Satu Islam Untuk Semua

Friday, 19 August 2016

SOROTAN—Inilah Ramalan Jitu Tiga Ulama Kasyaf tentang Kemerdekaan Indonesia


Inilah Ramalan Jitu Tiga Ulama Kasyaf tentang Kemerdekaan Indonesia

IslamIndonesia.id—Inilah Ramalan Jitu Tiga Ulama Kasyaf tentang Kemerdekaan Indonesia

 

Pernahkah kita menyangka bahwa kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, ternyata sudah diprediksi bakal diraih dengan sempurna, setidaknya oleh tiga orang ulama kasyaf yang ada di Tanah Air?

Bukan hanya itu saja—tak tanggung-tanggung, bahkan salah satu dari ketiga ulama tersebut justru sudah meramalkannya jauh-jauh hari, tepatnya 74 tahun sebelum Indonesia benar-benar memproklamasikan kemerdekaannya!

Adalah Zainul Milal Bizawie, yang dalam bukunya Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945, menuliskan kisah tentang ramalan jitu ketiga ulama tersebut.

Siapa saja mereka, dan seperti apa isi dari masing-masing ramalannya?

1.  KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M).

Kiai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyaf. Dengan ilmu yang dimilikinya, ulama yang biasa dipanggil Mbah Syakur ini membuat syair tentang prediksi akan datangnya tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah terlebih dahulu wafat.

Dalam syairnya, Mbah Syakur menulis:

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun ghisy-syisa*

Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia

Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.

Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban,

kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).

Kemudian pada bulan Ramadhan (17 Agustus 1945)

datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.

Dan pada bulan Syawal (September 1945),

penderitaan Nusantara semakin membaik. 

Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya

pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)

Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin

yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno),

seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

* Dengan hitungan hisabul jummmal, maka yang dimaksud ghisy-syisa dalam syair Mbah syakur di atas bertepatan dengan tahun 1361 H atau tahun 1942 M, yakni tahun awal kedatangan tentara Jepang ke Indonesia.

2. Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh.

Pada tahun 1288 H/1871 M, atau 74 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Syaikh Ibrahim sudah menyatakan:

Negeri di bawah angin (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu kerajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah.

Apa yang disampaikan oleh Syaikh Ibrahim seolah merupakan isyarat kepada masyarakat Aceh agar mereka menghormati proses perjuangan bangsa Indonesia hingga mampu meraih kemerdekaannya dengan sempurna.

3. KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah).

Seperti sudah umum diketahui, pada masanya, Mbah Chasbullah kerap melakukan riyadlah dan tirakat dalam mendukung tercapainya kemerdekaan dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalawat burdah selama sehari penuh. Sedangkan beliau sendiri memilih berdoa sekaligus melakukan riyadlah di rumahnya dengan penuh khusyuk.

Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah pun meninggalkan wasiat berupa tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk, Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullah memberikan pesan kepada salah seorang santrinya:

“Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon bukak tulisan nak menara, tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di Menara, tahun 1948.”

Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan kemudian Mbah Chasbullah pun wafat. Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada tahun 1948.

Proses pembukaan isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya.

Apa isi pesan beliau? Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan berbahasa Arab yang berbunyi “hurrun tammun”, yang artinya kemerdekaan yang sempurna. Dan benar saja, karena ternyata pada tahun 1948 itulah kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia, sementara tentara kita sudah berhasil memukul mundur dan menggagalkan agresi militer Belanda.

***

Itulah ketiga sosok ulama yang dengan ilmu kasyaf yang mereka miliki, ternyata juga turut andil dalam proses perjuangan bangsa Indonesia.

Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para ulama ini sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan benar-benar kita raih.

Semoga Allah SWT memberikan karunia kasih-sayang-Nya dan membalas semua amal perbuatan baik  para ulama tersebut dengan limpahan pahala yang berlipat ganda. Harus diakui, dengan caranya sendiri, mereka telah turut memberikan sumbangsih berharga bagi tercapainya kemerdekaan bangsa kita.

Di sisi lain, mudah-mudahan kita sebagai generasi penerus tetap dikaruniai oleh Allah kemampuan dan kekuatan untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.

 

 EH/IslamIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *