Satu Islam Untuk Semua

Saturday, 04 October 2014

‘Sekarang Engkau Ibrahim, Apa yang Menjadi Ismailmu?’


Dr. Ali Syariati

Siapa tak kenal Ali Syariati? Filsuf sekaligus Sosiolog Agama asal Iran ini sangat akrab di telinga pemikir terutama mahasiswa. Ide-idenya seputar revolusi, kemanusiaan, permasalahan sosial, bahkan agama sekalipun cukup terkenal karena gaya tulisannya yang mengajak orang untuk berpikir. 

Sejak kecil, Syariati menjadi penggemar sastra di bawah bimbingan ayahnya. Selepas SMA, ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Masyhad pada tahun 1955. Berkat prestasinya ia mendapat beasiswa melanjutkan studi ke Paris, Perancis. Di Paris inilah awal kisah yang menjadikannya Syariati yang kita kenal sekarang. Syariati berkenalan dengan karya-karya dan gagasan-gagasan baru yang mencerahkan serta mempengaruhi pandangan hidup dan wawasannya mengenai dunia. Dia mengikuti kuliah-kuliah para akademisi, filsuf, penyair, militan, dan membaca karya-karya mereka, terkadang bertukar pikiran dengan mereka, serta mengamati karya-karya seniman dan pemahat. Dari masin-masing mereka, Syariati mendapat sesuatu, dan kemudian mengaku berutang budi kepada mereka. Di sinilah Syariati berkenalan dengan banyak tokoh intelektual Barat, antara lain Louis Massignon yang begitu dihormatinya, Frantz Fanon, Jacques Berque, dan lain-lain. Meskipun begitu, pengabdian dan kecintaannya terhadap Islam tetap tidak tergantikan. Setelah mendapat ‘pencerahan’ dari pemikir barat, Syariati mencoba melihat dan mengekspos Islam dari sudut pandang yang jarang diungkap pada masa itu. Bukan seperti tafsiran ulama bersurban soal Islam, tapi pandangan aristokrat berdasi terhadap Islam. Tulisannya yang ringan dan bahasa yang tak bertele-tele membuatnya mudah diterima berbagai kalangan. Dan pada akhirnya pengaruh pemikiran revolusionernya mengantarkan Syariati pada hobinya, keluar-masuk penjara. Rezim Iran saat itu dibuat gerah oleh ide islam revolusionernya. Yang mengangkat tabir ‘kolot’ dari agama dan berhasil menyuntikannya pada nadi pejuang muda dan modern. Tidak cukup penjara, Syariati juga sempat diasingkan. Lepas pengasingan, ia kembali ke Iran dan menjadi salah satu pemantik revolusi islam. Dan pada pengasingannya yang terakhir, di London ia berpisah dari jasadnya. Sebelum berpisah, ia berpesan agar jasadnya dimakamkan di dekat Zainab, srikandi Karbala, yang juga sumber inspirasinya.

Meski sudah pensiun dari dunia yang fana ini, tapi suara Ali Syariati yang meneriakan Islam dengan bahasa modern dan faktual masih terdengar sampai hari ini. Semangatnya masih mengalir di tubuh kaum muda, dan akan terus mengalir. Bukan karena gelar doktor sosiologinya, bukan karena keahlian sastranya, bukan karena ia adalah Syariati, tapi karena objek pikirannya adalah esensi Islam yang tidak akan tergilas oleh zaman. Berikut adalah contoh tulisannya dalam buku “HAJI” yang mengangkat tema peristiwa Islam, namun dengan pandangan yang luas dan dalam sehingga pesannya masih dapat diterima oleh generasi manapun.

“Kini engkau akan berperan sebagai Ibrahim, ia membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan. Siapa atau apa yang menjadi “Ismailmu”? Jabatan, kehormatan, atau profesimukah? Uang, rumah, ladang pertanian, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, seni, pakaian, ataukah nama? Siapapun atau apapun, engkau harus membawanya untuk dikorbankan disini… Yang harus kau korbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan imanmu, yang menahanmu untuk melakukan “perjalanan”, yang membuatmu enggan untuk memikul tanggung jawab, yang menyebabkanmu bersikap egoistis, yang membuatmu tidak dapat mendengarkan pesan dan mengakui kebenaran dari Tuhan, yang membuatmu “melarikan diri” dari kebenaran, yang menyebabkanmu berkilah demi kesenangan, yang membuatmu buta dan tuli. Engkau berada di posisi Ibrahim, dan yang menjadi kelemahan Ibrahim adalah perasaan cintanya kepada Ismail… Bayangkanlah dirimu berada di puncak kehormatan, penuh dengan kebanggaan dan hanya ada “satu hal” yang demi hal itu engkau siap menyerahkan apa pun dan mengorbankan kecintaan lain demi meraih cinta-Nya. Itulah Ismailmu! Ismailmu bisa berwujud manusia, obyek, pangkat, jabatan, atau bahkan “kelemahan”. (Mengenai Qurban dalam bukunya, HAJI, oleh Dr. Ali Syariati)

(Muhammad/Berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *