Satu Islam Untuk Semua

Sunday, 30 December 2018

Safriansyah: Pendiri Pondok Baca Madrasah


Safriansyah Pendiri Pondok Baca Madrasah

islamindonesia.id – Safriansyah: Pendiri Pondok Baca Madrasah

 

Safriansah adalah Kepala Madrasah MIN 1 Kutai Kartanegara (Kukar) yang tak segan turun tangan langsung memajukan madrasahnya. Salah satunya dengan membangun sendiri Pondok Baca demi menggiatkan budaya literasi membaca.

“Saya menukangi sendiri pendirian bangunan ini agar madrasah semakin berkembang dalam segi pembelajaran dan budaya baca,” ucap Safriansah, yang kini berusia 52 tahun dan sudah memiliki tiga orang anak.

Menurutnya, ide awal pendirian Pondok Baca ini berasal dari Azhar, salah satu guru di sana yang juga Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.

Langkah awal Safriansah membangun Pondok Baca dimulai dengan membuat sendiri desain bangunannya. Setiap selesai jam sekolah, ia pulang kembali ke rumahnya untuk berganti baju seperti buruh kasar, pakai kaos atau baju lain yang tidak lagi memperlihatkan sebagai Kepala Madrasah.

Dibantu oleh sekuriti dan petugas kebersihan, dia memotong-motong bambu, menggergaji tripleks dan lain-lain, mewujudkan desain bangunan yang telah dibuatnya dari jam 2 siang sampai jam 5.30 sore.

Selama membangun, Safriansah tidak kekurangan bahan-bahan juga makanan dan minuman. Para guru ikut menyumbang secara sukarela tambahan biaya yang digunakan untuk membeli cat, paku, makanan dan minuman selama bekerja. Kepala Sekolah sendiri juga sukarela mengeluarkan sebagian uangnya untuk pembelian bahan-bahan.

“Agar bangunan ini menarik anak-anak, maka catnya harus berwarna-warni dan tempatnya musti dingin,” ujar Safriansah menerangkan desainnya.

Untuk menghasilkan cat yang berwarna-warni, dia membeli tiga warna cat yaitu merah, kuning, dan hijau, yang sebagian dioplos untuk menghasilkan warna baru.

Setelah dikerjakan kurang lebih empat hari, dua bangunan pondok baca pun akhirnya berdiri. Satu berbentuk-balai lesehan yang cukup menampung 20 anak, dan satunya berbentuk payung dengan beberapa tempat duduk.

Di luar dugaan, respons para murid sangat bagus setelah dibangun Pondok Baca. Safriansah menerangkan, siswa-siswa sampai berebut untuk membaca di sana, dan para guru juga sering duduk di situ menemani para murid membaca.

Dengan ramainya Pondok Baca yang telah dibangun, Safriansah pun berencana membuat tiga pondok lagi agar anak-anak tidak berebut saat memakainya. Dia juga memerintahkan para guru membuat pojok baca di masing-masing kelas yang diampu, sedangkan untuk buku-bukunya didapat dari sumbangan orang tua murid.

“Untuk pengadaan buku lebih lanjut, nanti saya juga minta siswa yang akan lulus menyumbangkan buku pada sekolah. Kalau ada 52 anak didik, setidaknya kita bisa dapatkan buku tambahan sejumlah itu,” imbuh Safriansyah.

Semangat dan inisiatif ini layak ditiru, tidak hanya oleh para pelaku di bidang pendidikan, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Dengan inovasi-inovasi yang diterapkan di dunia literasi, angka minat baca di Indonesia bisa ditingkatkan yang dapat berdampak positif ke banyak hal.

 

EH / Islam Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *