Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 25 June 2016

Ibn Arabi: Orang yang Berkata-kata, Sebetulnya Tidak Tahu


graphic-of-people-with-speech-bubbles

IslamIndonesia.id — Ibn Arabi: Orang yang Berkata-kata, Sebetulnya Tidak Tahu

 

Berbeda dengan sebagian orang yang dengan mudah berbicara kebenaran agama, bagi Dr. Ammar Fauzi agama itu betul-betul misterius. Sedemikian sehingga ketika dihimpun, kata peneliti tasawuf ini, tidak ada defenisi yang kongkrit tentang apa itu agama.

“Kecuali kita merujuk pada fenomenologi – empiris, mungkin akan mudah,” katanya dalam sebuah seminar tentang Esoterisme Islam di Gedung Pasca-sarjana UGM (15/5).

Jika kita telisik sejarah agama-agama, sebagian muncul dari pengalaman-pengalaman pribadi. Sebagai orang awam tentunya ingin juga mengetahui apa yang didapat dari pengalaman pribadi orang-orang yang memperkenalkan ajaran atau agama itu.

“Sulit diterima (oleh banyak orang) karena misterius. Artinya, tidak bisa dijelaskan secara rasional,” katanya.

Pria yang juga mengajar Filsafat di UGM Yogykarta ini kemudian menggambarkan bagaimana kaum mistikus dalam tradisi Islam, seperti Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi, ketika ingin menjelaskan hakikat (misterius) yang mereka saksikan.

“Meraka hanya mengatakan bahwa ini ilmu Keadaaan (ilmu Ahwal).”

Keadaan sebagaimana keadaan emosi atau seperti mencicipi manisnya madu hingga pada tahap orang mengalami ekstasi dalam menghayati atau menikmati sesuatu yang empirik. Pengalaman empirik ini tidak bisa seratus persen diungkapkan dengan kata-kata, apalagi dijelaskan secara rasional (sesuai dengan kaidah-kaidah akal).

“Nah, ketika mereka menyingkap lebih tinggi lagi atau lebih “ke langit” lagi, (inilah) tingkatan di mana mereka menyebutnya sebagai ilmu Asrar (rahasia).”

Jika pengalaman pertama (ilmu Ahwal) tidak bisa diungkapkan kecuali secara metaforis, dalam tahap ini metode pengungkapan metaforis pun lumpuh. Tidak bisa berkata.

“Disebutkan oleh Ibn Arabi, seorang yang berkata-kata, sebetulnya dia tidak tahu. Dan orang yang tahu, sebetulnya tidak bisa berkata-kata. Artinya apa? Tidak ada yang bisa dibicarakan.”

Jika seseorang mengalami penyaksian dengan mata-hatinya dan kemudian mengklaim itu adalah ajaran agama tertentu, – karena misterius namun diungkapkan dengan kata-kata,- menurut Ibn Arabi, sebetulnya orang itu tidak tahu apa-apa.

“Namun, kita juga ada keinginan atau desakan untuk mengenal kira-kira apa sih yang dialami oleh orang itu.”

Di sisi lain, sebagaimana kata Ibn Arabi, orang itu pun tidak bisa berkata apa-apa. Ammar lalu menjelaskan, “Ini paradoksikal yang sering terjadi dalam pengalaman misterius. Mengapa misterius? karena yang ia jumpai adalah Yang Mutlak atau Yang Absolut. Mutlak itu (secara bahasa) berarti bebas. Bebas dari berbagai ketentuan, keterbatasan, sementara kita berada dalam keterbatasan.”

Di hadapan para peniliti, mahasiswa dan dosen yang hadir, Ammar kemudian melukiskan perjalanan menempuh dunia esoterik dalam Islam. Perjalanan ini umum dikenal dengan ‘safar’ atau perjalanan menuju Tuhan. Setelah menyaksikan yang paling tinggi, kemutlakan, maka dirinya juga ‘hilang’ (fana).

“Persis seperti kita bercermin. Kita akan bisa bercermin jika kita ‘menghilangkan’ cermin. Tapi kalau kita lihat cermin, maka kita tidak bisa melihat diri kita. Jadi gambar (diri kita) yang ada pada cermin hanya akan muncul jika kita menghilangkan cermin.  Namun jika kita pertahankan eksistensi kaca (cermin) maka kita tidak akan melihat gambar. Maka Tuhan pun akan muncul pada diri kita jika kita hilangkan diri kita sebagai cermin Tuhan.”

Pendekatan ini, kata Ammar, yang biasa dilakukan oleh kaum esoteris dalam Islam. Hanya persoalannya bagaimana kaum esoteris yang telah ‘menghilangkan’ dirinya (fana) hadir di dunia yang terbatas ini. Di dunia yang mau tidak mau serba tidak mutlak. Pria berkacamata ini tak lupa menegaskan bahwa (istilah) Al-Haq itu (hanya) merupakan perwakilan atau representasi Tuhan.

“Jadi Tuhan memperkenalkan atau kaum esoterisme memperkenalkan Tuhan dengan nama Al-Haq. Tapi sekali lagi ‘nama’, bukan esensi (zat). Karena esensi Tuhan tidak bisa dijangkau. Kita hanya bisa menjangkau nama atau bentuk sebagaimana kita bercermin.”[]

 

YS/Islam Indonesia

One response to “Ibn Arabi: Orang yang Berkata-kata, Sebetulnya Tidak Tahu”

  1. rohman suparman says:

    Ya Robb…andai sayap2 mahabbah ini tak mampu lg menjabgkau mihrobMu…mestikah aku takut terjatuh padahal ruang n waktu sesungguhnya milikMu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *