Satu Islam Untuk Semua

Friday, 23 March 2018

TOKOH – Subchan ZE, Intelektual NU yang Berani Melawan Kekuasaan


78091A7A-6BE5-49F3-9D7E-90CC65528918

Islamindonesia.id – TOKOH – Subchan ZE, Intelektual NU yang Berani Melawan Kekuasaan

 

 

Sosok politisi cum intelektual dari NU yang berani melawan kekuasaan. Namanya melejit setelah tragedi 1965.

 

Dalam sebuah kunjungan ke Yogyakarta sekitar 1965, Subchan ZE meninggalkan kesan yang sangat spesial bagi anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU). Subchan datang dengan membawa konsep ekonomi baru kepada sekumpulan anak-anak mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Yogyakarta. Umar Basalim, yang kala itu masih duduk sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, termasuk salah satu anak muda NU yang kagum terhadap pandangan ekonomi Subchan sebagai tandingan model pembangunan ekonomi ala “Mafia Bekeley” yang mulai didengungkan Widjojo Nitisastro cs. “Dia membawa konsep ekonomi alternatif. Waktu itu belum ada orang NU yang bisa berbicara ekonomi sefasih Subchan,” ujar Profesor Umar Basalim, bekas Rektor Universitas Nasional itu kepada Prioritas, Senin dua pekan lalu.

Subchan Zaenuri Ehsan dibesarkan di tengah keluarga santri kaya di Kudus. Dia diajarkan untuk tumbuh menjadi pengusaha besar. Di usia 14 tahun, Subchan sudah diserahi tugas memimpin pabrik rokok cap “Kucin” di Kudus milik ayah angkatnya H. Zaenuri Echsan, seorang pengusaha rokok kretek. Pengalaman mengelola perusahaan sejak kecil tersebut menjadi bekal Subchan berhasil menjadi pengusaha yang berhasil. Belakangan, sejak ia pindah ke Jakarta, Subchan sudah mengendalikan jejaring bisnis 28 perusahaan miliknya. Bahkan, Subchan dikabarkan memiliki pesawat pribadi. Ukuran yang jarang untuk konglomerat di zaman itu.

Sedari muda, Subchan telah memainkan peranan menonjol dalam lingkungan sosial sehingga menjelma jadi tokoh nasional yang disegani. Pada masa revolusi fisik, pria kelahiran Kepanjen, Malang Selatan, Jawa Timur, 29 Januari 1929 ini sudah tergabung dalam Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) di bawah pimpinan Bung Tomo. Pada tahun-tahun itu dia juga juga aktif dalam Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) dan kepanduan Hizbul Wathan. Anak keempat dari 13 bersaudara keluarga H. Rochlan Ismail dan Hj. Siti Masnichah ini mulai bergabung ke NU pada tahun 1950-an di lembaga pendidikan NU, Ma’arif, di Semarang. Dan, kemudian menjadi kepala sekolah menengah Islam di Semarang.

Meski meminati dunia pendidikan, Subchan sendiri tak punya gelar sarjana formal. Dia hanya sempat singgah sebentar belajar ekonomi di Universitas Gadjah Mada. Itu pun, hanya sebagai mahasiswa pendengar. Namun, menurut Umar Basalim yang pernah menjadi sekretaris politiknya 1967-1973, Subchan merupakan pembelajar otodidak. Selain itu, dia juga menguasai bahasa asing, khususnya Belanda dan Inggris. Karena kemampuan bahasanya itu, kata Basalaim, Subchan sempat memperoleh leadership grant selama setahun (1961-1962) untuk mengikuti Course Program Economic Development di University of California Los Angeles (UCLA), dari Pemerintah Amerika Serikat.

Masih kata Basalim, kepakaran Subchan dalam pemikiran ekonomi, karena disokong bahan bacaan ekonominya yang demikian banyak. Disamping itu dia rutin berlangganan Time, Newsweek, The Economist, serta jurnal-jurnal ekonomi dari Eropa Timur yang membuatnya tahu perkembangan ekonomi global mutakhir. Makanya, wajar jika Subchan sering diajak diskusi oleh ekonom semacam Emil Salim, Radius Prawiro, Yunus Yahya dan sebagainya. Ketika di awal Orde Baru, sekitar tahun 1966, dilakukan diskusi di Kampus UI Salemba dengan topik kebijakan ekonomi seperti apa yang seharusnya dijalankan pemerintah baru. Tampil sebagai pembicara Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana dan Subchan sendiri. Kedua ekonom lulusan Berkeley itu kelabakan menghadapi pemikiran ekonomi tanding yang dikemukakan Subchan. Saking takjubnya Mar’ie Muhammad, bekas Menteri Keuangan yang kala itu bertindak sebagai panitia penyelengara, lalu menyandangkan gelar “Zarjana Ekonomi” sebagai kepanjangan dari nama belakang Subchan “ZE”.

Selain piawai dalam berbagai diskusi dan seminar, Subchan dikenal sebagai sosok pembangkang yang berani. Misalnya saja, sebagai Senior Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (AFRASEC), 1960-1962, Subchan pernah menggemparkan publik dengan mengeluarkan delegasi Rusia dari persidangan di Kairo. Sepulangnya dari Kairo Subchan ditahan. Dikabarkan pula, suatu kali Subchan pernah bertemu Bung Karno. Proklamator itu lalu bertanya, “Chan, kamu itu dulu orang baik, tetapi sekarang menjadi nakal dan ikut-ikut demonstrasi.” Subchan kemudian menjawab, “Tidak, tidak, saya tidak ikut-ikut demonstrasi.” Tapi, Presiden Soekarno balik bertanya dengan nada lebih tegas,”Jelas kamu ikut demonstrasi.” “Tidak, tidak saya tidak ikut demonstrasi tapi saya yang memimpin demonstrasi,” ujar Subchan.

Dialog itu terjadi kala Soekarno masih di puncak kekuasaan, seperti terungkap dalam buku Subchan ZE : Sang Maestro Politisi Intelektual dari Kalangan NU Modern (Pustaka Indonesia Satu, 2001), yang disunting Arief Mudatsir Mandan. Kisah lainnya, perseteruan Subchan dengan orang nomer satu PKI, DN Aidit. Ketika di Parlemen, kala Aidit menjabat sebagai Wakil Ketua MPRS dan Subchan hanya anggota, Subchan menyatakan secara terbuka kepada Aidit bahwa “PKI ini terjangkit penyakit kekiri-kirian.” Makanya, tak heran jika Aidit sempat berseloroh kepada KH Idham Chalid, “Kalau sudah berhadapan dengan orang Kudus itu, wah saya kewalahan.”Orang Kudus yang dimaksud tak lain adalah Subchan.

Nama Subchan melejit sebagai tokoh nasional ketika Gerakan 30 September PKI meletus pada 1965. “Tokoh sipil terdepan pak Subchan. Boleh dibilang pada 1965 itu mirip sperti Gud Dur atau Amien Rais ketika memimpin gerakan Reformasi 1998,” kata tokoh NU, KH Salahuddin Wahid kepada Prioritas. Setelah kegagalan kup Untung itu, Subchan mempelopori pembentukan Ketua Aksi Pengganyangan Gestapu/PKI, yang merupakan gabungan dari tujuh partai politik, tiga organisasi masa dan 130 organisasi lainnya. Ketika masa transisi ke Orde Baru itu, menurut Gus Solah, panggilan akrab Salahuddin Wahid, anak-anak muda aktifis menjadi Subchan sebagai tokoh idolanya. Tak heran jika, rumah Subchan yang berada di Jalan Banyumas 4, Menteng, menjadi salah satu markas anak-anak muda untuk melawan komunis. Dari rumah ini disusun rencana aksi-aksi demonstrasi besar untuk menggoyang kekuasan pemimpin revolusi Bung Karno.

Ditunjuk sebagai Wakil Ketua MPRS mendampingi Jenderal AH Nasution sebagai Ketua MPRS, Subchan ikut menandatangani keputusan peralihan kekuasan dari Presiden Soekarno kepada Soeharto. Jatuhnya Soekarno itu karena sikap fraksi NU dalam Sidang Istimewa MPR, yang dibelakangnya ada Subchan, untuk meminta pertanggungjawaban Presiden Soekarno atas pemberontakan G 30 S/PKI. Namun, saham politik Subchan untuk tumbangnya Soekarno dan peralihan kekuasaan ke Orde Baru tak terlalu banyak dihiraukan penguasa baru. Hubungan mesra Subchan dengan Soeharto hanya bertahan lima tahun. Perlawanan Subchan kepada kekuasaan rezim Orde Baru, khususnya Soeharto, kata sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, mulai sangat keras ditandai dengan terbitnya “Buku Putih MPR” setelah pelantikan anggota DPR/MPR hasil pemilu 1971. Otak di belakang terbitnya buku itu tak lain adalah Subchan. Di situ dikatakan pemerintah Orde Baru tidak menegakkan demokrasi dan rule of law. “Buku Putih ini lalu dibakar militer,” ujar Asvi yang ditemui Prioritas di kantornya.

Dalam penilaian Asvi, dalam penyelenggaran Pemilu 1971, Partai NU menjadi korban dari kelompok militer yang jadi sokoguru rezim Orde Baru. Subchan pernah berkonfrontosi tajam dengan Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri, menyangkut Pemilu 1971. Subchan melawan Permen 12 Tahun 1969 yang dikeluarkan Ami Machmud, yang isinya semua pegawai negeri tidak boleh lagi berafiliasi dengan partai politik (yang akan ikut Pemilu 1971). Konsepnya saat itu namanya monoloyalitas di mana pegawai negeri hanya boleh loyal kepada organisasi KORPRI. Komentar Subchan ketika itu sangat keras, dia menyebut bahwa itu bukan general election tapi election for general! “Dia melakukan perlawanan kepada KORPRI yang menyatukan suara dari pegawai negeri untuk mendukung Golkar,” kata Asvi lagi.

Menurut Asvi, hingga kini yang masih menjadi misteri dari kehidupan Subchan adalah soal tragedi di balik kematiannya. Subchan meninggal dunia pada Minggu siang, 21 Januari 1973 di Tanah Suci Mekkah.
Akibat sebuah kecelakaan lalu lintas. Masih ada misteri yang menyelimuti kematiannya. Sebelumnya, Brian May, koresponden Kantor Berita Perancis Agence France-Presse (AFP) sempat mewawancarai Subchan ZE sebelum meninggal. Dalam wawancara itu Subchan mengungkap tentang bisnis Soeharto dengan Ibnu Sutoyo di Singapura setelah kepulangannya dari ibadah haji. Bisnis ini melibatkan seorang supir taxi bernama Robin Ong yang akhirnya jadi konglomerat. Entah sebuah kebetulan semata, saat musim haji di mana Subchan mengalami kecelakaan, Jenderal Amir Machmud juga tengah berada di Tanah Suci.”Ini tetap janggal karena tidak ada investigasi pemerintah untuk mengusut kematiannya,” Asvi menambahkan. Salman Nasution | Nova Anggita | Busthari Ariyanti.

 

 

 

 

 

 

YS/IslamIndonesia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *