-tuan, sesungguhnya batu tidak mungkin menimpa kepala guru kalian! Manusia berasal dari tanah, dan batu pun berasal dari tanah. Demi Allah, mana mungkin tanah menyakiti tanah?”

Sang Guru tersadar dengan pernyataan Si Bahlul tersebut.

Si Bahlul yang dituduh gila telah membungkam diskusi tentang persoalan aqidah.

Sambil menyingkirkan debu dari jubahnya Si Bahlul berkata kepada sang Khalifah, “Sang guru meyakini bahwa manusia tidaklah memiliki pilihan atas perbuatannya. Jadi, tidak seorang pun dapat menyalahkanku atas perbuatanku terhadapnya karena menurut pendapatnya aku tidak memiliki ikhtiar atas tindakanku.”

Harun pun terperanjat dan seolah membuat darah Sang Guru membeku. Sementara para muridnya berkumpul di satu titik sambil memandangi guru mereka dengan penuh keraguan dan tidak lagi mempercayainya.

Si Bahlul keluar dari majelis tersebut meninggalkan Sang Guru yang penuh rasa sesal dan bersalah di hadapan Khalifah. Dia tidak mengetahui bahwa dia telah menuliskan kisahnya dalam lembaran sejarah dengan tinta darahnya.[]

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *