Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 28 May 2017

Tujuan Tasawuf dalam Islam


rumi sufi

islamindonesia.id – Tujuan Tasawuf dalam Islam

 

Tujuan utama dari tasawuf dalam Islam adalah memberikan orientasi orang-orang yang memiliki kesadaran kepada cahaya daya tarik Tuhan. Tujuan tasawuf positif bertujuan untuk menjadikan orang-orang yang sadar dan mawas diri berjalan menuju cahaya daya tarik Tuhan.

Namun, tasawuf tidak memusatkan perhatian untuk menginvestigasi alasan-alasan pembuktian dan dalil tentang Tuhan. Sebab, dari sudut pandang seluruh aliran tasawuf, terutama aliran tasawuf Islam, eksistensi Tuhan sudah jelas.

Alhasil, pembahasan-pembahasan tasawuf, baik itu spekulatif maupun praktis, menganggap persoalan dalil tentang Tuhan dan alasan-alasan terkait begitu sederhana (basit), sehingga tidak membutuhkan uraian dan penjelasan rinci. Inilah yang orang-orang awam mungkin maknai sebagai lagu dan tarian. Keduanya bisa berlangsung tanpa ada kata yang terucap.

Dalam sebuah buku tentang tasawuf, putra Jalaluddin Rumi mengatakan, “Pada suatu malam, Rumi sedang duduk ketika salah seorang filsuf masuk dan memberi salam. Rumi menjawabnya.

“Semalam aku banyak berkontemplasi,” kata Sang filsuf.

“Apa yang engkau pikirkan?” tanya Rumi.

“Tentang Tuhan,” jawab filsuf.

“Apa hasil kontemplasi tentang Tuhan?”

“Aku membuktikan – melalui nalar argumentatif – bahwa Tuhan itu eksis.”

“Pukul berapa engkau sampai pada pemikiran tersebut?” tanya Rumi.

“Ketika telah lewat seperempat malam.”

“Engkau benar. Semalam ketika telah lewat seperempatnya, Jibril turun kepadaku dan mewahyukan: ‘Tuhan menyampaikan salam kepadamu dan memintamu agar berterima kasih kepada orang yang telah dengan baik membuktikan eksistensi-Nya’. Jibril juga berkata; ‘Insya Allah, Dia akan segera mengirimkan kepada orang itu sesuatu yang berharga sebagai hadiah bagi apa yang telah dia lakukan untuk-Nya!’’.

Dari dialog di atas, tasawuf menegaskan eksistensi Tuhan yang melampaui pembuktian-Nya. Meskipun Zat Tuhan Yang Mahasuci tidak dapat dipahami atau tidak diindra bagi setiap orang.

Penegaskan ini juga banyak diafirmasi oleh sejumlah riwayat seperti, “Aku tidak melihat apapun kecuali Tuhan sebelumnya, sesudah dan bersama dengan ‘sudut pandang’ itu.”

Riwayat  yang dinisbatkan ke Ali Bin Abi Thalib memang cukup kontroversial bahkan tidak penting di mata masyarakat awam. Namun, bagi yang akrab dalam dunia kajian tasawuf, untuk menjawab persoalan ini tidaklah sulit. Sebab, apabila kandungan suatu riwayat sudah sesuai dengan Al-Qur’an, akal sehat, watak yang fitri dan sumber-sumber Islam lainnya, maka bagaimana mungkin orang dapat menganggap tidak penting riwayat itu.

Jika ingin dikaji lebih dalam ucapan yang dinisbatkan pada sepupu Nabi Muhammad Saw itu, pembaca bisa merujuk kajian atau tafsir sufi yang mebedah surat Al Nisa: 126, “Dan Allah meliputi segala sesuatu.”

Ayat ini juga dijelaskan secara detail oleh ayat lain seperti pada surat Fushhilat ayat 54. Demikian juga Surat Al Baqarah ayat 115, “Apapun arah yang kamu ambil, disitulah Wajah Allah.”

 

YS/ MTJ/ islamindonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *