Satu Islam Untuk Semua

Wednesday, 25 May 2016

KHAS—Menguak Misteri Kematian Syekh Siti Jenar (Tamat)


Siti Jenar

IslamIndonesia.id—Menguak Misteri Kematian Syekh Siti Jenar (Tamat)

Versi Keenam, mengacu pada Serat Seh Siti Jenar gubahan Ki Sosrowidjojo, yang kemudian disebarluaskan kembali oleh Abdul Munir Mulkan (t.t), disebutkan bahwa Syekh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh Wali Songo. Pada saat hukuman harus dilaksanakan, para anggota Wali Songo mendatangi Syekh Siti Jenar untuk melaksanakan eksekusi. Akan tetapi kemudian para anggota Wali Songo tidak jadi melaksanakan hukuman tersebut, karena Syekh Siti Jenar justru memilih cara kematiannya sendiri, dengan memohon kepada Allah agar diwafatkan tanpa harus dihukum oleh pihak Sultan dan para Sunan, sekaligus Syekh Siti Jenar menempuh jalan kematiannya sendiri, yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Sofwan (2000: 215-217) mengutip Suluk Walingsanga (sebagaimana juga yang terdapat dalam Serat Seh Siti Jenar dalam berbagai versi) yang di dalamnya terdapat cerita yang mengisahkan bahwa kematian Syekh Siti Jenar berawal dari perdebatan yang terjadi antara Syekh Siti Jenar dengan dua orang utusan Sultan Demak, yakni Syekh Domba dan Pangeran Bayat sebagai utusan Sultan Fatah dan Majelis Wali Songo. Dua orang utusan ini diperintah Sultan atas persetujuan Majelis Wali Songo untuk mengadakan tukar pikiran dengan Syekh Siti Jenar atau lebih tepatnya menginvestigasi mengenai ajaran yang dia sampaikan kepada murid-muridnya.

Disinyalir bahwa ajaran yang telah disampaikan oleh Syekh Siti Jenar menyebabkan terganggunya stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayah Demak. Hal ini disebabkan ulah para muridnya yang berbuat kegaduhan, merampok, berkelahi, bahkan membunuh. Bila ada kejahatan atau keonaran, tentu murid Syekh Siti Jenar yang menjadi pelakunya. Ketika pengawal kerajaan menangkap mereka, maka mereka bunuh diri di dalam penjara. Bila dikorek keterangan dari mereka, dengan angkuh mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid Syekh Siti Jenar yang telah banyak mengenyam ilmu makrifat, dan selalu siap mati bertemu Tuhan.

Mereka beranggapan bahwa hidup sekadar menjalani mati, oleh karena itu mereka merasa jenuh menyaksikan bangkai bernyawa bertebaran di atasnya. Dunia ini hanya dipenuhi oleh mayat, maka mereka lebih memilih meninggalkan dunia ini. Mereka juga mengejek, mengapa orang mati diajari shalat, menyembah dan mengagungkan nama-Nya, padahal di dunia ini orang tidak pernah melihat Tuhan.

Berkenaan dengan pemahaman yang demikian ini, maka Syekh Domba dan Pangeran Bayat diutus oleh Sultan Demak untuk menemui Syekh Siti Jenar. Dalam pertemuan itu terjadi perdebatan antara utusan Sultan dengan Syekh Siti Jenar. Dalam perdebatan itu, terlihat bahwa kemahiran Syekh Siti Jenar berada di atas Syekh Domba dan Pangeran Bayat. Pada akhirnya, Syekh Domba merasa kagum atas uraian dan kedalaman ilmu Syekh Siti Jenar, bahkan dia bisa menyetujui kebenarannya. Dia ingin menjadi muridnya secara tulus, kalau saja tidak dicegah oleh Pangeran Bayat.

Selanjutnya, kedua utusan itu kembali ke Demak melaporkan apa yang telah mereka saksikan tentang ajaran Syekh Siti Jenar. Setelah berunding dengan Majelis Wali Songo, Sultan kemudian mengutus lima orang Wali untuk memanggil Syekh Siti Jenar ke istana guna mempertanggungjawabkan ajarannya. Kelima utusan itu adalah Sunan Kalijaga, Sunan Ngudung, Pangeran Modang, Sunan Geseng, dan Sunan Bonang sebagai pemimpin utusan itu. Mereka diikuti oleh empat puluh orang santri lengkap dengan persenjataannya untuk memaksa Syekh Siti Jenar datang ke istana. Sesampainya di kediaman Syekh Siti Jenar, kelima Wali tersebut terlibat perdebatan sengit. Perdebatan itu berakhir dengan ancaman Sunan Kalijaga. Sekalipun mendapatkan ancaman dari Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar tetap tidak bersedia datang ke istana karena menurutnya Wali dan raja tidak berbeda dengan dirinya, sama-sama terbalut darah dan daging yang akan menjadi bangkai. Lalu dia memilih mati. Mati bukan karena ancaman yang ada, tetapi karena kehendak diri sendiri. Syekh Siti Jenar kemudian berkonsentrasi, menutup jalan hidupnya dan kemudian meninggal dunia.

Berbeda dengan enam versi sebelumnya, versi Ketujuh menceritakan bahwa terdapat dua orang tokoh utama, yang memiliki nama asli yang berdekatan dengan nama kecil Syekh Siti Jenar, San Ali. Tokoh yang satu adalah Hasan Ali, nama Islam Pangeran Anggaraksa, anak Rsi Bungsi yang semula berambisi menguasai Cirebon, namun kemudian terusir dari Keraton, karena kedurhakaan kepada Rsi Bungsi dan pemberontakannya kepada Cirebon. Ia menaruh dendam kepada Syekh Siti Jenar yang berhasil menjadi seorang guru suci utama di Giri Amparan Jati. Tokoh yang satunya lagi adalah San Ali Anshar al-Isfahani dari Persia, yang semua merupakan teman seperguruan dengan Syekh Siti Jenar di Baghdad. Namun ia menyinpan dendam pribadi kepada Syekh Siti Jenar karena kalah dalam hal ilmu dan kerohanian.

Ketika usia Syekh Siti Jenar sudah uzur, dua tokoh ini sepakat bekerja sama untuk berkeliling ke berbagai pelosok tanah Jawa, ke tempat-tempat yang penduduknya menyatakan diri sebagai pengikut Syekh Siti Jenar, padahal mereka belum pernah bertemu dengan Syekh Siti Jenar. Sehingga masyarakat tersebut kurang mengenal sosok asli Syekh Siti Jenar. Pada tempat-tempat seperti itulah, dua tokoh pemalsu ajaran Syekh Siti Jenar itu memainkan perannya, mengajarkan berbagai ajaran mistik, bahkan perdukunan yang menggeser ajaran tauhid Islam.

Hasan Ali mengaku dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, dan San Ali Anshar mengaku dirinya sebagai Syekh Siti Jenar. Hasan Ali beroperasi di Jawa bagian Barat, sementara San Ali Anshar di Jawa Bagian Timur. Kedua orang inilah yang sebenarnya telah dihukum mati oleh anggota Wali Songo, karena sudah melancarkan berbagai fitnah keji terhadap Syekh Siti Jenar sebagai guru dan anggota Wali Songo.

Kemungkinan karena silang sengkarut kemiripan nama itulah, maka dalam berbagai Serat dan Babad di daerah Jawa, cerita tentang Syekh Siti Jenar menjadi simpang siur. Namun pada aspek yang lain, ranah politik juga ikut memberikan andil pendiskreditan nama Syekh Siti Jenar. Karena naiknya Raden Fatah ke tampuk kekuasaan Kesultanan Demak, diwarnai dengan intrik perebutan tahta kekuasaan Majapahit yang sudah runtuh, sehingga segala intrik bisa terjadi dan menjadi “halal” untuk dilakukan, termasuk dengan mempolitisasi ajaran Syekh Siti Jenar yang memiliki dukungan massa banyak, namun tidak menggabungkan diri dalam ranah kekuasaan Raden Fatah.

Akhirnya, menilik begitu banyaknya versi kematian Syekh Siti Jenar, manakah di antara ketujuh versi kematian ini yang dapat dipegang kebenarannya? Tentu masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjawabnya. Tapi setidaknya, kita menjadi sedikit paham bagaimana situasi dan kondisi yang melingkupi kehidupan Syekh Siti Jenar pada masa itu. Masa yang seperti digambarkan secara cerdas oleh Sunan Kalijaga dalam lakon wayangnya, sebagai masa kelam merebaknya fitnah terhadap para ulama yang baik, khususnya para Wali Songo, bahkan tak terkecuali diri Sunan Kalijaga sendiri yang disebut-sebut sebagai algojo pembunuh Syekh Siti Jenar. Yaitu fitnah yang dilakukan oleh para ulama buruk yang gemar menjilat penguasa ketika itu.

Mereka inilah yang kemudian gemar menghembuskan kabar bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati oleh Dewan Wali Songo di masjid Demak, dan mayatnya berubah menjadi anjing kudisan, dan dimakamkan di bawah mihrab pengimaman masjid. Suatu hal yang sangat mustahil terjadi dalam konteks hukum dan etika Islam, namun kerap dianggap sebagai sebuah kebenaran atas nama kemukjizatan oleh masyarakat awam.

Keberadaan para ulama “penjilat” penguasa, yang untuk memenuhi ambisi duniawinya bersedia menebar fitnah terhadap sesama ulama, dan untuk selalu dekat dengan penguasa bahkan bersedia menyatakan bahwa suatu ajaran kebenaran sebagai sebuah kesesatan dan makar, karena menabrak kepentingan penguasa itu sebenarnya sudah digambarkan oleh para ulama terdahulu. Kepada ulama dengan tabiat buruk inilah Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ “Ulum al-Din menyebutnya sebagai al-‘ulama’ al-su’ atau ulama yang jelek dan kotor.

Sementara karena gerah melihat tingkah laku para ulama pada zaman Demak, terkait dengan bobroknya moral dan akhlak penguasa, di samping fitnah keji yang ditujukan kepada sesama ulama, namun beda pendapat dan kepentingan, maka Sunan Kalijaga membuatkan deskripsi tentang keberadaan al-‘ulama’ al-su’ itu secara lebih halus. Sesuai dengan profesinya sebagai budayawan, utamanya sebagai dalang, Sunan Kalijaga menggambarkan kelakuan para ulama ambisius politik dan memiliki karakter jelek itu sebagai tokoh Sang Yamadipati yang berarti Dewa Pencabut Nyawa dan Pendeta Durna yang artinya ulama munafik bermuka dua.

Kedua tokoh tersebut dalam serial pewayangan model Sunan Kalijaga digambarkan sebagai ulama yang memakai pakaian kebesaran ulama; memakai surban, destar, jubah, sepatu, biji tasbih dan pedang.

Penyematan karakter seperti itu kemungkinan adalah salah satu cara Sunan Kalijaga dalam mencatatkan sejarah bangsanya, yang terhina dan teraniaya akibat tindakan para ulama jahat yang mengkhianati citra keulamaannya, dengan menjadikan diri sebagai Sang Yamadipati, mencabut nyawa manusia yang dianggapnya berbeda pandangan dengan dirinya atau dengan penguasa, kepada siapa sang ulama mengabdikan dirinya.

Mungkin juga hal tersebut merupakan cara Sunan Kalijaga melukiskan suasana batin bangsanya yang sudah mencitrakan pakaian keulamaan dan dalil-dalil keagamaan tak lebih sebagai atribut Sang Pencabut Nyawa. Atas nama agama, atas nama pembelaan terhadap Tuhan, dan karena dalil-dalil mentah, maka aliran serta pendapat yang berbeda harus ditumpas habis. Hal serupa yang pernah diramalkan sendiri oleh Syekh Siti Jenar, bahwa akibat tajamnya perbedaan mazhab atau aliran itulah, manusia bisa mengantarkan saudara seimannya ke altar kematian atau mezbah pembantaian. (Baca tulisan terkait Syekh Siti Jenar Ramalkan Mazhab jadi Berhala Baru, Tempat Seiman Disembelih)

Gambaran pendeta Durna adalah wujud dari rasa muak Sunan Kalijaga terhadap para ulama yang menjilat kepada kekuasaan, bahkan aktivitasnya digunakan untuk semata-mata membela kepentingan politik dan kekuasaan, menggunakan dalil keagamaan hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dengan mencelakakan banyak orang sebagai tumbalnya. Citra diri ulama yang ‘tukang’ hasut, penyebar fitnah, penggunjing, dan pengadu domba. Itulah yang dituangkan oleh Sunan Kalijaga dalam sosok Pendeta Durna. Seolah mengacu pada sosok-sosok ulama yang telah memfitnah diri Sunan Kalijaga sendiri sebagai salah seorang pembunuh Syekh Siti Jenar.

Sebagai generasi sekarang yang hidup terpaut waktu cukup lama dengan masa hidup Syekh Siti Jenar, kita semua, kaum Muslimin di Indonesia—tanpa bermaksud menafikan kebenaran semua versi kematian Syekh Siti Jenar di atas, tentu layak mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga; bahwa di setiap masa, tak terkecuali di masa kita sekarang, keberadaan para Yamadipati dan Pendeta Durna itu sama sekali tak dapat dipungkiri adanya. Semoga Allah senantiasa berkenan menjaga kita dari fitnah, makar dan kejahatan mereka. Agar kita tak mengalami nasib buruk serupa Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga.

Sumber:

Ternyata Syekh Siti Jenar Tidak Dieksekusi Wali Songo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *