Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 18 November 2018

Tudjimah: Intelektual-Ulama Perempuan Brilian Asal Yogya


Tudjimah Intelektual-Ulama Perempuan Brilian Asal Yogya

islamindonesia.id – Tudjimah: Intelektual-Ulama Perempuan Brilian Asal Yogya

 

Pernah dengar nama intelektual-ulama perempuan bernama Tudjimah?

Dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986 (Tim Majalah Berita Mingguan Tempo, 1986), kita mendapatkan secuil informasi tapi penting tentang Tudjimah. Dia lahir 7 Desember 1922 dari kalangan keluarga kelas menengah di Kota Gede, Yogyakarta. Tudjimah lahir dari seorang bapak bernama Haji Zaini, pengusaha pertenunan, dan ibu bernama Ny. Aminah ‘Uzair seorang pedagang.

Pendidikan keluarga mengasuhnya menjadi penghayat bahasa. Bahasa daerah, bahasa nasional dan beberapa bahasa dunia membentuk intelektualitasnya secara lintas disiplin ilmu. Keluarga dan kondisi sosial politik pada masanya memberi dukungan penuh perjalanan intelektualnya sampai tingkat tertinggi.

Tudjimah merampungkan sekolah dasar, menengah, atas dan tingkat sarjana di Yogyakarta. Tingkat dasar di Neutrale Hollands Javaanse Meisjes School (1935) lalu berlanjut ke MULO (1939), HIK Muhammadiyah (1942), dan lulus sarjana di Fakultas Sastra Timur UGM angkatan pertama (1950) bersama Slamet Moelyana, Koentjaraningrat, dan Soetjipto. Selama menjadi mahasiswa di UGM, Tudjimah mulai menderita rabun malam, tapi tidak menyurutkan tekadnya menjadi intelektual-ulama.

Karier akademik berlanjut ke Universitas Indonesia di Jakarta dengan menempuh studi sastra dengan konsentrasi Sastra Arab sampai tingkat doktor (1961). Tudjimah menulis disertasi berjudul Asrarul Insan fi Ma’rifatir Ruh war Rahman (Rahasia Manusia dalam Pengetahuannya tentang Roh dan Tuhan).

Di jeda kuliah master ke tingkat doktoral, Tudjimah juga sempat memutuskan kuliah ke Kairo tepatnya di School of Oriental Studies.

Lalu empat tahun kemudian, tepatnya pada 1965, untuk pengukuhan guru besarnya di Fakultas Sastra UI, Tudjimah menulis Al-Qur’an dan Ajaran-ajarannya, sebuah tafsir analitis terhadap beberapa tema Alquran (Howard M. Federspiel, 1996) yang kemudian diterbitkan Balai Pustaka.

Tudjimah mengakui, “Bahasa Arab memang bidang yang saya geluti sejak bocah”. Bahasa Arab yang diwariskan dari orangtua menyambung ke bahasa Arab keilmuan akademik dengan penuh kesadaran dan tafsir sejarah.

Tudjimah merasa perlu menekuni bahasa Arab karena dalam bahasa Arab bersemayam kelimpahan ilmu yang memberikan pengaruh pada keislaman di Indonesia. Bukunya tentang tafsir Alquran adalah pembuktian dirinya sebagai dosen mata kuliah Alquran dan Hadis di Jurusan Bahasa Semit UI.

Tudjimah juga mengajar sejarah Islam yang dibuktikan dengan beberapa karyanya yang berjudul Sedikit tentang Khawaridj (1962), Riwayat Hidup Nur al-Din al-Raniri (1976), Perkembangan Tasawuf di Indonesia (1976).

Tudjimah juga menerjemahkan biografi tokoh ulama-sastrawan Mesir Thaha Husain (Masa Muda di Mesir, 1976) dan karya sejarah Islam yang ditulis Indonesianis Belanda. Tidak tanggung, penerjemahan yang dilakoninya tidak hanya dari bahasa Arab tapi juga bahasa Belanda.

Karya terjemahan paling besar Tudjimah adalah buku Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, karya G.F. Pijper yang terbit pertama kali pada 1984 (UI-Press). Buku ini diterjemahkan dari bahasa Belanda dengan judul asli Studiën Over de Geschiedenis van de Islam in Indonesia 1900-1950.

Penerjemahan buku G.F. Pijper dibantu satu bab oleh Yessy Augusdin. Dalam kata pengantar, Tudjimah mengabarkan korespondensi dirinya dengan Pijper pada 1977 untuk ijin penerjemahan sekaligus memperkenalkan sepintas tentang Pijper khususnya dalam bidang kebahasaan yang ditekuninya.

Sebelum Pijper memulai kajiannya dalam bidang agama Islam dan sejarahnya, dia memulai karier intelektualitasnya di bidang teologi, sastra Timur seperti bahasa Semit terutama bahasa Arab yang juga ditekuni Tudjimah. Selain buku ini, Tudjimah secara mandiri menerjemahkan buku Pijper yang lain berjudul Fragmenta Islamica: Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX yang terbit pada 1987 (UI-Press).

Ketekunannya dalam bahasa dan sejarah Islam membuat Tudjimah terhormat di antara intelektual Muslim Indonesia yang masih dikuasai oleh laki-laki meski dia lahir dari lembaga pendidikan negeri. Pada 1981, Tudjimah kehilangan penglihatannya secara total. Tapi, tak menyusutkan aktivitas keilmuannya di kampus. Dia tetap mengajar, membimbing-menguji skripsi mahasiswa sekaligus menerjemahkan.

Pekerjaan akademik dibantu asisten atau mahasiswa yang bertugas membacakan untuknya. Penglihatan yang hilang tak memberikan kesan berbeda di hadapan publik kampus karena Tudjimah tetap melakoni keilmuan sebagaimana saat penglihatannya masih berfungsi sempurna.

Tudjimah sempat mencari alat canggih untuk membantunya menjadi pembaca sepanjang masa tanpa tahu huruf braille, opticon atau optacon nama bendanya, tapi harga sangat tidak terjangkau, “Tapi harganya amat mahal. Tiga juta rupiah! Mana saya punya uang?” begitu cerita Tudjimah dan dia tetap memilih mahasiswa dan asisten membantunya.

“Yang saya lakukan adalah mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang ini,” cerita Tudjimah perihal aktivitasnya pasca gangguan total penglihatan.

Kondisi ini mengingatkan pada biografi keilmuan Thaha Husain, intelektual-ulama Mesir yang karyanya diterjemahkan Tudjimah, dengan kebutaan total yang dialami sejak berumur dua tahun. Mata ragawi memang tak pernah mengerti betul rupa buku-buku, kitab suci yang berhasil dihafalnya pada masa bocah lalu ditafsirkannya dengan kritis bahkan kontroversial pada masa perjalanan akademiknya di Mesir, tapi Thaha yakin, hanya ilmu yang dapat memuliakan diri dan membuatnya mampu ‘melihat’ dunia.

Berkat ilmu pula, Thaha Husain berhasil lulus dari Universitas Al-Azhar dan meraih doktor dari Universitas Montpellier di Perancis. Demikian juga Profesor Tudjimah.

Dalam sejarah penerjemahan di Indonesia, Tudjimah masuk dalam kategori penerjemah keislaman modern sebagaimana kategori yang diajukan Johan Meuleman. Penerjemah modern hadir pada masa Perang Dunia II yang tidak hanya mengandalkan Timur Tengah sebagai standar ideal keilmuan tapi juga memperhitungkan kawasan lain seperti Asia Selatan, Eropa, dan Amerika Utara sebagai penjelas keislaman yang pantas diketahui publik Indonesia (Meuleman, 2009: 728).

Sekalipun sebelumnya Tudjimah menerjemahkan bahasa Arab, ada keilmuan yang dipertimbangkan secara ketat oleh Tudjimah. Dia fokus pada penerjemahan teks-teks yang menggagas pemikiran pembaharuan utamanya terkait kesusastraan dan metode sastra sebagaimana ditekuninya.

Sekarang kita pantas mengenang dengan takzim kepada intelektual-ulama perempuan ini. Pada masa tua, setelah shalat subuh, Tudjimah biasa menyiram bunga di halaman rumahnya. Tudjimah juga masih suka mendengarkan gamelan dan musik klasik ciptaan James Last dan Manthovani. Pada malam Minggu, dia sesekali mendengarkan wayang kulit semalam suntuk dari radio.

Menilik sederet reputasi dan prestasi intelektual-ulama perempuan seangkatan Slamet Moelyana dan Koentjaraningrat ini, tak berlebihan kiranya jika kita berharap bakal lahir Tudjimah-Tudjimah lain di Tanah Air di masa kini dan akan datang.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *