Satu Islam Untuk Semua

Friday, 26 June 2015

Al-Ghazali: Tanda-tanda Cinta Allah 1


الإمام-أبو-حامد-الغزالي_علل-النفس-وادويتها

Banyak orang mengaku telah mencintai Allah, tapi masing-masing harus memeriksa diri sendiri berkenaan dengan kemurnian cintanya. Ujian pertama adalah apakah ia tidak membenci pikiran tentang mati? Karena tak ada seorang pun yang ketakutan ketika hendak bertemu dengan “teman”nya. Nabi saw. bersabda: “Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya.” Memang benar bahwa seorang pecinta Allah yang ikhlas mungkin saja takut mati sebelum ia menyelesaikan persiapannya, tapi jika ia ikhlas ia akan rajin dalam melakukan persiapan-persiapan itu.

Ujian keikhlasan yang kedua ialah seseorang mesti rela mengorbankan kehendaknya demi kehendak Allah; dia mesti berpegang erat-erat kepada apa yang membawanya lebih dekat kepada Allah; dan dia mesti menjauhkan diri dari tempat-tempat yang menyebabkannya menjauh dari Allah.

Kenyataan bahwa seseorang telah berbuat dosa bukanlah bukti bahwa dia tidak mencintai Allah sama sekali. Akan tetapi, dosa itu setidaknya membuktikan bahwa dia tidak mencintai-Nya dengan sepenuh hati. Wali Fudhail berkata pada seseorang: “Jika seseorang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, maka diamlah; karena jika engkau berkata: ‘Aku tidak mencintaiNya,’ maka engkau menjadi kafir; dan jika engkau berkata: ‘Ya, aku mencintai Allah,’ padahal perbuatan-perbuatanmu bertentangan dengan itu, maka engkau telah berdusta dengan nyata.”

Ujian yang ketiga adalah bahwa dzikrullah mesti secara otomatis terus tetap segar di dalam hati manusia. Jika seseorang memang mencintai Allah, maka dia akan terus mengingat-ingat-Nya; dan jika cintanya itu sempurna, maka dia tidak akan pernah melupakan-Nya. Meskipun demikian, memang mungkin terjadi bahwa sementara kecintaan kepada Allah tidak menempati urutan pertama di hati seseorang, kecintaan akan kecintaan kepada Allahlah yang berada di tempat itu, karena cinta adalah sesuatu dan kecintaan akan cinta adalah sesuatu yang lain.

Ujian yang keempat adalah bahwa dia akan mencintai al-Qur’an yang merupakan firman Allah – dan Muhammad Nabiyullah. Jika cintanya memang benar-benar kuat, dia akan mencintai semua manusia, karena mereka semua adalah hamba-hamba Allah. Malah cintanya akan melingkupi semua mahluk, karena orang yang mencintai seseorang akan mencintai karya-karya cipta dan buah tangannya.

MH/Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *