Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 12 April 2020

Apa yang Dimaksud dengan Ubudiyah? Inilah Penjelasan dari Ibnu Athaillah as-Sakandari


islamindonesia.id – Apa yang Dimaksud dengan Ubudiyah? Inilah Penjelasan dari Ibnu Athaillah as-Sakandari

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Kitab al-Hikam nomor hikmat ke-42, berkata:

Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu (yakni yang buruk dan rendah), yaitu semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekat kepada-Nya.

Sifat-sifat manusia yang berhubungan dengan faham agama terbagi dua: (1) Lahir, yaitu yang dilakukan dengan anggota jasmani, dan (2) Batin, yaitu yang berlaku dalam hati (rohani).

Sedang yang berhubungan dengan anggota lahir juga terbagi dua, yaitu (1) yang sesuai dengan perintah atau ketaatan, dan (2) yang menyalahi perintah yang disebut maksiat.

Demikian pula yang berhubungan dengan hati terbagi dua, yaitu (1) yang sesuai dengan hakikat (kebenaran), yaitu iman dan ilmu, dan (2) yang berlawanan dengan hakikat kebenaran, yaitu nifaq (menyembunyikan kekafiran dalam hatinya) dan kebodohan.

Sifat-sifat yang buruk (rendah) yaitu hasud, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok dan gila pangkat, sangat cinta pada dunia dan tamak, rakus, dan lain-lain sebagainya.

Dan dari sifat-sifat buruk ini akan timbul cabang-cabangnya yang berupa permusuhan, kebencian, merendah terhadap orang kaya, menghina orang miskin, mencari muka, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak tahu malu, dan lain-lain sebagainya.

Apabila seorang telah dapat mengusir dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka dia pasti akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan baik yang langsung dari ayat-ayat Alquran atau yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Dan dengan demikian berarti dia telah mendekat ke hadirat Tuhan.

Sifat ubudiyah (kehambaan) ialah patuh dan taat terhadap semua perintah dan larangan, dan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.

*Dikutip dari Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam, diterjemahkan dari bahasa Arab ke Indonesia oleh H. Salim Bahreisy (Balai Buku: Surabaya, 1980), hlm 42.

PH/IslamIndonesia/Foto utama: Google/Unknown

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *