Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 10 February 2018

Teladan Sabariah ‘Sister Sabria’ Hussein: Dermawan Sampai Pingsan


Teladan Sabariah 'Sister Sabria' Hussein Dermawan Sampai Pingsan

islamindonesia.id – Teladan Sabariah ‘Sister Sabria’ Hussein: Dermawan Sampai Pingsan

 

Sebagian orang berpikir bahwa dirinya terlebih dulu mesti kaya agar bisa berderma. Padahal untuk menjadi dermawan, kita tidak perlu harus punya segalanya untuk membantu orang lain.

Meski kekurangan harta atau memiliki tenaga terbatas, tetap saja bantuan yang kita berikan pasti bisa meringankan beban mereka yang membutuhkan.

Hal itulah yang selalu dijadikan prinsip oleh wanita Malaysia bernama Sabariah Hussein yang memasak untuk para tunawisma di Kanada.

Wanita 70 tahun yang lebih dikenal dengan panggilan Sister Sabria itu pernah viral di media sosial sebelumnya karena dedikasinya yang luar biasa di Montreal, Kanada.

Sister Sabria yang kelahiran Johor ini telah memasak untuk orang miskin dan tunawisma di delapan masjid dan dua gereja di sana selama tiga dekade.

Dia mengatakan bahwa kegiatan amalnya itu dimulai dengan membuat dan membagikan kue pastel. Namun karena banyak yang membutuhkan, usaha amal Sister Sabria semakin berkembang.

“Saya memulai pekerjaan amal sejak bermigrasi ke Kanada dengan membagikan kue pastel. Awalnya hanya sejumlah kecil masjid yang dekat dengan tempat tinggal saya,” kenang Sister Sabria.

Namun, langkah kecil itu akhirnya membuka matanya untuk memperluas pekerjaan amal saat melihat banyak orang yang membutuhkan pertolongannya.

Sister Sabria mengatakan bahwa dia pernah ‘tidur’ tiga hari berturut-turut saat membantu korban tsunami di Indonesia.

Saat itu, dia menyuruh suaminya untuk tidak membangunkannya karena ingin beristirahat. Menurut permintaannya, suaminya membiarkan Sister Sabria ‘tertidur’ selama tiga hari.

“Saya bertanya, kenapa tidak membangunkan saya untuk shalat, bukan untuk makan tapi shalat saja,” katanya.

Ternyata, waktu itu dia sebenarnya diserang stroke ringan. Itu diketahui setelah dia diserang untuk kedua kalinya setahun kemudian saat dokter menemukan ada gumpalan darah di otaknya.

Selain memasak untuk yang membutuhkan, Sister Sabria juga mengelola tempat penampungan wanita bernama Our Second Home (Rumah Kedua Kita) di rumahnya sendiri.

Pekerjaan amalnya itu dilakukan tanpa meminta balasan atau mendapat pujian. Tapi ada alasan kuat mengapa dia melakukannya.

“Apa yang saya lakukan ini semua karena Allah. Saya tidak pernah berniat untuk mendapatkan pujian. Saya ingin berbuat baik dan beramal. Tidak mencari nama atau menjadi terkenal,” katanya.

Selain itu, Sister Sabria ingin orang lain mengenal bahwa kaum Muslim adalah orang baik dan banyak memberi kontribusi kepada masyarakat.

Semoga kita mampu meneladani Sister Sabria dalam kehidupan kita di tengah masyarakat Indonesia.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *